Mendaki gunung kian digemari kaum muda. Namun, bersamaan dengan tren itu, gunung menjadi kotor oleh sampah. Kondisi itu memicu Ragil Budi Wibowo (30) membentuk Trashbag Community, yang berjibaku membersihkan gunung dari aneka sampah, mulai dari botol plastik, tas, hingga alat kontrasepsi.
OLEH DWI BAYU RADIUS
Secretariat Trashbag Community di Jalan Pejaten Barat, Jakarta, akhir Januari lalu, gelap gulita. Ragil bergegas keluar bangunan itu untuk bergegas menekan kode listrik prabayar. “Maaf ,Ya, Saya lupa membeli paket listrik prabayar,” katanya sambil nyegir.
Setelah itu, tampaklah kondisi secretariat yang lebih mirip bedeng. Panjang bangunan hanya 5 meter dengan lebar 4 meter. Dinding bagian bawah bangunan itu berupa semen dan bata, sisanya terbuat dari tripleks bercat hijau kusam. Atap secretariat berupa asbes tanpa eternit.
Matras, gelang berisi kopi, dan piring kotor bergeletakan dilantai beralaskan terpal plastic tipis. Tak ada tempat tidur, meja dan kursi. Akses menuju secretariat hanya gang yang dimasuki mobil pun tak bisa. Jarak dari jalan raya sekitar 50 meter .
Namun, bangunan usang itu sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan semangat anggota Trashbag Community. Mereka rela berlelah-lelah memungut sampah di gunung, mengawasi, dan mengingatkan pendaki jika bersikap tak tertib. Semua dikerjakan tanpa bayaran sama sekali.
Kantong plastic sepanjang 50 sentimeter (cm) dan lebar 75 cm, serta tali rafia menjadi andalan. Mereka menjinjing kantong itu, menjunjung di atas kepala, bahkan menyeretnya sambil mendaki gunung. Sebagian dari mereka memungut sampah tanpa mengenakan sarung tangan. Macam-macam sampah ditemukan.
“Salah satu yang bikin saya sangat kaget, ada botol plastic buatan tahun 1987 yang ditemukan di gunung salak pada akhir tahun 2015,” kata Ragil. Sampah itu membuat Ragis miris, betapa limbah plastic membutuhkan waktu amat lama untuk terurai sehingga tahun produksinya masih bisa dibaca.
Sampah lain yang membuat Ragil geleng-geleng kepala adalah kondom bekas. Artinya, gunung tak lagi dianggap sebagai tempat kesantunan harus benar-benar dijaga. Barang-barang yang tertinggal, seperti dompet, powerbank, telepon seluler, dan tenda juga ditemukan.
“Ada juga tas yang isinya masih komplet. Kemungkinan, pemilik tas diseruduk babi hutan lalu terbirit-birit. Tasnya dia tinggal,” katanya.
Sejak Tahun 2011
Ragil mendirikan Trashbag community bersama Irvan Nugraha (40). Mereka berkenalan saat mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada 2009. Pada Oktober 2011, mereka mengobrol dan mencetuskan ide mendirikan komunitas itu. Awalnya, Ragil mengamati fenomena mendaki gunung yang kian digemari berbagai kalangan.
Film, Novel, dan acara peretualangan di televise memicu keinginan mereka untuk mendaki gunung. Sayangnya, antusiasme itu tak diimbangi edukasi memadai. “Mereka nonton atau membaca soal pendakian, lalu berpikir, wow, naik gunung itu keren. Tanpa berpikir panjang, mereka pergi,” katanya.
Imaji pendaki berupa pemuda tanggung dengan isi kantong pas-pasan telah bergeser. Kalangan berada, yang mampu membayar porter untuk membawa tas mereka, tak mau ketinggalan. Anak muda lantas berbondong-bondong mendaki dan sampah di gunung pun semakin menumpuk.
“Pertengahan Oktober 2011, saya mendaki Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Waktu tidur, saya benar-benar berbaring di atas hamparan sampah,” kata Ragil. Di puncak Merbabu, para pendaki berfoto dengan potret dari pinggang hingga kepala mereka karena di bawahnya sampah bertebaran.
