Mencicipi sate biaro khas Bukittinggi yang sedap di Sate Saiyo Biaro, Bukittinggi.
Mimi Silvia (Bukittinggi)
Apa kuliner asal Sumatra Barat yang paling popular? Salah satu jawabannya, pasti sate padang. Dan, ada dua varian sate padang yang terkenal lantaran banyak dijual: sate padang khas Padang Panjang yang berbumbu warna kuning dan khas Pariaman dengan bumbu berkelir merah.
Tapi, sejumlah daerah di Sumatra Barat juga punya sate padang dengan kekhasan masing-masing. Misalnya, sate danguang-danguang yang terkenal dengan rasa bumbunya yang pedas dari Payakumbuh, atau sate biaro asal Bukittinggi dengan bumbu parutan kelapa.
Nah, kalau Anda pelesiran ke Bukittinggi, enggak lengkap, dong, tanpa mencicipu sate biaro. Dinamai sate biaro lantaran berasal dari daerah Biaro, Bukittinggi. Dan, salah satu kedai yang terkenal menyajikan sate biaro dengan rasa yang sedap adalah Sate Saiyo Biaro.
Kedai milik Eriza ini terletak di kawasan Pinangbalirik, Tanjungalam, tepatnya di Kilometer (Km) 17 Jalan Bukitinggi-Payakumbuah. Dari Kota Bukittinggi, posisi kedai tersebut ada di sisi kiri jalan. Spanduk besar bertuliskan Sate Saiyo Biaro menjadi penanda Anda.
Dari luar, kedai ini tampak mungil. Tapi, begitu masuk ke dalam, ruangannya lumayan luas dengan bentuk memanjang ke belakang. Aroma bawang hasil pembakaran sate langsung tercium saat Anda memasuki bagian dalam kedai. Maklum, di sisi kanan ruangan ada gerobak tempat mengolah sate, lengkap dengan alat pembakaran.
Walau kapasitasnya cukup besar, mampu menampung sekitar 40 pengunjung sekaligus, selepas magrib hingga jam 10 malam, kedai ini penuh sesak pembeli. “Saat akhir pekan harus antre,” kata Eriza.
Jadi, kalau mau agak longgar, sebaiknya Anda datang sebelum magrib. Kedai ini buka mulai jam 2 siang sampai 11 malam. Tapi, seringkali tutup lebih awal karena sate sudah habis.
Orang penting yang pernah merasakan kelezatan sate biaro racikan Eriza adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kerja ke Bukittinggi. Sedang pelanggan tetapnya antara lain Gubernur Sumatra Barat dan Walikota Bukittinggi.
Selain sate daging sapi, kedai yang berdiri tahun 1994 lalu ini juga menawarkan sate lidah, sate usus, dan sate jantung. Anda bisa memilih sesuai selera, harganya sama, yakni Rp 17.000 per porsi plus ketupat.
Seporsi sate yang hanya terdiri atas lima tusuk sate dan satu ketupat yang sudah dipotong-potong terhidang di atas meja, tak lama setelah Anda memesan. Tampilannya sama seperti sate padang kebanyakan dengan taburan bawang goreng di atas sate. Bumbu sate biaro berwarna kuning. Sate biaro ini tersaji di piring beralas daun pisang.
Cuma, kalau Anda perhatikan lebih teliti, ada yang beda dengan sate biaro, lo. Di dalam bumbunya ada parutan kelapa. Begitu juga dengan dagingnya, di permukaan menempel parutan kelapa. Ya, parutan kelapa ini yang menjadi ciri khas sate biaro asal Bukittinggi.
Bumbu rahasia
Eits, sabar, jangan buru-buru mencicipi terutama bumbu sate biaro. Soalnya, kedai ini menyajikan bumbu kental dalam keadaan masih sangat panas. Jadi diamkan sesaat dulu, ya. Kalau sudah tidak terlalu panas lagi, baru icip-icip bumbunya yang menggenang di piring.
Lidah Anda akan merasakan bumbu halus yang berasal dari lengkuas, kunyit, bawang merah dan bawang putih, serai, merica, dan cabai. Tak ketinggalan, aroma khas daun jeruk. Semuanya menyatu pas dalam bumbu sate biaro yang juga berbahan baku tepung beras dan menghasilkan rasa yang, wah, betul-betul nikmat.
