Rodo Cafe Sensasi Bersantai Di Pinggir Jalan. Surya.21 Maret 2015.Hal.10

SKALA REVIEW

RASA: 7/10

PELAYANAN: 7/10

PENYAJIAN: 8/10

SUASANA: 9/10

OVERALL:  8/10

ANDA PUNYA REKOMENDASI TMPAT KULINER UNTUK JADI SAJIAN HALAMAN CULINARY HARIAN SURYA? SILAKAN KIRIM KONTAK SI PEMILIK, ATAU BERUTAHU KAMI ALAMATNYA LEWAT SMS KE 085852438549

Berkuliner ria terkadang tak melulu soal makanan. Sometimes, suasana sebuah tempat kuliner bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk berkunjung.

Suasana (ambiance) menjadi salah satu hal terpenting di Rodo Cafe. Tempat bersantai di bilangan Klampis Surabaya itu, benar benar memperlihatkan suasana untuk memanjakan tamu yang berkunjung.

Memasuki kafe yang berada tepat di seberang Universitas Narotama Surabaya ini, seperti sedang berada di pinggir jalan. Pemilik kafe, Rodo M Nauli (30), memang mendesain interior kafe dengan konsep sidewalk.

“Saya mengambil konsep sidewalk ini dari yang biasa dipakai kafe-kafe jalanan diluar negeri,” kata Rodo kepada Surya.

Pernak-pernik untuk menggambarkan sebuah ‘kafe jalanan’ benar-benar dirancang secara sempurna. Kafe ini sejatinya menempati sebuah toko dua lantai.

Ketika memasuki kafe, seseorang seperti sedang berjalan di jalan raya. Rodo membuat sebuah jalan raya, dengan mengaspal jalan masuk kafe menuju tempat barista dan tangga ke lantai 2.

Sisi dalam bagian kiri kafe sebenarnya tembok. Rodo membuat kusen jendela besar gaya Victoria yang seolah seperti gerai display sebuah toko. Di sebelah jendela-jedela itu diberi meja, dengan dua kursi. Cocok bagi yang datang berpasangan dan butuh privasi.

Atmosfer sebuah jalanan juga diperkuat dengan aksen lampu jalanan yang berbentuk tiang-tiang. Gambaran itu mengingatkan adegan video klip ‘Breakfast At Tiffany’s’ dari band asal AS, Deep Blue Something.

Para anggota band sarapan di pinggir jalan New York, tepat di depan toko Tiffany & CQ, mirip dengan yang dilakukan aktris Audrey Hepburn dalam film dengan judul sama : Breakfast At Tiffany’s.

“Saya ingin membuat tamu yang datang ke sini seakan sedang makan dan santai-santai di sebuah kafe di pinggir jalan, meski sebenarnya mereka datang ke sebuah ruko,” sambungnya.

Kursi-kursi dibuat dari kayu limbah yang nyaman diduduki sambil bersandar, membuat betah berlama-lama bercengkrama dengan kawan-kawan.

Lantai 1 kafe ini dibuat smoking free. Tapi, jika ada yang terganggu dengan asap rokok bisa menempati ruang atas yang non-smoking free. Suasana di lantai 2 sikonsep seperti pub / bar. Susunan kursi dibuat agak banyak untuk melayani tamu yang datang rombongan.

Sisi utara lantai 2 terdapat tempat potong rambut khusus laki-laki (barber shop) milik hair stylist mudah, Yanus Putrada. Adanya barber shop ini, juga menjadi ciri unik kafe yang berdiri tiga tahun silam itu.

“Semula kami menarget pasar anak-anak muda. Sekarang kami tingkatkan untuk keluarga,” jelas Rodo. Isian menu seharga Rp 25.000.

Iga dan Pasta Jadi Unggulan

Menu meni di Rodo Cafe cukup layak menjadi teman bersantai. Setidaknya, ada dua menu unggulan, yaitu iga dan pasta. Iganya bersanding engan nasi goreng sementara pastanya dibuat dengan bumbu pedas.

“Kedua menu ini kami beri nama beef ribs fried rice dan oglio olio,” terang Marcomm Rodo Cafe, Sammy Joe kepada Surya.

Daging iga dibuat smoked agar terasa segar dan harum. Saus BBQ ditambahkan untuk memberikan rasa gurih smoked BBQ ribs.

Hanya saja, ketika Surya mencoba menu ini, iga yang disajikan masih berbalut sempurna dengan lemak sehingga daging iga yang seharusnya lembut dan langsung lepas dari tulang, ketika dipotong menjadi agak sulit diambil karena harus enyisir daging yang menempel pada lemak itu.

Untuk nasi goreng, agak istimewa, punya keharuman minyak wijen. Rasanya agak sedikit manis asam, menjadi lebih kaya ketika menyantapnya bersama daging iga yang berwarna cokelat keemasan.

“Harganya cukup terjangkau,Rp 35.000,” ujar Sammy.

Untuk menu pasta oglio olio, Sammy menerangkan, benar-benar nama menu tradisional pasta di Italia. Karakter pasta oglio olio ini adalah pedas. Asalnya, dari chili flake (cabai kering) yang dihaluskan.

Eiiit, jangan keburu takut menyantap pasta ini. Chef sekaligus manajer operasional Rodo Cafe, Felix Leon menuturkan, potongan daun thime dan basil berguna meredam pedasnya pasta.

Jika itu belum cukup, potongan filet ayam grill bersaus BBQ yang jadi aksen utama menu ini, bisa menjadi penawar pedas pasta dengan rasanya yang gurih.

“Selain pedas, kami juga tambahkan rempah untuk menutupi aroma cabai,” tandas Felix, yang menyebutkan isian menu seharga Rp25.000

NONGKRONG SAMBIL NGEMIL

Kalau tidak ingin makanan berat, Rodo Cafe menawarkan menu appetizer yang nendang. Menu appetizer unggulan adalah camilan khas Meksiko, quesadilla.

Di kafe ini, menunya berisi sayuran (selada, tomat, dan bawang bombay), dengan potongan dadu daging ayam. Isian dibalut kulit tortila yang lembut.

“Untuk menemani quesadilla, kami punya menu beverage taro hot yang berwarna ungu dan bubble gum. Untuk taro (semacam talas) kami buatmpanas yang menyehatkan,” papar Marcomm Rodo Cafe, Sammy Joe.

Untuk menarik pengunjung, Rodo Cafe sering menggelar kegiatan. Salah satunya Foodmosphere yang mengizinkan pengunjung berkompetisi memotret menu-menu pesanannya kemudian diunggah ke media sosial (medsos).

Pemenang kegiatan di Rodo Cafe berhak atas bonus tertentu ketika kembali mengunjungi kafe ini. Sekarang, medsos sangat penting artinya untuk mendekatkan dengan pelanggan.

“Bagi kami, medsos bisa menjadi sarana promosi efektif, yakni ketika pelanggan kami menggugah hal yang menyenangkan saat berkunjung ke kafe kami,” tambah Sammy.

Sumber : Surya, 21 Maret 2015, hlmn 10