20 Januari 2016. Ronald Walla tentang Tantangan Industri Padat Karya_Atasi Dulu Masalah Produktivitas. Jawa Pos. 20 Januari 2016.Hal.1,3

Pengembangan industri padat karya tidak bisa lepas dari ironi pabrika tembakau. Digencet sana – sini. Namun, tetap menjadi pilar pada peta jalan industri nasional. SEBAGAI pebisnis yang bekecimpungan di industri padat karya, Presdien Direktur (Presdir) Wismilak Ronald Walla Menganggap tenaga kerja di Indonesia, papar pria yang hobi bersepeda itu, punya tantangan dala hal produkstivitas.

Perusahaan Keluarga Punya Peran Besar

Menurut dia, jika ingin ekonomi kuat dan Indonesia menjadi kekuatan besar dunia, daya beli masyarakat mesti dijaga. “Logikanya, kalau daya beli meningkat, kan gaji karyawan pasti naik. Kalau gaji karyawan naik, otomatis produktivitasnya harus ditingkatkan dong,” ujarnya.

Sumber daya manusia memang punya posisi yang penting dalam perussahaanya. Dulu, papar Ronald, staf yang mengurusi maslah sumber daya manusia (SDM) hanya lima orang. Sekarang sudah 30 orang. Meski tergolong tidak banyak, pertambahan jumlah staf di bidang SDM itu menunjukan keseriusan perushaan dalam memandang fungsi tenanga kerja.

Tantangan industri rokok memang tidak ringan. Tiap tahun digencat dengan tarif cukai yang tinggi. Banyak perushaan kecil dan menengah yang berguguran. PT Wismilak Inti Makmur Rbk termasuk yang bertahan.Wismilak, yang banayk memproduksi sigaret keretek tangan (SKT), mendapat untung dari market yang terus tumbuh.

“Kami punya strategi di SKT. Jadi, penjualannya tumbuh 20 sampai 40 persen tiap tahun,” katanya saat ditemui di kantor Wismilak di Surabaya. SKT mempunyai pasar yang bagus dan kuat di Jawa Barat. Meski SKT hanyalah salah satu di anatara jenis rokok yang diproduksi Wismilak, tingginya cukai rokok tetap membuat perusahaan mempertahankan produksi SKT.

Wismilak, menurut Ronaldtetap bertahan dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan juga tidak mengurangi jam kerja. Sebab, penjualan dan permintaan memang terus tumbuh.

Menurut Ronald, memang ada perusahaan rokok yang memilih efisiensi dalam hal jumlah karyawan. Namun, rata – rata tindakan tersbut dilakukan oleh perusahaan top leader di industri. “Kami kan di level small mediun. Jadi, ruang untuk terus berkembang tetap ada,” lanjutanya.

Industri rokok punya beberapa tantangan. Bagi Ronald, cukai yang tinggi sebenarnya tidak memberatkan industri rokok. Asal, pemerintahan mampu mengembalikan manfaat cukai tersebut keapda rakyat. Industri rokok sadar bahwa tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat cukup tinggi. Namun, tingginya cukai yang dibayrakan oleh ondustri rokok tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan pemerintah.

Misalnya dalam hal pembebasan lahan untuk investasi. Pembebasan lahan masih rumit dan berbelit – belit. Selain itu, perizinan cukup membingungkan perusahaan yang akan melakukan investasi. Meski regulasi sama, sering kali penerapan proses izin usaha bisa berbeda antara satu daerah dan daerah lain. “Misalnya, di Surabaya tidak boleh, di Sidoarjo boleh. Nah, pengusaha kan jadi bingung,” tambah pria yang pernah bekerja sambil kuliah di Virginia AS, tersebut.

Selain itu, pemerintah belum cukup membantu petani tembakau. Misalnya dalam hal infrastruktur, pengairan, pemupukan, dan cara panen. Ronald memaparkan, tembakau adalah tanaman yang rentan air. Biasanya, petani menanam tembakau pada April dan Mei, ketika musim hujan akan berakhir. Namun, dengan pemanasan global dan bencanaseperti El Nino, petani akhirnya asal tanam saja. “Tanam bibit saja bisa sampai lima kali. Berapa biayanya? Pasti mahal, kan,” katanya.

Akhirnya, produksi petani yang biasanyabisa sampai 50 ribu ton per tahun berkurang hingga 80 persen. Tu terjadi lantaran tembakau kena hujan, sementara petani tidak tahu cara yang tepat untuk mengatasi maslaah tersebut. Nah, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk mengatasi persoalan itu. Pemerintah harus mendukung hulu industri rokok dengan komunikasi, penyuluhan, dan pendampingan yang tepat.

Masalah lainnya adalah sikap petani yang tidak menjual hasil panen tembakaunya kepada pemberi bantuan, “Kami sering kasih bantuan bibit, pupuk, dan lain – lain kepada petani. Tapi, setelah panen, mereka jualnya ke siapa saja yang mau beli dengan harga tinggi,” tutur putra taipan Willy Walla tersebut.

Hal ini membuat industri rokok enggan membeli lahan sendiri untuk ditanami tembakau. Siatem beli putus pun kebanyakan menjadi solusi agar perushaan juga tidak merugi. Padahal, industri punya niat yang baik, yakni membantu dan mengedukasi petani tembakau.

Soal perekonomian Indonesia, menurut Ronald, salah satu kuncinya ada di erusahaan keluarga. Indonesia punya banyak perusahaan keluarga di berbagai sektor dengan pengaruh yang cukup besar pada laju perekonomian domestik. Dia mengatakan, perusahaan keluarga harus kuat dan solid di level top management.

Jika tidak, level manajemen di bawah akan rusak dan kinerja perusahaan bisa terpengaruh. Persoalaan yang sering ditemui di perusahaan keluarga adalah masalah pribadi keluarga yang akhirnya berimbas ke perusahaan. Misalnya, ketidakkompakan manajemen dan meninggalnya sosok keluarga yang menjadi top manajemen perusahaan.

Dari situ, top manajemen punya tantangan, bagaimana membangun perusahaan yang profesional di tengah masalah yang mendera. Jika semua perusahaan keluarga mampu tetap bersikap profesional dan bisa bangkit, multiplier effect –nya akan besar terhadap perekonomian Indonesia. “kalau perusahaan keluarga tidak stuck dan bangkit untuk maju, perusahaan keluarga itu akan sukses dan bisa menghidupi banyak karyawan. Ekonomi pun akan ikut bergerak,”tutur penerus Wismlika itu. (rin/c11/sof)

Sumber: Jawa-Pos.-20-Januari-2016.Hal_.13