Meski baru menjalani satu musim bersama Manchester City, Ruben Dias telah menunjukkan diri sebagai sosok di balik keberhasilan City membawa pulang trofi Liga Inggris musim ini. Dias menjadi “puzzle” pelengkap bagi Manajer City Pep Guardiola yang kehilangan sosok pemimpin di lini belakang setelah kepergian legenda “The Citizens”, Vincent Kompany, pada akhir musim 2018-2019.

Pada musim perdananya tampil di Liga Inggris, Dias (24) menjadi pemimpin daftar statistik City dalam urusan bertahan. Pemain kelahiran Amadora, wilayah satelit kota Lisabon, Portugal, ini mencatatkan blok, intersepsi, sapuan, dan sapuan sundulan terbanyak untuk City di Liga Inggris edisi 2020-2021.

Dari 30 penampilannya, Dias melakukan 20 blok, 33 intersepsi, 80 sapuan, serta 43 sapuan sundulan. Tidak hanya itu, Dias juga pemain dengan jumlah operan tertinggi di Liga Inggris musim ini. Ia mencatat total 2.566 operan dengan jumlah rata-rata 85,53 operan per laga.

Kemampuan itu menunjukkan kepiawaian Dias sebagai pemain bertahan modern yang berperan sebagai ball-playing defender. Dengan keunggulan jumlah kuantitas operan itu, Dias melampaui sejumlah pemain yang selama ini dikenal ahli mengoper di Liga Inggris, seperti rekan setimnya, Kevin De Bruyne, atau tiga gelandang “pelayan” terkemuka di liga tersengit di dunia itu, yaitu Jorginho, Bruno Fernandes, dan Jordan Henderson.

Satu hal yang membuat perjalanan debut Dias bersama City terasa nyaris sempurna ialah nihilnya blunder. Bahkan, untuk ukuran bek, Dias sangat minim melakukan pelanggaran. Hingga pekan ke-35 Liga Inggris, ia baru melakukan 19 pelanggaran dan dihukum tiga kartu kuning.

Alhasil, berkat kehadiran Dias, City menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di Liga Inggris dan Liga Champions Eropa pada musim ini. The Citizens baru kemasukan 26 gol di liga serta empat gol di Eropa.

Di luar kemampuan teknisnya sebagai bek, Dias juga dikenal memiliki jiwa kepemimpinan tinggi. Pemain kelahiran 14 Mei itu ditunjuk sebagai kapten Benfica, tim tersukses di Liga Portugal, pada musim keduanya bergabung dengan skuad senior, tepatnya pada musim 2018-2019. Kala itu, usianya baru menginjak 21 tahun.

Guardiola mengakui, Dias adalah pelengkap dari taktik City yang telah ia susun dalam empat musim terakhir. Bersama Dias, City akhirnya mampu kembali menjadi raja di Inggris, melalui trofi liga dan Piala Inggris, kemudian menembus laga final Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

“Dia bukan hanya pemain yang bermain bagus. Dia adalah pemain yang mampu membuat pemain lain di dalam tim tampil dengan performa terbaik. Ia berbicara, berkomunikasi, dan mengatakan kepada rekannya apa yang harus dilakukan dalam setiap penampilan selama 90 menit. Bagi saya, itu adalah hal yang sulit dilakukan. Itu menjadi alasan dia tidak tergantikan,” ujar Guardiola dilansir ESPN, April lalu.

Dipuji oleh manajernya tidak membuat Dias besar kepala. Sebaliknya, ia justru memuji Guardiola yang telah membantunya untuk meningkatkan kemampuan sebagai bek tengah dan mewujudkan misi meraih trofi bersama City

“Pep (Guardiola) tentunya adalah salah satu pihak yang memiliki peran paling penting bagi kami pada musim ini. Kemampuannya luar biasa untuk membaca taktik lawan sehingga memberikan kami sejumlah solusi untuk tampil lebih baik,” kata Dias.

Pemain rumahan

Dias mengenal sepak bola dari lingkungan keluarganya. Sejak bisa berjalan, ia bersama sang kakak, Ivan, telah memiliki bola yang bisa dimainkan di dalam rumah. Hal itu tidak lepas dari kecintaan sang ayah, Joao Dias, yang merupakan pendukung fanatik Benfica.

Joao, yang bermain sepak bola demi hobi, mengajari kedua putranya bermain sepak bola di taman dekat kawasan apartemen kecil mereka di Amadora. Tidak hanya di taman, Dias juga bermain sepak bola di dalam apartemen mereka sehingga tak jarang hal itu memicu ke marahan sang ibu, Bernadette.

“Ruben dan Ivan menjadikan pintu kamar dan pintu dapur sebagai dua sisi gawang. Anda bisa bayangkan bola melayang di udara mengenai sejumlah barang yang lang sung pecah dan rusak. Mereka senang dan berteriak gol, tetapi suasana rumah berubah seperti zona perang” kenang Bernadette.

Setelah melihat bakat besar sang anak, Joao pun membawa Dias, yang baru berumur 9 tahun, untuk mendaftar di sekolah sepak bola lokal bernama Estrela da Amadora. Dua tahun berselang, pencari bakat akademi Benfica tertarik untuk merekrut Dias.

“Saya senang ketika dia bergabung dengan Benfica yang merupakan klub pujaan saya sejak anak-anak. Benfica adalah tempat terbaik bagi Dias untuk mengembangkan kemampuan nya,” kata Joao, dikutip The Sun.

Joao pun tidak terkejut dengan permainan penuh determinasi yang ditunjukkan anaknya bersama City. Ketika orang berdecak kagum pada kegigihan Dias untuk menjaga gawang City dengan seluruh anggota tubuhnya, seperti saat mengeblok tiga sepakan pemain Paris Saint-Germain di semifinal kedua Liga Champions, 5 Mei lalu, bagi Joao itu bukanlah sesuatu yang asing.

“Ruben (Dias) selalu ingin bermain sepak bola. Bahkan, ketika hujan deras turun, dia tidak pernah ingin selesai. Dia memiliki karakter kuat dan selalu ingin memberikan yang terbaik di setiap penampilannya. Itulah yang telah dia tunjukkan selama ini,” tuturnya.

Prestasi tertinggi

Ketika didatangkan dari Benfica dengan uang transfer sebesar 61 juta pound sterling (Rp 1,23 triliun), Dias adalah pemain yang “hijau” dalam pengalaman meraih trofi juara. Sejak bermain di level senior pada musim 2017-2018, Dias baru dua kali merasakan mengangkat piala. Kedua momen itu terjadi saat mengantarkan Benfica menjuarai Liga Portugal musim 2018-2019 serta membawa Portugal menjadi tim terbaik di edisi perdana Liga Nasional Eropa.

Oleh karena itu, Dias mengakui, gelar Liga Inggris adalah trofi terbesar yang telah diraihnya selama karier profe sionalnya. Selain gelar liga, Dias pun telah memberikan City gelar Piala Liga Inggris.

“Sejak tiba, saya berambisi memenangi Liga Inggris pada tahun pertama. Itu adalah prestasi tertinggi saya,” kata Dias kepada ESPN.

Meskipun target perdananya bersama The Citizens telah terpenuhi, Dias semakin kecanduan untuk memberikan gelar juara bagi klub yang bermarkas di Stadion Etihad itu. Pada musim panas tahun ini, ia pun memiliki dua ambisi besar, yaitu mempersembahkan gelar Liga Champions perdana bagi City, kemudian berusaha maksimal untuk membantu tim nasional Portugal mempertahankan trofi Piala Eropa.

 

Sumber: Kompas.15 Mei 2021.Hal.16