Memanggungkan Arsitektur Bali. Kompas. 31 Desember 2016.Hal.16

Bali memiliki khazanah arsitektur unik yang diwariskan turun-trmurun. Ditangan arsitek Popo Danes, ilmu rancang bangun tradisional itu dikembangkan dalam kemasan modern, terndi, dan ramah lingkungan. Karya-karyanya-terutama terkait fasilitas pariwisata-diapresisasi luas, termasuk di tingkat internasional.

Oleh ILHAM KHOIRI & COKORDA YUDISTIRA.

 

NAMA: Nyoman Popo Priyatna Danes.

LAHIR: Denpasar, 6 Februari 1964.

ISTRI: Ni Wayan Melati Blanca Danes (39).

PENDIDIKAN: Jurusan Arsitektur, Universitas Udayana, Bali, (belum tamat), S-2 kajian lingkungan binan etnik universitas udayana, Bali (belum tamat), Rotary group study exchange, Belanda, (April-Juni 1992).

PEKERJAAN: Arsitek, pendiri dan pemimpin Danes art, pendiri dan pemimpin Danes Art veranda (2002- sekarang).

ORGANISASI: Wakil Ketua indonesia Institute of Architects, Bali Chapter (2002-2008), direct of artmark Indonesia.

PENGHARGAAN: Juara 1 kompetisi arsitektur di bali art festival (1986), pengharagaan Arsitektur dari Indonesia Institute of Architects for Architectural Conversation (2002), Juara I ASEAN Energy Award for Tropical Building category (2004 dan 2008).

 

 

Sumba keren,” tulis Nyoman Popo Priyatna Danes 952)-begitu nama lengkapnya- dalam pesan singkatnya akhir novemberlalu. Saat itu, ia berkelana di sumba, Nusa Tenggara Timur, dan mengirimkan sjumlah foto pemandangan padang rumput, sawah, dan rumah penduduk.

Di Sumba, Popo tak lupa blusukan di alam terbuka dan bersentuhan langsung dengan geliat budaya lokal. Itu salah satu caranya untuk mencari inspirasi berkarya. Ia berharap, kawasan timur indonesia memiliki fasilitas akomodasi yang terencana baik dan mewakili unsur budaya lokalnya. Sebelumnya, pertengahan Juni lalu, kami ngobrol dengan Popo di Danes Art Veranda di Denpasar. Waktu itu, ia baru pulang dari mengurus proyek membangun resor di Goa dan Coorg, India. Ia juga membantu merancang rumah pesawat-copot 9knockdown0 di maladewa. Ia juga pernah menjadi konsultan di Zhejiang (China) dab Bangkok (Thailand).

Di Indonesia, karya Popo bisa ditemuai disejumlah kota, seperti di Bali, kepulauan Riau, Raja Ampat (Papua Barat), atau Sumba Barat. Di Bali, ia mengerjakan desain natura Resort and Spa di ubud, Gianyar. Popo memang banyak menangani bangunan terkait pariwisata, seperti hotel, resor, atau vila. Rancangannya berkarakter tropis, kental dengan budayalokal, ramah lingkungan, sekaligus modern.

Bagi Popo, budaya lokal atau estetika setempat merupakan identitas arsitektur. Imaji dari tempat yang didesain menjadi penanda dimana seorang berada. Meski mengacu khazanah lokal, arsitek perlu menggamit kenyamanan, gaya, dan fungsi. Khusu terkait bangunan di Bali, Popo ingin mempertahankan identitas budaya setempat, tetapi dengan takaran yang sesuai di setiap fungsi bangunannya. “ Dunia menganggap bali berhasil mengembangkan budaya lokal dalam pariwisata. Kita perlu menjaga Bali sebagai referensi dunia “ katanya.

Karya Popo pernah dipamerkan di Bentara Budaya Bali tahun 2011. Peneliti budaya Jean Couteau mengatakan, arsitek itu piawai memadukan teknik lokal, ruang interior modern, serta ruang luar yang teradaptasi pada kondidi lokal (Kompas, 14 Agustus 2011). Karakter semacam itu juga tercermin dirumah pribadi Popo di kawasan Padang galak, Kota Denpasar. Bangunan tiga lantai seluas sekitar 300 meter persegi di atas lahan 1.200 meter persegi tersebut terkesan sangat modern dari luar. Namun, begitu masuk kedalam, kental dengan suasana Bali, terutama di halaman belakang.

