Ronald A Harris (60) tengah menikmati libur Natal di rumah keluarga di Provo, Negara Bagian Utah, Amerika Serikat, saat menerima kabar dari ibu mertuanya tentang gempa dan tsunami besar di Aceh pada 26 Desember 2004 pagi tersebut. Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 pagi tersebut. Tsunami Aceh telah mengubah cara pandangnya tentang ilmu geologi dan mengubah jalan hidupnya.
OLEH AHMAD ARIF
Ron ternyata benar terjadi gempa besar di Sumatera, Indonesia, seperti yang kamu khawatirkan,” seru mertua melalui telepon.
Segera saja profesor geologi dari Universitas Brigham Young yang biasa di panggil dengan Ron atau Harris ini mencari informasi di televisi. Benar saja, gempa berkekuatan lebih dari M 9,2 mengguncang bawah laut Samudra Hindia. Gempa itu memicu tsunami yang menghancurkan Aceh.
“saya tak akan pernah lupa momen itu. Tiba-tiba saya merasakan tangan ini berlumuran darah,” kisah Harris, di temui di sela-sela survei utnuk mencari jejak paleotsunami atau tsunami tua di Bali, pertengahan Juli 2017 lalu.
“ Sebagai ilmuan saya merasa gagal menyampaikan peringatan yang seharusnya bisa menyelamatkan banyak nyawa.”
Pada tahun 2002 atau dua tahun sebelum bencana itu, Harris sebenarnya telah memublikasikan paper ilmiah tentang potensi gempa rasaksa yang bisa mengancam wilayah barat Sumatera. Paper yang di publikasikan di jurnal Universitas Brigham Young ditulis bersama mantan muridnya yang juga dosen Univeristas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Carolus Prasetyadi.
Dalam paper berjudul “Who’s Next? Assessing vulnerability to geophysical hazards in densely populated regions of indonesia” disebutkan bahwa zona kegempaan di indonesia yang paling berbahaya berada di daerah paling padat penduduk di bagian barat Sumatera. Sistem subduksi ini tidak mengalami gempa signifikasikan (seismicgap) semalam 130-150 tahun dan di khawatirkan bisa melepaskan gempa tiba-tiba dengan kekuatan lebih dari M 8.
Harris dan Prasetyadi juga memublikasikan tulisan ini dalam jurnal ilmiah Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran, selain menulis di koran lokal Yogyakarta. “ Kami hanya menyebut bagian barat Sumatera. Tetapi, jika kami melakukan penelitian lebih dalam, mungkin akan ketemu Aceh,” jelas Harris.
Seminggu setelah tsunami Aceh, sejumlah wartawan datang ke kampusnya untuk mewawancarai Harris. Di antara mereka ada yang bertanya, prediksi Harris soal tsunami yang tidak di pedulikan pihak terkait.
Harris langsung menyanggah “No, no… Bukan seperti itu. Mereka bukan tidak peduli, melainkan tidak tahu. Ini salah kita, slaah saya juga yang tidak cukup memperingatkan.”
Dia lalu meminta wawancara di hentikan karena tak sanggup lagi ebrkata-kata. Kepedihan dan rasa penyesalan menghantui hingga membuat jatuh sakit. “ Saya terpukul dan trauma. Sebagai ilmuwan, saya merasa tidak cukup berbuat untuk kemanusiaan,” katanya. “Tsunami Aceh telah mengubah cara pandang saya tentang ilmu geologi, bahkan telah mengubah jalan hidup saya.”
Titik balik
Harris mempelajari geologi Indonesia sejak 30 tahun lalu. Awalnya dia meneliti tumbukan lempeng di Alaska, Amerika Utara, untuk studi pada jenjang master di Universitas Alaska.
Ketika mengambil doktoral di University College London, dia menyadari bahwa di Indonesia seperti prototipe Alaska di masa lalu. Pergerakan aktif lempeng di indonesia saat ini seperti yang terjadi di Alaska 150 juta tahun lalu. Jadi, kalau mau belajar Alaska, harus ke Indonesia.
“tahun 1987, utnuk pertama kali saya ke Indonesia, mendarat di Kupang (Nusa Tenggara Timur) dari Darwin (Australia). Saat itu musim kemarau, suasana panas sekali. Namun, antrean di bandara ternayata panjang dan lama. Tiga jam menunggu saya ambruk, tahu-tahu sadara saya sudah di rumahsakit. Welcome to Indonesia,” kisah Harris.
Dia tertarik untuk mempelajari pergerakan tektonik aktif di Indonesia. “Tak ada negara lain seperti ini. Fokus saya saat itu geologi dan geofisika,” ucapnya.
Sejak tahun 1991 Harris bekerja sebagai geolog di United States Geological Survey (USGS). Sst itulah dia mulai mengumpulkan banyak data sejarah bencana geologi di indonesia dan menyadari banyaknya penduduk indonesia yang berada di bawah ancaman gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api.
Hingga pada 1997, dia mendapatkan beasiswa Fulbright untuk meneliti di Indonesia sekaligus menjadi profesor tamu di UPN pembangunan Veteran Yogyakarta. Harris mulai fokus pada kajian tentang mitigasi bencana alam dan menulis papper dengan tema itu, salah satunya yang kemudian diterbitkan pada tahun 2002 tentang bahaya gempa besar di barat Sumatera.
“Saat itu saya mengira sudah cukup dengan memublikasikan hasil penelitian di jurnal. Sebagai geolog, kami tidak menyadari pentingnya melibatkan disiplin lain, seperti bidang komunikasi, untuk menyampaikan hasil kajian kepada masyarakat. Saya tidak menyadari gap antara sains dan masyarakat di indonesia hingga gempa dan tsunami Aceh 2004,” tuturnya.
Setelah tsunami Aceh itu , Harris merasa menjadi orang yang berbeda.
“saya meras lebih punya koneksi dan punya tanggung jawab kepada manusia lain dibandingkan dengan sekadar sebagai geolog yang hanya meneliti batu,” ujar Harris.
Dia semakin intensif melakukan kajian ke banyak wilayah Indonesia dengan fokus utamanya dengan mencari deposit tsunami tua dan jejak gempa di masa lalu. Hampir tiap tahun dia ke Indonesia. “Dengan mengetahui jejak gempa bumi dan tsunami di masa lalu, kita bisa memrediksi kemungkinan keberulangannya di masa depan,” katanya.
Tak hanya mencapai deposit tsunami tuanya. Harris juga engedukasi ke sekolah-sekolah di daerah rawan bencana. Dibantu para mahasiswanya dan para akademis lain dari bidang ilmu sosial yang di ajaknya turut serta ke Indonesia. Kegiatan ini terutama di dukung oleh In Harm Way, sebuah organisasi nonprofit yang di dirikan Harris setelah tsunami di Aceh untuk melakukan edukasi kebencanaan.
Harris seperti menanggung beban tanggung jawab yang tak seharusnya di tanggung sendiri. Sebagai irang asing, dia sadar betul batas kemampuannya. Karena itu, dia seperti tak lelah mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk terlibat dalam kegiatan kesiapsiagaan. Di Bali, selain mempresentasikan hasil risetnya ke badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan anak-anak sekolah, dia juga mengajak penggiat budaya untuk terlibat.
“pendidikan bencana adalah kunci. Kita harus membawa pesan tentang kesiapsiagaan dan evakuasi mandiri ini menjadi viral. Di sini pentingnya keterlibatan banyak orang, terutama orang-orang setempat, ujarnya.
Sumber: Kompas, 1 Agustus 2017. Hal.16