Menurut Eriza, bumbu sate biaro merupakan resep turun menurun keluarganya. Proses pembuatannya cukup rumit sehingga membutuhkan waktu yang lama. “Kami juga memakai bumbu rahasia,” ujarnya.
Puas mencicipi kuah, sekarang waktunya menyantap sate. Potongan daging yang menancap di bilah-bilah lidi besar-besar. Begitu juga potongan lidah, kalau Anda memilih sate lidah. Saat masuk mulut, rasa bumbu bakaran langsung menunjukkan karakternya. Dominasi gurih dan pedas rempah-rempah bakal memenuhi lidah Anda.
Dagingnya empuk, apalagi lidahnya sungguh empuk. Bumbu parutan kelapa yang membalut daging dan lidah menambah kenikmatan. Rasa daging dan lidah menjadi makin legit.
Tak heran, Syukri Yandi ketagihan dengan sate biaro buatan Eriza. “Saya orang Agam tapi sampai sekarang ini sate yang paling enak dan unik. Di dagingnya ada kelapa dan ukurannya besar-besar pula,” kata pemuda 19 tahun asal Agam ini.
Oh, iya, jangan lewatkan keripik balado atau kerupuk kulit yang tersaji di meja. Buat orang Sumatra Barat, enggak afdal makan sate tanpa keripik balado atau kerupuk kulit. Untuk keripik balado, biasanya diaduk dengan bumbu sate. Rasa pedas dan garing keripik balado menambah nikmat bumbu.
Anda tergoda ingin menikmati sate biaro bikinan Eriza? Yuk, mampir ke Sate Saiyo Biaro kalau jalan-jalan ke Bukittinggi. Anda juga bisa memesan setengah porsi sate dengan harga Rp 13.000 isi tiga tusuk. Untuk satu plastik kerupuk kulit, harganya Rp 3.000. Harga seplastik keripik balado Rp 2.000.
Untuk minuman, keda ini hanya menyediakan dua pilihan pelega tenggorokan: air mineral botol dan teh botol. Harganya sama, Rp 4.000 pas.
Belum Terpikir Buka Cabang
Sudah 20 tahun Eriza menjalani usaha sate biaro. Sebelum membuka kedai di kawasan Pinangbalirik, Tanjungalam, awalnya perempuan paro baya ini berdagang kakilima di Taman Marga Satwa Bukittinggi. Ia berjualan di kebun binatang ini sekitar enam tahun.
Usaha sate biaronya di Taman Marga Satwa Bukittinggi laris manis dan pelanggannya semakin banyak. Sehingga, ia pun membuka kedai permanen dengan menyewa kios di Simpang Biaro tahun 2000.
Sebagian keuntungan hasil penjualan sate biaro ditabung. Setelah terkumpul, Eriza mendirikan kedai di lahan sendiri di Jalan Bukittinggi-Payakumbuh Km 17. “Sekitar delapan tahun lalu, saya pindah ke kedai ini,” kata Eriza.
Pelanggannya terus bertambah, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga kota-kota lain di Sumatra Barat. Saat musim liburan, pelancong dari luar Sumatra Barat, seperti Medan, Pekanbaru, dan Jakarta mampir ke kedainya. Sedang ketika Lebaran, pembeli Sate Saiyo Biaro kebanyakan perantau Bukittinggi yang pulang kampung. “Bahkan ada sekeluarga besar datang ke sini,” ujar Des, anak sulung Eriza yang membantu mengurus kedai.
Di hari biasa, kedai ini bisa menghabiskan 10 kilogram (kg) daging sapi sehari dan saat akhir pekan sekitar 20 kg daging. Tapi, ketika libur Lebaran, jumlahnya naik berkali-kali lipat menjadi 60 kg per hari.
Meski pelanggannya dari mana-mana, Eriza belum terpikir membuka cabang di daerah lain di Sumatra Barat, apalagi di luar Sumatra Barat.
Sate Saiyo Biaro
Jl. Bukittinggi Payakumbuh Km. 17 Tanjungalam, Bukittinggi
Sumber: Tabloid Kontan, 1-7 September 2014

