Walau sudah memiliki jalan untuk menjadi pejabat daerah, Jumariyanto tidak bisa meninggalkan keinginannya menjadi pebisnis sukses. Akhirnya, pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini memilih meninggalkan profesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengusaha.

Padahal, pria kelahiran 9 Juni 1981 ini telah menamatkan sekolah tinggi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada tahun 2003. Umumnya seperti jebolan IPDN lainnya, Om Jum, sapaan akrabnya, langsung mengabdi sebagai PNS di Wonogiri. Namun selama menjadi aparat sipil negara (ASN), Om Jum juga sering meluangkan waktunya untuk berbisnis.

Itu mulai dari bisnis ketela pohon, sembako, hingga budidaya lele. Namun semua usahanya itu belum ada yang memberikan hasil sesuai harapan Om Jum dan tidak bertahan lama karena bangkrut.

Contohnya saat menjalani bisnis sembako. Dengan skema sembako ‘on the road, ia berjualan beras menggunakan sistem penjualan online lewat WhatsApp (WA), short message service (SMS), maupun BlackBerry Messenger (BBM) di area Wonogiri.

Setiap ada yang pesan ia antarkan meskipun jaraknya 5 kilometer. Bisnis itu berjalan cukup lama, namun keuntungan yang ia dapatkan sangat kecil. Sehingga, bisnis sembako ‘on the road’ pun ia tinggalkan alias tidak diteruskan.

Selepas bisnis sembako, ia menjajal peruntungan lewat usaha budidaya lele. Bisnis ini sempat berkembang hingga memiliki 120 kolam lele dengan produksi mencapai 1 ton lele per minggu. Ia juga mengem bangkan jaringan penjualan sampai ke Denpasar, Samarinda, Tangerang, dan beberapa kota lainnya.

Tapi, lagi-lagi ia memutuskan tidak meneruskan usaha itu karena merasa ada yang salah dengan manajemen karyawan. “Selain itu, posisi saya saat itu PNS dan sulit untuk mengembangkannya,” akunya.

Akhirnya di tahun 2012, ia mencoba menjadi reseller produk olahraga, khususnya voli. Mengapa ia memilih voli? Padahal, secara potensi masih kalah dibandingkan dengan sepakbola yang punya banyak penggemar di Indonesia.

Ternyata usut punya usut, semua berawal ketika ingin berjualan online, Jum mencari tahu dulu produk apa yang paling digemari dan dicari dunia maya. Alhasil, ia menemukan segala perlengkapan voli lebih banyak dicari.

Pencarian produk paling populer di dunia maya itu dilakukan dengan mengulik mesin pencari google.com. Google dipilih karena saat itu di situs Alexa, google.com adalah mesin pencari yang paling banyak digunakan orang.

Di bawah bendera usaha UD RegarSport, ia mulai berjualan online. RegarSport sendiri di ambil dari nama anak pertamanya, yaitu Regar.

Om Jum pun mulai berjualan sepatu voli original merek Mizuno. Di luar dugaannya, produk itu mendapat respons bagus dari pasar. “Dalam sebulan saya bisa menjual habis 20 pasang sepatu,” kenangnya.

Padahal, sepatu voli merek Mizuno original itu dibanderol Rp 1,5 juta per pasang. Konsumennya adalah pemain antar kampung. Fakta ini membuat ia makin optimistis di bisnis ini.

Om Jum semakin yakin bahwa ada keunikan tersendiri bagi pecinta olahraga voli, terutama dalam hal kemampuan mengeluarkan uang. Dua tahun kemudian ia memutuskan menjadi produsen sekaligus mengubah usahanya menjadi PT RegarSport Industri Indonesia.

Bisnis jersey

Dengan memanfaatkan salah satu ruangan kecil di rumahnya, dia mulai menerima pesanan kaus jersey voli. Saat itu, ia hanya menerima jersey untuk olahraga voli dan awal-awal hanya memproduksi 3 lusin per hari. Perlahan tapi pasti penjualannya terus meningkat hingga tujuh lusin per hari.

Tahun pertama menjalankan bisnis pembuatan jersey, ia hanya memikili 12 karyawan yang meliputi tenaga sablon, penjahit dan marketing. Produk baju kaus buatannya dia jual lewat media sosial (medsos) Facebook

Bisnis ini tanpa modal karena basisnya bukan penjualan, tapi pemesanan. “Pelanggan harus menyediakan uang muka sebesar 50%,” ujarya.

Sadar bisnisnya kian berkembang, Jum mulai mengembangkan konsep marketing. Salah satu strateginya adalah membangun mitra dengan para agen. la memberikan enam jaminan kepada agen, yakni jaminan harga, keuntungan, pasar, sistem, pengembangan bisnis, dan garansi kualitas

Dengan berani ia memberi garansi hingga 100%. Jika pesanan pertama salah, pihaknya akan membuat ulang pesanan tersebut. Kedua masih salah, tetap dibuat ulang la bahkan pernah sampai 4-5 kali revisi pesanan. “Ini bukan sekadar bisnis produk dan uang. Ini soal kepercayaan,” tegas Om Jum.

la juga tetap mempertahankan penjualan lewat Facebook dan belum tertarik ke medsos lain, seperti Instagram. Alas annya, la memang ingin menjaring reseller dan ini sangat pas dengan konsep Facebook. Sedangkan baginya, Instagram lebih pas jika targetnya memperbanyak konsumen.

Sempat Takut Kaya

Salah satu yang mendorong Jumariyanto segera melepas status Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah adanya kekhawatiran diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan lembaga pengawas sejenisnya. Maklum, di Wonogiri tak lazim PNS memiliki uang hingga miliaran rupiah. Paling banter megang Rp 200 juta. “Itu juga hasil “menyekolahkan” SK PNS,” ungkapnya.

Hal unik lainnya, Jum dan isteri sempat mengalami momen takut menjadi orang kaya. Om Jum mengaku belum siap menjadi orang kaya baru.

Untuk menetralisir kekhawatiran, mereka melakukan semacam terapi. Apa itu? Mereka memutuskan untuk keliling menjajal hotel-hotel mewah dan memesan President Room. Dengan begitu, mereka sering berinteraksi dengan orang kaya lainnya.

 

Namun kesimpulan Om Jum, orang-orang kaya tersebut berpenampilan biasa saja. Mereka bisa menggunakan celana pendek dan bahkan sandal jepit. “Kami jadi punya mindset bahwa kaya itu tak harus mengubah penampilan,” ujarnya sambil terkekeh.

 

Sumber: Kontan Mingguan. 09 Agustus 2021. Hal. 22-23