Yang Berumah di Awan. Kompas.5 November 2014.Hal. 16

Saat melihat sosoknya terbaring menghadap layar komputer yang bertengger di antara pipa-pipa di atas dadanya, bayangan pakar fisika Stephen Wiliam Hawking yang duduk di kursi roda dengan layar komputer terpasang di depan kursi rodanya lantas muncul. Hawking lumpih, Samuel Franklin (45) pun demikian.

Oleh Windoro Adi dan Denty Piawai Nastitie

“Tahu tentang Hawking?” yang ditanya tertawa. “Dalam beberapa hal saya kagum padanya. Tapi, dalam satu hal, saya menentang. Menurut dia, dalam ilm pegetahuan, Tuhan itu tidak ada. Pertanyaan saya, apakah Hawking pernah bereksperimen untuk membuktkan upayanya? Hawking memang jagoan teori fisika, tetapi bukan fisika terapan. Padahal, dalam perkembangannya, teori fsika bisa di reduksi dengan hukum matematika,” ucap Sam berap-rapi saat ditemui di rumah kontekannya di jalan Asem, Tanjung Duren, Jakart Barat, awal September lalu.

Samalalu menjelaskan panjang lebar perkembangan ilmu fisika. “Belakangan, banyak pakar fisika menyebutkan, pada tigkat fundamental, alam semesta ini bukan terdiri dari atas materi, melainnkan susunan dan pancaran bermacam gelombang,” ujarnya.

Sam yang lulus SMA juruasan fisika itu lalu menghentikan kegiatannya di depan komputer. Ia mengekspresikan diri dengan menggerakkan kedua tangannya tinggi-tinggi saat menjeaskan ilmu fisika, matematika, bahkan matefisika.

“Saya suka membaca dan terus belajar tentang banyak hal,” katanya.

Tangan kanannya membetulkan latek sarung yang ia kenakan. Di baik sarung ada selang kateler yang dihubungkan dengan selang sampai keruang belakang.

Sejak empat tahun lalu, Sam hanya bisa terbaring. Untuk duduk pun ia tak berdaya. Tahun 2010, saat hedak kekantor, ia jatu. Kaki kirinya lemas. Beberapa pekan kemudian, perutnya sakit dan kejang, empat bulan kemudian, lebih dari separuh tubuh besarnya lumpuh.

Dokter mengatakan, tulan belakang Sam retak. Sarafnya tejepit. Ia harus menjalani uji magnetic resonance imaging (MRI). Namun, karena tubuhnya besar, tak ada tabung MRI dan meja operasi yang layak. “Bukan karena saya kegemukan, meainkan karenalingka tubu saya besar,” uap Sam.

Sam ingin sembuh,bermacam penyembuh alternatif ditempu, tetapi hasilnya belum tampak, “Buang air besar, air kecil, dan membilas badan saya lakukan di atas kasur ini dengan bantuan Mona (45). Seblum merawat Sam, Mona bekerja unthuk ibunda Sam sampai sang bunda meninggal.

Lumpuh tida menghentikan Sam. Tidak bisa pergi bekerja sebagai karyawan tetap, Sam menjadi pekerja kontrak. Awalnya, ia bekerja sebagaipemogram di taksi Gnya, lalu pindah ke Galileo Indonesia. “Pekerjaan saya menjawab pertanyaan mengapa program tidak jalan atau menjawab pertanyaan entang mesin mana yang harus dipilih untuk menjalankan program tertentu.” Jelas pria berkacamata plus 10.

Sama pernah embuat perusahaan sendiri, jendela inspirasi Informatika. Belum sempat berkembag, perusahaan itu gulung tikar.

Paling Banyak Membantu

Bersama temannya, Frans Thamura, Sam membuat materi belajrar menggabungkan Java dengan AS/400. Javaadalah bahasa program yangdiciptakan Sun Microsystem, produsen semikonduktor dan oerangkat lunak yang bermarkas di Santa Clara, California, Amerika Serikat.

