Pare yang pahit dan bunga kecombrang yang cantik menjadi simbol kemuraman dalam kerusuhan Mei 1998. Bunga kecombrang yang diulek melambangkan perempuan Tionghoa yang kecantikannya diremukkan lewat kekerasan seksual. Ritual rujak pare sambal kecombrang diharapkan ‘mengangkat lagi diskusi tentang kejadian tersebut.
Pare, cabai, gula aren, garam, terasi, kecombrang, asam jawa, dan gula merah. Semua bahan tersebut tertata di meja di Corepreneur Universitas Ciputra Kamis (12/5). Pembuatan rujak pare
sambal kecombrang sebenarmya tak berbeda jauh dengan rujak ‘biasa. Namun, masakan itupunya makna yang mendalam. ” Pare yangdiiris tipis ini melambangkan kepahitan dan penderitaan,” kata Harjanto Salim, penggagas ritual rujak pare.
Ritual tersebut mulai diadakan pada 2018 di Semarang. Setelah tigatahun berselang ritual itukini
mulai dilakukan diSurabaya.”Di balik pemilihan makanan, saya melihatkebudayaan Tionghoa dan Jawa ini punya kesamaan dalam memperingati sesuatu,’ ujarnya.
Dalam sebuah peringatan, selalu ada makanan khas. la juga kaya simbol yang berkaitan dengan kejadian penting yang diperingati bersama. Itulah yang mengilhami Harjanto untuk melahirkan ritual rujak pare sambal kecombrang, Ritual yang selalu diadakan dengan membuat rujak bersama pada Mei setiap tahun.
Menjadikan makanan sebagai simbol memiliki keuntungan sendiri. la mudah menyebar
karena mudah ditiru di berbagai daerah. “Pare kanmurah, melimpahjuga. Jadi, harapannya,
makanannya juga menyebar dengan diskusi tentang makna di dalamnya,” tegas Harjanto.
Dalam budaya Jawa dan Tionghoa, makanan khas dan peringatan juga bertahan dalam waktuyang
lama. Bahkan, hingga ratusan tahun, warisan kebudayaan tetap terjaga. “Karena itu, saya punya
impian, saat ritual dilakukan, bisa ada pelaku yang mengakui kesalahan dan meminta maaf
nanti, tuturnya. Permintaan maaf itu bisa jadi obat bagi para korban.
Ita Fatia Nadia, seorang satu pendampingkorban dan aktivis, menyatakan bahwa kejadian
Mei 1998 banyak dibicarakan sebagai reformasi dan perjuangan pelengseran Orde Baru.”Memang
perjuangan mahasiswa tak mainmain. Tapi, kita perlu ingatkan bahwa ada kejadian kekerasan
seksual di dalamnya. Ada perempuan Tionghoa yang sudah terdiskriminasi dan mengalami
pemerkosaan,” paparnya.
Mengingat kejadian Mei 1998 tak hanya mengenang perjuangan yangberbuah reformasi. Namun,
beberapa aspek di dalamnya juga terlupakan. “Dan, kejadian kekerasan seksual ini takhanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di Medan, Palembang, dan Surabaya,” ungkapnya.
Perjuangan pendampingan terhadap korban terus dilakukan hingga saat ini. Karena itu, peringatan setiap tahun penting dihelat supaya ingatan kolektif tetap terjaga. “Kejadian ini perlu diangkat terus. Apalagi, generasi muda saatini tidak mengetahui langsung kejadian seperti ini,” tutur Dekan Entrepreneurship dan Humaniora UC Johan Hasan.
Dengan diadakannya ritual dan diskusi sebagai peringatan kekerasan seksual pada Mei 1998, kita turut belajar dari sejarah. “Mungkin ada yang berpikir, untuk apa diungkit lagi, seolah membuka luka lama bagi korban,” ujar Johan.
Padahal, peringatan ini menjadi pengakuan bahwa kekerasan memang terjadi. Diamenegaskan
bahwa tak mengakui adanya kekerasan seksual sama saja memvictim-isasi korban untuk kali kedua.
Johan ingin ritual rujak pare sambal kecombrang makin diperluas lagi tahun depan. “Saya dan Pak Harjanto mulai merencanakan Gerakan Rujak Pare supayalebih banyak daerah yang melakukannya. Apalagi, 2023 merupakan peringatan 25 tahun kejadian Mei 1998, jelasnya.
Harjanto menjelaskan, rujak pare sambal kecombrang bukan hanya makanan, tetapi juga cara
agarmakin banyak yang peduli terhadap kasus kekerasan seksual. “Untuk Mei 1998, kita tentu berharap makin banyak yang makan rujak pare. Ada daya tekan untuk pemerintah turut menyelesaikan,” tuturnya.
Namun, kita tak bisa hanya berfokus pada kasus yang telah lampau. Kasus kekerasan seksual juga terjadi disekitar kita. (*/c14/git)

