Menyulap Tanah Tandus Jadi Hutan.Kompas.31 Oktober 2016.Hal.16

Sekitar 20 tahun lalu, Ngorageko dan Legoko adalah kampong bertanah tandus.  Berkat tangan Sebastian Tande, tanah tandus itu berubah menjadi hutan yang memberikan kesejukan dan kesejahteraan bagi banyak orang.

OLEH KORNELIS KEWA AMA

Hutan seluas 20 hektar itu berada di Kampung Ngorageko dan Kampung Legoko yang masuk wilayah Desa Kaligejo, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di hutan yang berada di lahan miring Bukit Aimere itu tumbuh pohon cengkeh, kemiri, kopi, pisang, nangka, vanili, cokelat, mahoni, sengon, merbau, angsana, dan tanaman berumur panjang lainnya.

Aneka burung dan binatang hidup diantara rerimbunan pohon. Udara terasa sejuk segar meski pada siang hari yang panas. Sementara itu, suara daun-daun pepohonan yang tertiup angin kencang terdengar seperti nyanyian. Ini seperti surge kecil yang belum lama hadir.

Sebelum dihijaukan oleh Sebastian Tande, wilayah ini bertanah tandus. Jika musim hujan tiba, tanah tandus itu menjadi labil dan mengancam keselamatan warga. Pada 1981, misalnya, tanah miring di kawasan itu longsor dan menewaskan 4 orang warga Kampung Ngorageko.

Awalnya, ia berpikir usaha kerasnya itu akan sia-sia. Namun, ia menanam dan terus menanam tanpa lelah. Ternyata, bibit tanaman justru tumbuh subur. “Saya menanam secara bertahap, sedikit demi sedikit,” kata Sebastian Tande di Bajawa, pertengan Agustus lalu.

Awalnya, Sebastian Tande menanami lahan tandus itu sendirian. Belakangan, warga lain mulai ikut dalam gerakan penghijauan itu. Sebastian lantas membentuk dan memimpin kelompok tani “Hutan Mandiri”. Kelompok itu terdiri atas 30 anggota yang sebagian besar lulusan sekolah menengah atas yang belum memiliki pekerjaan tetap.

Melalui kelompok tani itu, Sebastian Tande memberikan pemahaman kepada anggota kelompok dan warga kampong tentang pentingnya hutan. Ia juga melatih mereka untuk mencintai Hutan dan hidup dari hasil hutan.

Ia percaya, meski tidak ada tanda air dibawah permukaan tanah. Dengan begitu, warga bisa bergotong royong mengebor tanah guna mendapatkan air yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Pemerintah juga bisa membangin sejumlah embung sbagai sumber air pertanian.

Namun, cara terbaik untuk menghasilkan sumber air, menurut Sebastin, adalah dengan menghijaukan daerah-daerah yang gersang. Alasannya, akar-akar tanaman bisa mengikat air. “Jadi, kalau tanaman tumbuh subur di satu daerah, pasti daerah itu bisa menghasilkan air,” ujar Sebastian.

Panen sepanjang tahun

Sejak awal, Sebastian Tande memilih menanam tanaman bernilai ekonomi untuk lahan tandus di kampungnya. Ia menanam aneka tanaman keras seperti jati, mahoni, bamboo, sengon, kemiri, cengkeh, angsana, mernau, cokelat, dan mangga.

Di sela-sela tanaman keras, ia juga menanam pisang, vanili, padi, jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Tanaman berumur pendek ini memberikan penghasilan lebih cepat. Dalam tiga bulan, taaman itu sudah bisa dipanen untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan menanam aneka tanaman berumur pendek dan panjang, Sebastian dan warga bisa mendapatkan penghasilan dari lahan pertanian mereka secara berurutan nyaris sepanjang tahun. Setiap bulan, mereka bisa panen pisang. Juli-Agustus, mereka panen vanili. Juli-September, mereka panen cengkeh, cokelat, dan kopi. Oktober-Desember, mereka panen mangga.

Setiap tahun, secara bergantian, mereka bisa mendapatkan uang dari sengon yang bisa dipanen pada usia lima tahun. Sebastian juga sudah menikmati hasil panen cengkeh, kemiri, cokelat, kopi, dan nangka.

Aneka hasil panen itu ia jual dengan harga yang lumayan. Cengkeh ia jual Rp. 98.000 per kilogram, kemiri Rp. 25.000 per kilogram, cokelat Rp. 60.000 per kilogram, kopi Rp. 45.000 per kilogram, nangka Rp. 10.000 – Rp.30.000 per buah dan mangga Rp. 20.000 per kilogram. Harga ini berlaku ditempat produksi. Jika diantar ke Bajawa yang terletak 25 kilometer dari Desa Kaligejo, harganya lebih tinggi lagi.

“Saya juga panen jati, sengon, dan mahoni, tetapi tanaman lain butuh beberapa tahun lagi untuk dipanen. Saya lagi cari bibit pohon jabon. Menurut cerita orang, tanaman itu bisa dipanen pada usia 2-3 tahun. Saya sudah mencari ke Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kehutanan Ngada, tetapi tidak dapat,” kata Sebastian Tande.

Dengan musim panen yang seolah tanpa henti itu, Sebastian Tande menjadi lebih sejahtera ketimbang sebelumnya. Ia, misalnya, berhasil menyekolahkan tiga anaknya hingga ke tingkat perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surabaya. Ia juga membangun rumah keramik layak huni di sisi jalan utama Trans-Flores, yakni antara Aimere dan Bajawa. Di samping rumah itu dia bangun pula sebuah warung makan, warung kopi, dan buah-buahan.

Ia mempekerjakan tiga warga dari desa tersebut. Dua orang bertugas mengurus tanaman, termasuk memanen hasil, menjemur, membersihkan, dan mengepak untuk dijual. Satu orang lagi bertugas membantu di warung makan dan warung kopi. Mereka bekerja Pukul 09.00 – 16.00 Wita dan diberi honor masing-masing Rp. 1.250.000 per bulan.

Kerja keras Sebastian Tande selama bertahun-tahun sudah diakui oleh pemerintah. Ia memperoleh Kalpataru dari Pemerintah Kabupate Ngada pada tahun 2008 dan Kalpataru dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2009.

Namun, lebih penting dari itu adalah tanah tandus di Desa Keligejo kini telah hijau. Tanah yang dulu sering membawa bencana itu kini membawa berkah sepanjang tahun.

Sebastian Tande

  • Lahir: Bajawa, 22 Januari 1955
  • Istri: Monika Roga
  • Anak: Olivia Moe (28), Marthen Surib (27), Debrito Niki (25), dan Hermina Wula (21)
  • Pendidikan: Lulus Sekolah Dasar
  • Pekerjaan: Petani, Ketua Kelompok Tani Hutan Mandiri
  • Penghargaan:
  • Petani Teladan Kabupaten Ngada 2007
  • Kalpataru Kabupaten Ngada 2008
  • Kalpatru Provinsi NTT 2009

Sumber: KOMPAS, SENIN 31 OKTOBER 2016