SURABAYA – Menikmati proses perlahan, menanggalkan segala keinstanan. Begitulah hal yang membunculkan kegembiraan di On Market Go Project Pottery Class kemarin (11/7). Ayu Larasati, ceramic artist yang menjadi pemateri, menjelaskan setiap tahap pembuatan barang – barang pecah belah. Mulai berupa tanah liat yang keras hingga menjadi bentuk – bentuk apik berwarna.
“kali ini kita menggunakan tanah liat stoneware. Ini berbeda dengan yang biasa digunakan untuk tembikar, tapi juga bukan porselen,” ujar pembuat keramik asal Jakarta tersebut. Tanah liat itu merupakan jenis lempung yang tidak mengalami perubahan bentuk ketika dibakar dengan suhu 900 derajat celcius selama enam jam.
Setidaknya ada tiga proses untuk membuat keramik. Yakni, pembentukan, pembakaran, dan pelapisan (coating). Workshop kali ini berfokus pada pemula. “Yang digunakan disini adalah teknik pinching. Ada dua tahap. Pertama membentuk dari tanah, lalu pewarnaan,” kata Ayu.
Keduanya sama – sama proses yang membutuhkan ketelatenan dan imajinasi. Mula – mula lempung dipadatkan dan dihaluskan menjadi sebuah bola. Bila dirasa cukup, dibuatlah lubang di tengah bulatan itu dengan cara menekannya. Barulah kemudian bola lempung di-pinching atau dijepit dari bawah keatas. “gerakannya harus ritmis dengan kesabaran. Diputar dan terus dipijit. Rasakan ketebalannya,” jelas lulusan Ontario Collage of Art and Design (OCAD University) Kanada itu.
Bagi para peserta yang kebanyakan baru mengikuti pembuatan keramik kali ini, proses membentuk tersebut begitu menantang. ”soalnya, apa yang kita bayangkan, eh ternyata belum tentu bisa membuatnya,” kata Dewi Anjasari, salah seorang peserta workshop.
Proses memijit dan menjepit harus sedemikian jeli. Ukuran, bentuk, ketebalan, dan keseimbangan harus dirasa – rasa sendiri. Itulah serunya. “melatih kesabaran dan surprise sama hasil karya kita sendiri,” imbuh Tri Darmadji, peserta lain.
SUMBER : JAWA POS, Minggu 12 Juli 2015

