Oleh : Utomo Njoto
(Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia)
Karena masih banyak informasi mengenai balik modal yang salah kaprah , saya memutuskan untuk mengulas ini dengan beberapa contoh rill.
Bukan dari Omset
Meski tidak masuk akal , saya pernah menemukan penawaran bisnis kemitraan (business opportunity) yang pada dasarnya menggunakan pola waralaba , yang membuat klaim balik modal berdasarkan Omset Penjualan . Kira-kira begini klaim tersebut :
Paket kemitraan kami adalah Rp 300 juta . Omset penjualan rata-rata per bulan adalah Rp 100-200 juta sehingga balik modal diperkirakan hanya memerlukan waktu 1,5 hingga bulan saja.
Bukan dari Gross Profit
Sedikit lebih baik (meski salah juga) dibandingkan dengan yang menghitung balik modal dari omset tersebut , ada pihak-pihak yang menghitung balik modal dari gross profit . Di situs internet saya menemukan klaim yang kurang lebih (sadur ulang) sebagai berikut :
Minuman kami bisa dijual dengan harga Rp 5000,- per gelas dan biaya bahan-bahannya , termasuk gelas , sedotan dan sebagainya hanya Rp 2800 ,- . Dengan demikian keuntungan setiap gelasnya adalah Rp 2200,- . Setiap hari bisa terjual minimal 50 gelas , artinya keuntungan per hari adalah Rp 110.000,- sehingga perbulan menjadi Rp 3.300.000,- keuntungannya . Paket kemitraan hanya Rp 10 juta. Dengan demikian investasi ini balik modal hanya dalam waktu 3-4 bulan .
Bukan dari Paket Waralaba
Pernyataan bahwa balik modal tidak bisa dihitung dari paket waralaba (paket kemitraan) ini tidak berlaku bila paket waralabanya sudah all-in dan komprehensif .
Masalahnya , tidak sedikit paket waralaba , atau paket kemitraan yang belum lengkap untuk menyampaikan suatu usaha . Paket kemitraan burger misalnya , mungkin saja belum termasuk freezer untuk menyimpan daging beku . Memang bisa saja menggunakan kulkas dirumah , kalau tidak terlalu banyak stok daging bekunya . Ini berarti biaya operasional berupa biaya listrik ada yang nebeng di pengeluaran rumah sang investor atau mitra bukan?
Paket kemitraan bubble tea kadang belum termasuk blender , termos es , atau beberapa peralatan lain yang tidak termasuk dalam paket waralaba tersebut .
Dalam hal ini untuk perhitungan balik modal , seyogyanya kita memasukan barang- barang modal dan biaya-biaya tersebut .
Bukan dari Total Investasi
Beberapa orang yang lain mungkin menilai balik modal dari sisi arus kas , dimana akumulasi keuntungan sebelum pajak menjadi sama dengan Total Investasi . Beberapa lainnya mungkin menghitung dari keuntungan setelah dipotong pajak tahunan.
Klaim balik modal Pemberi Waralaba “biasanya” bukan dihitung dari total investasi , melainkan dari nilai asset (yang bisa didepresiasikan dan diamortisasikan) dan biaya-biaya pera operasional atau sebelum opening , seperti perijinan dan pelatihan awal . Jadi yang dikeluarkan (tidak dimasukan ke dalam perhitungan balik modal) adalah unsur-unsur yang akan muncul sebagai biaya Harga Pokok Penjualan dan Biaya Operasional Rutin . Dalam hal ini , biaya sewa diproratakan ke dalam biaya operasional rutin , bukan diamortisasikan .
Yang dimaksud dengan balik modal disini adalah saat akumulasi EBITDA (Earning Before Interest , Tax , Depreciation , Amortization) alias keuntungan bersih sebelum dipotong bunga bank , pajak tahunan , depresiasi dan amortisasi mencapai atau menjadi sama dengan Nilai Aset ditambah dengan biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum opening .
Sumber : Franchise , Juni 2017 . Hal.99

