Nama penyakit polio memang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, tahukah kita apa sebenarnya penyakit polio itu dan apa saja akibatnya? Mengapa pula bayi dan anak perlu memperoleh imunisasi polio?
Apa Kata Dokter ?
Kata “polio” merupakan sapaan akrab bagi penyakit poliom elitis, yaitu radang susunan saraf tulang belakang yang disebabkan infeksi virus polio. Virus yang terutama menjangkiti balita ini memasuki tubuh melalui saluran napas dan saluran cerna, dapat menyerang susunan saraf dan dikeluarkan kembali melalui saluran cerna. Oleh karena itu, penularannya terjadi melalui kontak dengan tinja yang mengandung virus.
Pada sebagian besar orang, masuknya virus polio ke dalam tubuh tidak menimbulkan gejala, tetapi orang-orang tersebut tetap mengeliarkan virus polio melalui tinja dan dengan demikian dapat menularkan virus kepada orang lain. Beberapa orang mengalami penyakit ringan yang tidak spesifik, mirip gejala flu atau diare ringan. Sebagian kecil mengalami gejala radang otak yang berlangsung selama beberapa hari, tetapi sembuh sempurna. Gejala yang paling ditakuti, kendati hanya terjadi pada kurang dari dua persen dari semua orang yang terinfeksi virus polio, adalah lumpuh layuh. Kelumpuhan biasanya terjadi pada satu anggota gerak, lebih sering pada kaki. Lima sampai sepuluh persen penderita dengan kelumpuhan juga mengalami kelumpuhan otot pernapasan yang dapat menyebabgkan kematian.
Di dunia, dalam 25 tahun terakhir jumlah kasus polio awcra dramatis, dari 350.000 kasus baru pada 1988 menjadi 416 kasus baru pada 2013. Penurunan angka kejadian polio ini tidak lain adalah berkat upaya global eradikasi polio melalui program imunisasi dan surveilans (pemantauan( ketat kejadian lumpuh layuh. Di Indonesia, program surveilaris dan imunisasi telah berhasil menurunkan jumlah kasus polio baru dari 800 kasus pada 1984 menjadi hanya satu kasus pada 1995. Untuk menyapu bersih polio dari bumi Indonesia, Pekan Imunisasi Nasional (PIN) diadakan pada 1995. 1996, 1997, dan 2002. Sayangnya, pada 2005, ditemukan kasus polio di Sukabumi, Jawa Barat, dengan virus yang terbawa dari Afrika dan Timun Tengah, disusul dengan penemuan beberapa kasus lain di pulau Sumatra daru Jawa. Pada 2006, ditemukan 305 kasus baru polio di Indonesia. Adanya satu saja anak yang menderita polio menjadi faktor rediko bagi semua anak di seluruh dunia untuk menderita polio. Oleh karena itu, pemerintah didukung WHO menjawab penemua kasus baru polio tersebut dengan mengadakan kembali tiga putaran PIN pada 2005 dan 2006.
Pencegahan polio dilakukan melalui peningkatan higiene guna mencegah penularan melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja yang mengandung virus, serta imunisasi polio untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap virus polio, yakni vaksin polio oran (OPV) dan vaksin polio injeksi (IPV). Vaksin polio oral diberikan dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan berisi virus polio yang telah dilemahkan, sedangkan IPV mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan. Menurut Jadwal Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 2014, imunasi polio diberikan pada usia 0, 2, 4, dan 6 bulan, diikuti imunisasi ulangan pada usia 18-24 bulan dan 5 tahun. Pemberian imunisasi sesuai jadwal penting untuk menjamin agar anak selalu memiliki kekebalan dan agar kekebalan yang terbentuk berlangsung seumur hidup. Namun, apabila karena suatu sebab anak terlambat atau melum mendapatkan imuniasi pada usia yang telah ditentukan. Imunisasi polio telah lama menjadi program pemerintah sehingga dapat diperoleh secatra Cuma-Cuma di puskesmas atau posyandu.
Sumber: Kompas.-15-Februari-2015.Hal_.33