AS/400 adalah komputer bisnis yang dibuat IBM. AS/400 dikenal sebagai keluarga kompute mid-range untuk sistem komputer multiuse atau komputer tunggal yang bisa berinteraksi dengan lebih dari satu pengguna pada saat bersamaan.

Menurut Sam, pemakaian Java dan AS/400 untuk membangun platform perangkat lunak (sotware) bisnis adalah investas baik untuk jangka panjang. Selain menggabungkan Java dengan AS/400, Sam juga kerap membagikan ilmu programing lain secara cuma-cuma.

Loyalitas Sam terhadap sesama programer membuat dia dianugerahi Sun Developer Community Champions 2008. Sam dinilai sebagai developer yang paling banyak membantu orang.

Ketika ditanya apakah merasa rugi telah membagikan ilmu yang bernilai uang kepada sesama programer, Sam menjawab sebaliknya, “Hidup dalm generasi internet membuat orang berlomba-lomba membuat persoal band. Mereka mempresentasikan diri hebat agar mudah mencari pekerjaan. Dengan membantu orang lain, secara tidak langsung personal brand saya terbangun. Orang percaya kemampuan saya dan menawarkan pekerjaan,” ungkap Sam.

Sm menyatakan kagum dengan Bill Gates, salah seorang pemilik saham microsoft. Meski demikian, Sam yang menguasai seluruh teknologi microsoft itu idak suka cara Gates berbisnis, “Saya bersyukur, setelah pengadilan monopoli usaha menyatakan dia bersalah, dia ganti haluan dengan mengisi hidupnya dengan orang lain lewat satu yayasan, “Ujar Sam.

Sumbangan Gates antara lain dengan menyuntikkan dana untuk Khan Academy. Lewat dunia maya, Khan atau Salman Khan memelopori pendidikan gratis. Pendidikan tesebut berupa tayangan video pengajaran aritmetika, aljabar, kalkulus, dan trigonometri kepada para siswa.

“Dari tayangan video tersebut, saya kemudian sadar, pendidikan akademik bagi siswa sebenarnya hanya melihat, megulang tayangan penajaran, dan berlatih membuat proyek di kelas,” kata Sam. Ia yakin, jika hal tersebut diterapkan dalam pendidikan nasional, akan lebih banyak anak Indonesia yang mendapat akses pendidikan murah.

“Tatap muka guru dan murid dikurangi. Petemuan guru dan murid hanya sebatas saat berlatih membuat proyek di kelas. Murid bisa lebih fokus pada tayangan-tayangan pembelajaran. Dengan demikian, gangguan emosional hubungan murid dan guru bisa dikurangi,” ujarnya.

Soal berbagi

Ditanya apakah Sam tidak merasa rugi membagikan lewat situs web (website) secara Cuma-Cuma, ia menjawab, “Wah, pikiran tertutupseperti itu pikiran kuno, usang,” Menurut dia,”Orang-orang yang berumah diawan” seperti dia justru mengandalkan personal brand sampai akhirnya dilirik perusahaan besar.

Sam lalu bercerita tentang berkembannya kemunitas digital komunitas digital nomad. Meski sama-sama menjadi orag yang berumah di awan, kaum digital nomad berbeda dengan programer seperti Sam. “Digital nomad bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan juga saya hidup. Kaum digital nmad keliling dunia sendiri. Biaya keliling sunia ia peroleh dari menjual program lewat website. Saat uang bekal cukup, ia berheni menjual program. Saaat uang habis, ia kembali bekerja membuat program. Begitu seterusnya sampai terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain atau dari satu negara ke negara lai,” papar Sam.

Saat ditanya apa yan paling menyedihkan, Sam menjawab,  “itu pertanyaan cengeng, sudahlah, saya merasa hidup saya mengalir seperti orang lain,” Lalu, apakah yang membahagiakan? “ketika teman-teman datang berkunjung,” ucapnya.

Sumber: Kompas, Rabu, 5 November 2014