Rayakan 1 Abad Batik Peranakan Oey Soe Tjoen, UC Surabaya Gelar Festival Peranakan 2025
2 Maret 2025
SURYA.co.id | SURABAYA – Universitas Ciputra (UC) Surabaya menggelar Festival Peranakan 2025 sebagai bagian dari upaya melestarikan batik nasional.
Festival yang mengangkat tema ‘Peranakan: Masa Lalu, Masa Kini & Masa Depan’ ini menjadi ajang penting dalam memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Dalam rangkaian festival yang digelar pada Sabtu (1/3/2025), UC juga meluncurkan buku berjudul ‘Dari Pelangi untuk Semesta’, yang mendokumentasikan perjalanan batik peranakan dari rumah batik legendaris Oey Soe Tjoen.
Buku ini merupakan kolaborasi antara Widianti Widjaja (Oey Kim Lian), generasi ketiga keluarga Oey Soe Tjoen bersama Marini Yunita dan Dr Rani Prihatmanti, Direktur Ciputra Center for Heritage Studies (CCHS).
Rektor Universitas Ciputra, Ir Yohannes Somawiharja MSc, mengungkapkan Festival Peranakan 2025 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dapat berperan besar dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Indonesia.
Ia pun menyebut batik sebagai mahakarya bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Batik tidak sekadar kain bercorak indah, tetapi juga mencerminkan perjalanan sejarah dan identitas budaya kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Rumah Batik Oey Soe Tjoen telah menciptakan batik peranakan yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian, UC mengundang Oey Soe Tjoen untuk berbagi pengetahuan mengenai batik peranakan.
Ia menyampaikan harapannya agar lebih banyak pihak yang ikut melestarikan batik sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
“Kami ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia melalui pelestarian batik. Semakin banyak orang yang memahami nilai seni dan sejarah batik, semakin kuat pula upaya kita menjaga warisan ini,” tuturnya.
Dengan batik peranakan sebagai simbol keberagaman budaya, festival ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk tetap menjaga identitas dan kebanggaan bangsa.
Selain pameran batik, festival ini juga menghadirkan seminar budaya yang melibatkan akademisi, seniman, dan pencinta budaya.
Prof Dr Johannes Widodo dari National University of Singapore membahas asal-usul budaya Peranakan Tionghoa serta pengaruhnya dalam arsitektur.
“Budaya Peranakan adalah perpaduan unik antara tradisi Tionghoa dan lokal yang membentuk identitas khas, baik dalam busana, kuliner, maupun arsitektur,” jelasnya.
Widianti Widjaja, salah satu penulis buku sekaligus pewaris tradisi batik Oey Soe Tjoen, mengungkapkan bahwa pembuatan satu kain batik Oey Soe Tjoen bisa memakan waktu hingga lima tahun.
“Motif khas bunga dan kupu-kupu kami kerjakan dengan teknik bolak-balik serta pencelupan warna yang sangat detail. Ini adalah proses yang panjang dan penuh dedikasi,” ujarnya.
Ia berharap festival ini dapat menarik lebih banyak generasi muda untuk tertarik melanjutkan tradisi batik serta semakin menghargai batik sebagai salah satu identitas budaya bangsa.
“Semoga acara seperti ini bisa membuka mata generasi muda bahwa batik bukan sekadar kain, tetapi bagian dari sejarah dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” harapnya.

