DALAM jumpa pers sebelum show, Biyan menjelaskan bahwa masa pandemi dua tahun ngan memberinya ruang waktu untuk berpikir. Dari dalam rumah dan perpustakaan, pikiran sang desainer mengawang jauh ke berbagai tempat di Nusantara dan dunia. “Dari buku-buku koleksi saya, saya coba menilik kembali apa yang bisa saya kembangkan dari fashion,” kata Biyan.
Hasil refleksi dan membacanya selama masa pandemi mengantar Biyan kembali pada kekayaan kain khas Indonesia. Sebuah hal yang senantiasa dia rindukan ketika dia lebih banyak berada di rumah. Kali ini perhatian desainer yang memulai karier pada 1984 itu tertuju pada kain tenun Sumba dan kain tampan khas Lampung.
Dalam pergelaran yang didukung oleh BNI itu, Biyan menggabungkan motif grafis khas tenun Sumba dan kain tampan dengan motif yang lebih modern dan urban. Misalnya, polkadot, stripes, dan ombre. Beberapa motif merupakan hasil daur ulang atau kreasi dari motif-motif koleksi sebelumnya. “Saya percaya bahwa selalu ada cara untuk bereksplorasi dengan motif etnik,” kata Biyan.
Di tengah perpaduan etnik dan eban, Biya tetap setia pada ciri khasnya. Yakni, motif floral yang elok. Kerinduan Biyan menghasilkan karya-yang tertahan selama pandemi- tertuang dalam motif aneka bunga dan dedaunan. Sebagian omamen floral tersebut diaplikasikan dalam bentuk print. Namun, ada juga yang berupa embellishment atau hiasan pada busana.
Embellishment memang menjadi penambah nilai craftsmanship koleksi Iliyan. Desainer yang mengangkat gaya busana feminin tersebut mengaplikasikan ornamen dalam bentuk bordir, manik manik, payet, dan kristal. Selain dirangkai hingga membentuk bunga, ada juga yang disusun abstrak atau membentuk pola etnik.
Untuk merayakan kembalinyu Biyan ke pergelaran tatap muka, sang desainer menampilkan palet warna yang beragam. Pergelaran diawali dengan palet warna earth-tone yang kalem seperti off white, nude, beige, dan terakota. Seolah menyimbolkan awal baru karya Biyan setelah masa terberat era pandemi.
Seiring berjalannya pergelaran, palet warna Biyan semakin menyala. Busana berwarna hijau zamrud, fuschia pink, hijau limau, kuning terang, dan biru menyemarakkan nunuay. Cocok dengan tren wama yang kerap muncul di koleksi spring summer, Juga, mencerminkan optimisme Biyan dalam berkarya setelah hampir tiga tahun absen show akibat pandemi.
Ciri khas Biyan juga tampak dari siluet dan cutting koleksi Renjana. Dia dikenal dengan siluet yung cenderung loose atau tak mengikuti bentuk tubuh. Siluet yang muncul, antara lain, oversized, A-line, straight cut, rectangle, dan relazed
Sebagian besar busana menonjolkan kepraktisan berpakaian. “Masa pandemi menyadarkan saya akan pentingnya kesederhanaan,” tambah sang desainer. Selain busana formal macam gaun, coat, dan setelan, Biyan juga merilis koleksi koleksi busana kasual dan resort uvar seperti summer dress, jaket, blus, braletne, dan cropped top.
Walaupun bersihaet longgar tampilan feminin tidak berkurang. Selain karena permainan motif floral dan wama-warna cerah, Biyan menggunakan bahan yang mempertegas kesan lembut dan anggun. Misalnya, renda, silk satin, tule, organza silk, katun, linen, dan tafeta.
Di akhir pergelaran, ketika para model berjalan beriringan, koleksi Biyan menjadi pengingat. Bahwasanya, semua rupa dan warna bisa berjalan bersama. Saling melengkapi, saling merayakan. Memberi semangat baru untuk terus berkarya, bahkan dalam situasi berat seperti pandemi. (c6/len)

