Keresahan terhadap banyaknya penyadap nira untuk minuman keras mendorong Sahdan (55) membentuk kelompok produksi gula Pade Mikir di desanya. Ia berhasil mengajak mereka beralih membuat gula aren.
Perjalanan Sahdan dimulai tahun 2010 ketika ia menjual tiga dari tujuh pohon niranya kepada penyadap seharga Rp 1 juta. Belakangan, ia mengetahui nira yang disadap dari pohon itu ternyata bukan dipakai untuk bahan baku gula aren, melainkan untuk minuman keras. Ia merasa tak senang. “Istri juga tak setuju sehingga kami berdua kerap berdebat,” ujar Sahdan, Rabu (2/6/2021), di Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Akan tetapi, karena pohon nira itu sudah dibeli orang, Sahdan tidak bisa berbuat banyak. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memanfaatkan empat pohon nira yang tersisa. “Saya mulai belajar menyadap untuk bahan baku gula aren batok,” katanya.
Ia sempat bergabung dengan kelompok produksi gula di Buwun Sejati. Dari kelompok itu, ia mendapat sejumlah peralatan dan pelatihan membuat gula aren, gula semut, dan gula briket.
Tahun 2013, warga Buwun Sejati yang menyadap nira untuk miras kian banyak. Jalan ini ditempuh penyadap karena menghasilkan uang lebih cepat. “Uangnya paling enteng. Turun dari pohon, (hasil sadapan) langsung ditimbang dan terima uang. Bahkan, ada yang sudah dibayar di muka,” ujar Sahdan.
Kenyataan ini membuat Sah dan kian resah. Akhirya, ia berinisiatif membuat kelompok produksi gula Pade Mikir yang dalam bahasa Sasak berarti sama-sama berpikir. Ia ingin ke lompok itu menjadi wadah bagi mereka yang sama-sama ingin mencegah miras.
Di awal, tidak mudah bagi Sahdan mengajak para penyadap masuk ke kelompok itu. Bahkan, ia dianggap pengganggu dan pemicu cekcok. Warga yang sudah nyaman dengan penghasilan dari produsen miras sulit diyakinkan.
“Penyadap miras bertanya, kalau rugi, apakah saya mau bertanggung jawab. Apalagi namanya jualan gula tidak lancar. Sering mogok. Sering tersendat karena terkendala pasar,” tutur Sahdan.
Pada saat yang sama, ia juga harus berhadapan dengan pengepul miras yang secara modal sanggup memfasilitasi para penyadap dengan berbagai peralatan, juga bonus. “Pengepul memberi mereka pengawet, parang, ember, tali, hingga sabuk pengaman. Kalau produksi mereka banyak dan lancar, sekali seminggu pengepul memberi mereka rokok,” cerita Sahdan.
Bergeming
Namun, Sahdan bergeming. Ia pantang menyerah dan terus melakukan pendekatan kepada para penyadap itu. “Saya meyakinkan mereka untuk tidak perlu takut. Apalagi membuat gula tidak sekadar mencari penghasilan, tetapi juga berkah walau hasilnya sedikit. Tidak ada ruginya orang berbuat baik,” lanjutnya.
Ia juga mendekati pemilik kebun dan meminta mereka ikut membantu menghentikan produksi miras demi masa depan desa dan anak-anak di sana.
Gayung bersambut. Pemilik lahan itu setuju dengan catatan Sahdan sanggup mengelola semua pohon nira di lahannya. Sahdan menerima tantangan itu dan mengelola kebun nira dengan sistem bagi hasil. Ia dekati para penyadap. “Saya memberi pilihan. Ikut saya menyadap untuk gula atau keluar dari kebun. Ada yang ikut dan ada yang memilih ke luar,” kata Sahdan.
Ia tidak ambil pusing terhadap penyadap yang keluar. Ia fokus pada 17 penyadap, dua di antaranya perempuan, yang mau bergabung. Sahdan melatih mereka membuat gula khususnya jenis semut dan briket.
Saat ini, semua anggotanya sudah bisa membuat jenis gula aren itu. Sahdan tinggal memastikan produksi anggotanya terserap pasar. Oleh karena itu, ia menjadi ketua kelompok sekaligus penampung produk mereka.
Saat ini, untuk satu pasang gula batok dan 1 kilogram gula semut, Sahdan membelinya masing-masing Rp 37.500. Untuk briket, ia beli Rp 32.500 per kilogram. “Gu la batok saya jual lagi Rp 40.000 per pasang. Begitu juga gula semut. Untuk briket, dijual Rp 35.000 per kilogram.”
Keuntungan dari penjualan gula tersebut tidak diambil seluruhnya oleh Sahdan, tetapi disimpan jika anggotanya membutuhkan uang untuk keperluan tertentu. “Kadang, saya persilakan anggota jika mau istirahat dulu satu bulan. Dia bisa pinjam uang yang saya simpan dan diganti setelah produksi lagi. Namun, sampai sekarang, belum ada yang mau berhenti. Masih terus berproduksi,” tutur Sahdan.
Sahdan menuturkan, satutan dan bunga, anggotanya bisa menghasilkan sekitar 15 liter nira. Dengan bahan itu saja, misalnya, mereka bisa membuat sekitar 2 kilogram gula semut. Boleh dibi lang produksi bahan baku untuk membuat gula melimpah. Namun, mereka tidak bisa memproduksi banyak gula briket dan semut karena keterbatasan alat.
“Survei dari dinas terkait sering dilakukan, tetapi tidak ada kelanjutan. Malah saya pernah ditawarkan sapi, padahal yang saya butuhkan alat untuk produksi gula,” kata Sahdan.
Bantuan dari pihak lain, kata Sahdan, juga pernah didapat. Misalnya wajan. Namun, karena jumlahnya terbatas, tidak ia bagikan kepada anggota karena khawatir memicu kecemburuan satu sama lain. “Saya simpan saja bantuannya. Namun, tetap mereka bisa gunakan untuk acara hajatan. Kalau untuk membuat gula, tidak saya izinkan,” kata Sahdan.
Sejauh ini, sebagian besar produksi gula anggota dijual sebatas di pasar lokal. Sahdan berharap bisa mengakses pasar yang lebih luas, tetapi ia kesulitan. Beruntung ada beberapa pemesan rutin yang membeli gula untuk dikemas lagi. “Kami juga menjual dalam bentuk curah. Pembeli memiliki label sendiri dan kami tidak masalah,” ujarnya.
Sahdan mengatakan, dengan segala keterbatasan, mereka akan terus bergerak. Apalagi setelah melihat semakin jarang warga yang menyadap nira untuk miras. “Saya ingin, suatu hari nanti, di Buwun Sejati semua lahan dengan pohon nira bisa kami kelola sehingga benar-benar tidak lagi ada yang menyadap miras. Semua untuk gula aren,” kata Sahdan.
Sumber: Kompas. 8 juni 2021. Hal.16

