Usia boleh menua, tapi semangat Abraham (56) untuk menghibur masyarakat dengan tunjukan lenong tetap mbara. Tak hanya sendiri, ia mengajak istri, anak-anaknya, saudara sepupu, keponakan dan keluarga besarnya untuk main ong. Begitulah cara saran rawat kesenian Betawi yang diturunkan orangtuanya.
Oleh Susie Berindra
Rabu (1/2) siang, perkumpulan Lenong Haji Saran (LHS) menghibur tamu undangan pernikahan Muhammad Atim dan Ida Farida di Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dengan iringan gambang keromong yang dipadu drum, bass, dan kibor, saran, dayat, serta kawan-kawan memainkan lagu “jail-jali”. Mereka juga memainkan kecrek, jambe, kempor, gong dan tehyan. Kelompok ini mengawali penampilan mereka dengan instrumentalia atau yang sering disebut arang-arangan. Gaya saran kekinian. Dia menggunakan celana pangsi warna merah, kaus putih dan sarung kotak-kotak yang diselempangkan di bahu kiri. Dia lincah berjoget dengan iringan keroniong dangdut atau krodut.
Beberapa tahun terakhir. Saran bersama kelompoknya mengaransemen lagu-lagu betawi. Ia memasukkan unsur dangdut kedalam keromong sehingga musiknya disebut krodut. Cara itu ia lakukan agar lagu betawi lebih enak didengar, terutama buat telinga generasi muda. Tinggi-tinggi si matahari/ tengoklah kampung laka/ kalau kawan hilang gampang dicari/ kalau hilang bini susah dicari//. Begitu Saran menyanyikan lagu “jail-jali” yang sedikit syairnya sedikit diubah. Siang itu, diatas panggung, Saran memperkanalkan kru musiknya yang semuanya terhitung keluarga dan saudaranya. Diantara mereka terdapat 3 anaknya, Kosim yang memegang gendang, Deni (kibor) dan Sulis (Tehyan). Cuaca gelap yang disertai rintik-rintik hujan tak menyurutkan semangat mereka menghibur para tamu.
Hari itu mereka hanya ditanggap untuk memainkan krodut tidak untuk bermain lenong. Semakin hari, kata Saran semakin sedikit orang yang menanggap lenong. Namun, buat Saran, ditanggap bermain krodut saja ia sudah bersyukur. Yang penting buat Saran ia dan kelompoknya tetap bisa tampil membawa kesenian betawi.
Keturunan Seniman
Kesenian Betawi sudah melekat dalam diri Saran sejak kecil. Ngelenong, menyanyi, sampai bermain alat musik gambang sudah ia lakukan. Saran memperlihatkan foto-foto lama yang disimpan di album. Di situ, Saran berfoto bersama orangtuanya, Samud atau Kong Rodi dan anggota lenong lainnya.
Darah seni yang mengalir di tubuh Saran menurun dari ayah dan ibunya. “e,ak saya sinden. Kalau bapak saya, tahun 1930-an pemain tehyan dan gong pada kesenian doger. Selain itu juga pemain tanjidor, “ujarnya. Dari 12 bersaudara, hanya Saran yang mengikuti jejak orangtuanya menjadi seniman. Dia juga mengajak sanak saudara serta tetangga untuk ikut melestarikan budaya betawi. “Kalau bukan kami, siapa lagi, masak nunggu nonton lenong di Jepang. Ha ha…”canda Saran yang mulai main lenong tahun 1970 an.
Rumahnya di kelurahan pondok pacung, pondok Aren, Tengerang Selatan, sampai sekarang tak pernah sepi. Setiap hari, selalu saja ada yang datang untuk berkumpul, mulai dari latihan lenong sampai pengajian, “ramai kalau ngumpul disini. Nah, ini ngobrol seperti ini saja, kami sudah seperti latihan lenong,”ujar Saran. Saat bertemu dengan Kompas, Saran ditemani beberapa anggota LHS. Mereka adalah Bambang Lebin (bas), Rohmat Supriadi atau Belong (tim kreatif) serta Mi’un dan Dayat (MC/Vokalis). Beberapa kali mereka saling melempar lelucon. Ketika ditanya KTP, misalnya Saran mengeluarkan dompetnya yang kosong. Lalu ada yang menimpai sambil mengejek dompet yang kosong. Saran membuang dompet kemudian cepat-cepat memungut kembali. Semua pun tertawa.
