
Pastikan Informasi Kesehatan dari Sumber yang Tepat
SURABAYA,Jawa Pos- Saat ini konsultasi kesehatan secara daring makin banyak dijumpai. Hal itu meminimalkan kunjungan atau antrean di fasilitas kesehatan (faskes). Jika dikaitkan dengan kondisi pada masa pandemi covid 19 sekarang, pasien memang diimbau untuk menunda kunjungan ke RS maupun klinik, kecuali ada kondisi kedaruratan.
Di sisi lain, ketika merasa sakit, orang sering langsung googling gejala yang dirasakan. Jika sumbernya tidak tepat, dikhawatirkan justru memunculkankan ”penyakit” lain. Novensia Wongpy SPsi MPsi, psikolog, mewanti-wanti hal tersebut. “sebenarnya wajar cari cari informasi, berarti kita akan apa yang terjadi pada fisik kita,” ucapnya. Namun, jangan sampai menelan mentah-mentah informasi tersebut. Apalagi, sampai memberikan diagnosis pada diri sendiri.
Jika sudah “termakan” informasi semacam itu, rasa cemas justru muncul. Cemas dan stres justru membuat imunitas menurun. “Malah akhirnya jadi ada resiko kena penyakit lain,” ujarnya. Untuk mendapatkan informasi yang tepat, pasien diarahkan untuk melakukan konsultasi online. Baik melalui aplikasi umum, layanan rumah sakit resmi, maupun ke dokter yang pernah menangani.
Salah satunya, Annisa Fitria. perempuan 25 tahun itu sempat mengalami pilek yang cukup mengganggu. “Waktu itu ingus seperti menggumpal di dalam. Pas aku googling, mengarah ke sinus,” Ucapnya. karena bingung obat apa yang harus dikonsumsi, Anisa lebih memilih untuk berkonsultasi online melalui aplikasi.
Saat melakukan konsultasi online, Anisa menjabarkan gejalanya dan temuannya di internet. Dokter yang berkomunikasi dengannya menyampaikan diagnosis sementara dan tetap mendorongnya untuk mengunjungi fakses jika gejala tidak berkurang.
“Aku sempet tanya juga, apa harus ke spesialis THT atau bahkan paru-paru? karena takut kan,” tuturnya. Namun, dokter menyatakan bahwa gejala gejala yang disampaikan Anisa lebih pas dengan alergi dingin atau radang hidung. Karena itu, Anisa cukup menemui dokter umum. Tak sedikit pula aplikasi yang menyediakan konsultasi virtual antara dokter dan pasien melalui video call.
Konsultasi online juga sudah dijelaskan Dr L. G. D. Anggita Dewi SpOT. Menurut dia, hal tersebut lebih aman bagi pasien dan dokter untuk meminimalkan kontak pada masa Pendemi. “Sudah biasa juga mereka kontrol nyeri sendi kronis, misalnya,” ujarnya. Pemeriksaan yang membutuhkan tindakan seperti suntik atau rawat luka bisa melampirkan foto dan gejala.
Anggi juga rutin mencontohkan kontrol rutin pada pasien pasien anak yang mengalami CETV. “Mereka akan perlu proses koreksi kondisi kaki, jadi rutin lapor,” jelasnya. Orang tua pasien bisa mengirimkan video dan foto sebagai laporan. Anggi lantas memberikan contoh contoh proses latihan yang bisa diikuti. (dya/c12/nor)
Sumber: Jawa Pos. 11 April 2020. Hal. 15
