Klik berita : 

https://www.harianbhirawa.co.id/sandang-terpandang-program-optimalkan-limbah-pakaian-jadi-produk-inovatif/

Surabaya, Bhirawa
Lima belas mahasiswa ilmu komunikasi dan fashion product design jalankan program Sandang Terpandang. Program ini menyasar ibu-ibu penjahit warga Desa Bungurasih, Waru Sidoarjo. Fokusnya, melatih para penjahit dalam pemanfaatan limbah pakaian untuk diubah menjadi produk inovatif.

Ketua Pelaksana PPK Ormawa Universitas Ciputra, Dr. Jony E. Yulianto menjelaskan kegiatan ini merupakan program penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan yang berhasil mendapatkan pendanaan dari DIKTI.

Dalam program ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Fashion Product Design berkolaborasi. Pihaknya mengakui, sudah 4 (empat) bulan mendampingi ibu-ibu penjahit di Desa Bungurasih dalam membuat pakaian hewan dan kemudian telah menjualnya di bazaar-bazaar di Galaxy Mall.

“Ada 10 orang penjahit yang mengikuti pelatihan ini. Kami fokuskan pada pemanfaatan limbah pakaian untuk diubah menjadi produk inovatif berupa baju untuk hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing,” ujar dia, Sabtu (21/10).

Dalam pelatihan ini, lanjut dia, kelompok mahasiswa melakukan evaluasi kegiatan bazar yang berhasil menjual 130 produk pakaian hewan tersebut. Evaluasi dan sekaligus membagi hasil penjualan kepada ibu-ibu penjahit.

Lebih lanjut Jony memaparkan kegiatan ini sekaligus ditujukan untuk memperkenalkan potensi Desa Bungurasih sebagai desa kreatif melalui brand Bungurasih Handmade.

“Mahasiswa melakukan survey untuk mengenali potensi besar warga desa, dan ternyata sebagaian besar pintar menjahit. Lalu, kelompok mahasiswa mulai menyusun program untuk membantu kelompok penjahit lokal dapat menghasilkan produk inovatif dengan nilai ekonomis tinggi berbahan limbah pakaian, sampai membuat branding desa,” paparnya.

Ia menambahkan kegiatan tersebut telah terbukti meningkatkan penghasilan warga lokal. Ia berharap brand Desa Bungurasih sebagai desa kreatif semakin kuat. Selain itu, agar di masa depan, ada kolaborasi lain antara mahasiswa dan warga desa untuk mengoptimalkan potensi desa dan pendapatan warga melalui program inovatif lainnya.

Fiorella, mahasiswa yang menjadi ketua program Sandang Terpandang menuturkan program ini memberikan suatu kesempatan yang besar untuk bisa berkontribusi bagi warga Bungurasih. Karena bisa langsung berinteraksi dengan Ibu-ibu penjahit, melakukan kegiatan pengabdian yang berguna, bahkan belajar menerapkan ilmu langsung dilapangan.

“Saya bangga bisa membuat ibu-ibu jadi bisa menjahit dan menjual baju hewan. Semoga Bungurasih Handmade bisa berlanjut dan menjadi salah satu pendapatan bagi masyarakat,” terangnya.

Salah satu peserta, ibu Yansih mengaku sangat senang dan bersyukur karena para mahasiswa dengan sangat sabar dan telaten dalam mendampingi selama pelatihan.

“Saya salut karena mahasiswa benar-benar membimbing dari awal pelatihan dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi kami,” tandasnya. [ina]