Pada bagian paling belakang terdapat merajan (tempat sembahyang keluarga) yang dilengkapi bale piasan (untuk persiapan ritual). Di depannya terdapat kolam. Di samping kolam, terhampar lahan terbuka yang dipenuhi rumput hijau. Kami berbincang diteras terbuka yang menghadap di halaman belakang yang asri itu. Popo sosok yang ramah, betah ngobrol. Sesekali, pria berkacamata bulat itu mengusap rambut putihnya yang agak panjang.

Ramah Lingkungan

Karya Popo dikenal ramah lingkungan. Kebetulan, ia banyak menangani proyek bangunan yang berada di pinggir laut, tebing, atau hutan. Ia berusaha merancang desain yang selaras dengan tantangan itu. “Saya sangat hati-hati, berusaha tidak menebang pohon atau mengubah kontur (tanah),” katanya. Material bangunan dipilih yang ramah lingkungan, seperti bahan daur ulang dan mengutamakan bahan lokal. Sebisa mungkin ia mengurangi pemakaian listrik dengan memaksimalkan energi alam, seperti cahaya dan sirkulasi udara. Air dikelola sebaik mungkin. Desain juga harus sesuai dengn iklim dan terhubung dengan lanskap.

Popo pernah menolak satu proyek di Ubud dan tabanan karena akan mengubah swah produktif menjadi bangunan. “ Saya tidak ingin ikut mengurangi lahan untuk menumbuhkan padi yang kita makan. Disitu ada jaringan air yang mrupakan amerta (anugrah kehidupan). Saya tak mau memotongnya,” katanya. Atas karya-karyanya yang mengacu pada lingkungan tropis, Popo memperoleh Juara 1 ASEAN Energy Award for Tropical Building category tahun 2004 dan 2008.

Merangkak dari bawah

Popo lahir dari keluarga yang kental dengan dunia arsitektur. Kakek buyutnya, Made Sukerata, adalah seorang undagi atau arsitek tradisional bali. Ayah Popo, Nyoman Danes, seorang pengembang perumahan. Nyoman sangat serius membangun rumah untuk keluarganya. Namun, setiap kali dibangun, rumah itu dibeli orang karena dinilai bagus. Itu terjadi berulang kali.

‘Jadi, sejak kecil, saya selalu melihat tukang-tukang bikin rumah,” kenng Popo. Saat remaja, ia punya tetangga baru, seorang arsitek dari jakarta, robi Sularto. Sering melihat tetangga itu menggambar, Popo kian tertarik dengan arsitektur. Kelas II SMA, Popo menjajal merancng bangunan rumah dibantu saudaranya yang mendalami teknik sipil. Popo mantap kuliah jurusan Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Udayana, Bali, sembari mengerjakan beberapa proyek bangunan. Saat lulus kuliah tahun 1991, ia memiliki perusahaan dengan tiga kaaryawan.

Bali yang dikunjungi orang-orang dari sejumlah negara, memberinya nilai lebih. “Dengan lahir sebagai orang Bali, saya seperti dapat password (kunci). Orang dari dunia mau kesini dan saya diterima dimana-mana,” katanya. Tahun 1992, Popo mengikuti Rotary group Study Exchange di Belanda. Setahun kemudian, ia diminta merancang satu restoran di HotelIntercontinental di Dubai. Ia bawa beberapa material lokal bali, seperti bambu, rotan, alang-alang.

‘Awalnya saya banyak gerogi, tetapi lancar,” katanya. Puas dengan kerja Popo, hotel di dubai itu kembali memintanya mendesain restoran yang diperluas tahun 1995. Popo mengembangkan perusahaannya menjadi berbadan hukum, CV popo danes lewat perusahaan inin, ia menangani banyak proyek, terutama terkait fasilitas bangunan pariwisata. Kini, ia membawahi 24 karyawan. Tak hanay untuk dirinya, Popo bersemangat menularkan ilmu kepada generasi muda. Ia ajak arsitek muda untuk bekerja atau magang dikantotnya. Tahun 2002, ia membangun Danes Art Veranda sebagai ruang pertemuan, pameran, pergelaran, dan diskusi. Setiap bulan, ada presentasi arsitek muda dibawah usia 30 tahun. ‘saya ingin bantu anak-anak muda untuk berkarier dibidang arsitektur,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas.-31-Desember-2016.Hal_.16