RAGIL BUDI WIBOWO
Lahir : Jakarta 6 Januari 1987
Istri : Eva Nurpiyanti (33)
Pendidikan :
- Sekolah dasar Negeri 04 Kalibata, Jakarta
- Sekolah Menengah Pertama Negeri 41 Ragunan, Jakarta
- Sekolah Menengah Atas Negeri 55 Jakarta
- D-3 Jurusan Manajemen Informatika Bina Sarana Informatika Jakarta
Pecutan lain, yakni acara televisi mengenai perempuan Jerman yang mengampanyekan kebersihan di Danau Toba, Sumatera Utara. “Dia memulainya sendirian. Saya merasa tertampar. Alam memberikan keindahan, tetapi apa yang bisa saya berikan? Tekad saya bulat untuk membentuk Trashbag Community,”katanya.
Ragil menyebarkan ajakan membersihkan gunung melalui media social. Gunung Gede menjadi tujuan pertama dengan jumlah peserta sekitar 20 orang dari berbagai organisasi pencinta alam. Kegiatan itu, dilakukan pada 11 November 2011, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Trashbag Community.
Komunitas itu mengambil moto “Gunung Bukan Tempat Sampah”. Hingga saat ini, 41.00 orang terdaftar sebagai anggota Trashbag Community. “Itu yang terdaftar. Kalau jumlah total dengan anggota tidak terdaftar, ditaksir lebih dari 10.000 orang,” ucap Ragil.
50 Gunung
Operasi kebersihan telah dilakukan di sekitar 50 gunung. Berbagai bahaya mengintai di gunung sehingga anggota Trashbag Community tak jarang harus menyabung nyawa. Saat mendaki gunung Slamet di Jawa Tengah pada Agustus 2012, misalnya, sekonyong-konyong mereka sudah terkepung api.
“Gunung Slamet dibuka. Kami pikir aman dan mulai mendaki. Keesokan harinya, kebakaran terjadi. Besar sekali. Kami menuruni gunung dengan lari sekencang-kencangnya,” katanya. Di tepi jalur pendakian, api sudah berkobar-kobar. Munculnya korban dapat dicegah, tetapi kemalangan ternyata belum usai.
“Sampai di bawah, kami malah dituding menyebabkan kebakaran. Pahit, deh, kami harus siap dicaci. Tak boleh mengharapkan pujian,”kata Ragil.
Trashbag Community membuat anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) dan membentuk dewan pengurus pusat (DPP), daerah dan cabang. Sebanyak 15 pengurus daerah (DPD) atau tingkat provinsi sudah dibentuk. Sementara dengan pengurus cabang (DPC) atau tingkat kabupaten /kota sudah dibentuk di 28 daerah.
Jumlah pengurus DPP, DPD, dan DPC sekitar 500 orang. Ragil dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Trashbag Community sejak komunitas itu berdiri. Masa kepengurusan diganti setiap tiga tahun. Profesi pengurus dan anggota Trashbag Community bervariasi.
“Ada pengojek , buruh pabrik, wirausaha, pegawai bank, dan petugas pembersih sampah. Mahasiswa dan pelajar SMA (sekolah menengah atas)juga bergabung,” katanya. Ragil sendiri bekerja sebagai desainer dan penjual peralatan pendaki, serta membuka satu kedai makanan.
Komunitas itu medapatkan pemasukkan dengan menjual baju, kover tas untuk melindungi dari hujan, stiker, tempat tidur, dan pin. Pemasukkan yang lainnya adalah donasi dan pembayaran kartu anggota sebesar Rp.50.000 yang berlaku selama dua tahun. Anggaran digunakan terutama untuk membeli kantong plastik.
Ragil dan rekan-rekannya pun tak jarang masih harus merogoh kock untuk berbagai keperluan. Soal biaya mengontrak secretariat sebesar Rp. 9 juta per tahun, mislanya, mereka rela patungan untuk membayarnya tanpa mengambil dari kas.
“Kami kekurangan terus, tetapi Tuhan selalu membuka jalan. Mudah-mudahan itu karena apa yang sudah kami lakukan untuk alam,”katanya.
Sumber Kompas 4 Februari 2017 hal 16

