HUNIAN gaya Mediterania diadopsi Agnes Shella untuk mendesain kedai kopi miliknya, Lattere Cafe. Baginya, rasa homie bakal didapatkan dengan cara itu.

Bangunannya berwarna putih. Dengan jendela kaca lebar di hampir setiap dinding. Tak ada overstek yang biasa ada guna mencegah air hujan turun langsung ke struktur bangunan.

Di bagian belakang, tempat toilet dan musala, kesan Mediterania itu makin kental. Terutama lengkungan pintu masuk berbentuk oval tanpa kusen.

Meskipun bergaya ala negara kawasan pesisir laut, tak ada kesan panas. justru sebaliknya. Hawa sejuk teras ruangan. Cahaya masuk dengan bebas. Sebab dinding depan penuh dengan kaca.

Di kedainya, Agnes menyediakan ruang terbuka di bagian belakang. Beralas paving. “Sebelumnya saya tutup rumput namun berlumpur ketika hujan turun,” katanya. Begitu dipaving, area itu jadi nyaman untuk nongkrong di outdoor.

Kesan Mediterania itu menarik hati Naura. Dia datang bersama teman setelah melihat tempat itu Instagram.

“Kalau sedang cuaca cerah, suasana di sini memang bagus. Itu yang tertangkap saat melihatnya di Instagram. Sayang sekarang sedang mendung,” katanya.

Naura menyempatkan foto di spot favorit. Di halaman depan. Topat di sebelah tulisan Lattere Cafe. Juga di bagian indoor. Di samping kaca dekat tanaman monstera diletakkan.

Rahmat, pengunjung kedai yang lain, merasa cukup betah di sana. la sempat ngobrol dengan barista.. Maklum juga barista. Sambil minum kopi pesanannya, coffee latte.

“Buat saya, setiap datang ke tempat ngopi baru harus cobain coffee latte-nya. Kalau enak berarti tempat itu recommended buat para coffee enthusiast macam saya,” kata pria asal Jakarta itu. (Heti Palestina Yunani-Kevin Razaga)

 

Sumber:  Harian DI’S Way.31 Januari 2021.Hal.40-41