Oleh: Syamsul Ashar (Yogyakarta), Merlinda Riska
Tak jauh dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, ada satu kedai yang sangat tersohor. Sederet orang terkenal pun tercatat sebagai pelanggannya. Mereka yang pernah datang seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Muhadjir Effendy, menteri Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir hingga artis Katon Bagaskara, Chico Jerikho dan Vicky Nitinegoro.
Kedai ini bernama Tengkleng Gajah. Eits, yang ditawarkan bukan dagin gajah lo. Yang dijual di kedai ini adalah masakan berbahan dasar kambing. Lokasi kedai sekitar 6,5 kilometer arah utara dari Bundaran UGM. Jika sudah di Jalan Kaliurang sekitar Km 9,3 Anda akan menemui Tengkleng Gajah. Lokasi kedai ini dikelilingi hamparan sawah dan kebun.
Kedai Tengkleng Gajah cukup luas. Bagian utama yang berukuran sekitar 900 meter persegi, bisa diisi lebih dari 100 pengunjung. Di sebelah Timur bangunan utama, ada bangunan memanjang dua lantai dari kayu. Bagian atas untuk lesehan. Sedang bagian bawah memakai kursi.
Begitu memasuki kedai ini, jangan harap ada pelayan kedai yang datang. Pelanggan perlu mencari-cari tempat yang kosong, lalu bergegas ke meja pemesanan yang berhadapan dengan meja kasir. Di situ pelanggan bisa langsung mengambil nota pesanan yang berisi daftar menu makanan dan minuman. Lalu serahkan menu ini ke bagian pemesanan. Dari situ, pelanggan akan antre melayani.
Saat KONTAN menyambangi kedai ini, sekitar pukul 1300 WIB. KONTAN baru bisa menikmati hidangan sekitar pukul 14.15 WIB. Bisa dibilang, kedai ini tidak pasa bagi yang sudah kelaparan. Apalagi jika datang pada jam makan siang. Waktu mengantre disaat itu bisa lebih dari sejam. Jadi ada baiknya, Anda yang datang ke sini sudah menyiapkan diri agar tidak kelaparan saat menanti pesanan.
Setelah pesanan tiba di meja, pelanggan harus jalan sendiri untuk mengambil piring, sendiri dan nasi yang ditempatkan tepat di tengan. Kelebihan di sini, porsi nasi tak dibatasi, pelanggan bisa menyendok nasi dengan porsi sesuai keinginan.
Minus prengus
Ciri khas sajian si kedai ini adalah potongan tulang kambing yang gede-gede, yang disajikan di satu piring cekung. Rupanya, potongan tulang kambing yang besar itulah yang menjadi inspirasi pemberian nama kedai Tengkleng Gajah. “Potongan tulangnya besar, ibarat gajah yang merupakan hewan paling besar,” ujar Maria, pengelola kedai ini.
Khusus tengkleng gajah yang reguler, rasanya memang segar. Namun minus rasa yang unik. Nah, kalau beruntung mendapat tulang berbentuk bulat, ada sensasi saat menyedot sumsum yang tersimpan di dalamnya.
Aroma rempah sangat terasa pada tengkleng kuah ini. Yang bikin selera makan bertambah adalah irisan cabai ijo segar yang bertaburan di atas kuah tengkleng. Irisan cabai ijo yang terasa pedas di lidah memperkaya kenikmatan rasa daging dan kuah yang segar.
Kalau berkunjung ke kedai ini, jangan lupa memesan tengkleng bakar. Masakan jenis ini sejatinya tak berbeda jauh dengan iga bakar yang disajikan oleh kedai lain. Yang membedakan adalah daging yang digunakan Tengkleng Gajah adalah daging kambing bukan sapi.
Rasa Tengkleng bakar lebih mantap dibandingkan tengkleng kuah. Daging yang menempel ditulang belulang juga gampang luruh saat kita lumat. Ada rasa lada hitam yang kuat dan baluran kecap manis yang membikin selera dan semangat mencecap makanan ini.