Yah, beginilah, kami berkumpul, mengobrol, lalu muncul dialog-dialog yang bisa dipakai kalau ngelenong. Biasanya, sebelum manggung, kami hanya bikin benang merah (cerita), bukan scenario lengkap, “ujar Saran. Secara bergantian, mereka mengisahkan bagaimana awal berdirinya LHS serta bagaimana mempertahankan kesenian Betawi di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Coba Bertahan
Saran berinisiatif membentuk kelompok kesnian gampang keromong LHS sejak April 1997. Sebelumnya mereka adalah seniman cabutan yang bermain untuk kelompok-kelompok lenong lainnya. mereka membentuk LHS ketika Balai Kesenian Oncor menggelar festival kesenian Betawi di dekat Pondok Aren yang digagas actor Ray Sahetapy. Selama satu bulan mereka bermain disitu. Setelah itu sebagian anggota LHS bergabung dengan teater Oncor sebagai kru panggung. Disela-sela kegiatan Oncor, mereka tetap tampil di panggung lenong.
Sejak 2006 oncor bubar. Mereka yang telah bergabung sebagai kru oncor kembali fokus berkegiatan bersama LHS. Mereka mencoba bertahan dengan 72 anggota. Perjalanan kelompok lenong itu selanjutnya tak mudah. Sepuluh tahun yang lalu, LHS masih sering tampil di acara TVRI dan Banten TV untuk acara ledek, lenong, demokrasi sebanyak 32 episode. “Selain itu, kamu juga manggung di acara-acara kesenian. Pernah juga di festival Nusantara yang diselenggarakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, bertemu dengan kelompok kesenian dari seluruh Indonesia,” tutur Saran.
Kini, LHS hanya manggung apabila ada undangan atau acara kesenian tertentu. Namun, undangan untuk bermain lenong semakin langka. Orang betawi yang sedang hajatan kini lebih memilih menanggap organ tunggal yang biayanya hanya Rp 2 juta. kalau menanggap lenong, biasanya bisa sampai Rp 18 juta untuk satu grup. Selain menyediakan lenong. LHS juga menyediakan penyewaan ondel-ondel dan palang pintu (upacara penyampaian tamu khas betawi) untuk mengundang mereka, dibutuhkan biaya Rp 2 juta –Rp 10 juta.
Meski begitu, semangat mereka tak pernah surut. Saran mengajak anak-anak dan generasi muda untuk mengenal kesenian betawi. “Anak bungsu saya, Sulis, sudah kenal lenong dari mulai dia masih menyusu. Habis naik panggung, terus cari emaknya. Sampai sekarang, dia sudah bisa main tehyan.”ujarnya.
Beruntung, masih ada donatur yang memberikan bantuan alat music. Saran mendapatkan gambang keromong baru untuk pentas. Bantuan it menjadi penyemangat bagian untuk terus menghidupkan lenong. Dengan berbagai tantangan, Saran tetap tekun dengan lenongnya. Untuk menyambung hidup, dia membuka usaha servis TV. “Sampai sekarang saya masih buka servis perbaikan TV,”kata Saran. Anggota lainnya ada yang bekerja sebagai kuli bangunan, tukang pompa, tukang nasi uduk dan kuliner betawi lainnya, guru, karyawan, dan tukang ojek.
Mereka sudah seperti keluarga. Untuk itulah, Saran membuat logo LHS dengan gambar dua semut berganderingan. “Semut kan temannya banyak, menjalin tali silahturahim yang kuat. Semut juga perutnya kecil, ora pengen kenyang dewe (tidak ingin kenyang sendiri),”katanya. Saran terlihat santai, lucu tapi punya keyakinan kuat untuk mempertahankan kesenian betawi. Meski tak punya uang, dia punya santai. “Tuh, emak kalau udah enggak punya beras bilang sama saya. Naskahnya direbus aja daripada cuman numpuk di lemari,”cerita Saran sambil tertawa. (*)
Lihat video terkait “Lenong Haji Saran” di kompasprint.com/vod/lenongsaran
SARAN ABRAHAM
Lahir : Parigi, Tangerang Selatan 1960
Istri : Karmi
Anak :
- Kosim Irawan
- Kandi Irawan
- Deni Iskandar
- Sulis Setiawan
Pendidikan : Setingkat SD
Sumber: Kompas. 7 Maret 2017 Hal. 16