Menu lain yang layak dicoba adalah sate goreng. Sate goreng sebenaarnya memiliki rasa yang mirip dengan kambing guling pada umumnya. Bedanya kalau kambing guling dibakar di atas bara, sate goreng langsung di goreng. Ada rasa manis dari siraman kecap di sajian ini yang menjadi rasa khasnya.
Sate goreng ini tak cuma berisi daging tapi juga tulang rawan atau urat, hingga rasanya beda dengan sate yang umumnya kita kenal.
Banyak menu lain yang disajikan kedai ini, terutama yang berbahan dasar daging kambing. “Kami memang spesialisasi kambing, tidak menggunakan hewan lain,” jelas Maria.
Keistimewaan olahan berbagai daging kambing ini berasal dari pemilihan kambing yang masih muda yang usianya sekitar enam bulan. Setiap bagian kambing pun diolah dan dimasak secara berbeda.
Untuk daging sate misalnya, menggunakan daging yang lembut. Tulangan dipakai untuk tengkleng, sedang daging di bagian kepala dipakai untuk menu tongseng kepala.
Asyiknya, kendati menu di sini menggunakan daging kambing, tidak ada aroma prengus yang merebak. Tak heran, kedai ini bisa menjaring sekitar 100 pelanggan per hari. Dalam satu hari libur, Tengkleng Gajah bisa menghabiskan 80 kg daging kambing dan 500 kg tulang kambing.
Harga untuk sajian sate, tongseng dan tengkleng sama, yaitu Rp35.000 per porsi. Sedang nasi putih dijual Rp5000. Untuk menu gule dibanderol Rp15.000 per porsi dan nasi goreng kambing Rp20.000.
Minuman di sini pun beraneka macam, ada teh, es jeruk, kopi dan jus dengan kisaran harga Rp5000 –Rp12.000.
Tertarik untuk menjajal ? Kedai ini buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 21.00. Setiap tahun, kedai ini hanya tutup di hari pertama Idul Fitri.
Bagi pengunjung yang membawa kendaraan, tersedia lahan parkir di bagian samping dan belakang kedai. Areanya cukup luas karena bisa menampung lebih dari 40 mobil.
Buka Lagi di Bandung
Jika tak ada aral melintang, Tengkleng Gajah akan membuka cabang di Bandung, Jawa Barat. Maria, pengelola kedai, menuturkan, telah menemukan lokasi di Kota Kembang yang pas dan sesuai dengan pasar Tengkleng Gajah.
Ini merupakan cabang pertama dari Tengkleng Gajah yang sudah berdiri sejak awal tahun 2007. Namun baru di usianya yang kesepuluh tahun, sang pemilik kedai membuka cabang. “Sudah ada tempatnya. Disana, rencananya kami akan membuka Tengkleng Gajah yang memiliki konsep sama seperti di Yogyakarta. Warung makan sederhana, tidak berAC. Rencananya bisa dua bulan lagi buka,” ujar dia.
Menurut Maria pembukaan cabang baru di Bandung ini merupakan langkah ekspansi bisnis sang pemilik kedai, Hartono. Bandung menjadi pilihan karena banyak pembeli Tengkleng Gajah di Yogyakarta yang berasal dari ibukota Bandung. Suasana dan kebiasaan masyarakat Bandung dinilai Maria mirip dengan masyarakat Yogyakarta.
Sejatinya, sudah banyak tawaran yang menghampiri pemilik Tengkleng Gajah untuk bermitra membuka cabang di berbagai kota, seperti Makassar. Atau berbagai kota di Pulau Kalimantan, Sumatra, bahkan hingga Malaysia.
Namun, pemilik kedai masih enggan untuk bekerjasama dengan pihak ketiga. “Sekarang masih dikelola langsung oleh keluarga. Di Bandung pun yang mengelola masih keluarga. Agar cita rasa masakan sama dengan yang disajikan di Yogya,” ujar Maria.
Sumber: Tabloid Kontan. 8-14 Mei 2017. Hal 40

