SAAT itu di Surabaya di bawah kepimpinan Daendels membuat sebuah aturan dengan memberi 5 ringgit bagi informan. “Dalam peraturannya Daendelsmemberikan sebuah presmi seharga 5 ringgit bagi yang member informasi. Dan bagi regu pertama yang datang ke tempat pemadam akan diberikan 50 ringgit dan kelompok kedua akan dapat 25 ringgit,” kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menjelaskan, saat zaman kolonial Belanda dahulu apparat pemadam kebakaran yang diangkat terdiri dari empat kepala pemadam, delapan wakil kepala pemadam, delapan sersan serta sejumlah kopral. Kepala pemadam dipilih seorang mandor pembuat tali, seorang mandor pabrik ember dan beberapa orang lainnya.

Agar para petugas bisa mengenal antar anggota pemadam, maka mereka (pemadam) menggunakan sebuah tanda khusus.

Menurut catatan, kepala pemadam kebakaran menggunakan sebuah rotan perak dan terdapat symbol raja yang disematkan. Sedangkan Wakil kepala pemadam kebakaran menggunakan tongkat kayu bewarna merah. “Sersan dan kopral menggunakan sebuah ikat kulit di lengannya dengan huruf pemadam,” terangnya.

Selama beberapa tahun Dinas Pemadam Kebakaran berdiri akhirnya mengalami modernisasi dengan sistem yang lebih modern. Seperti dipertengahan abad kedua sebagai pengganti pompa tangan menggunakan pompa penyemprotan bertenaga uap.

Kepala dinas pun yang bergaji tetap akan mendapatkan mandate untuk melakukan pengawasan setiap hari. “Kepala dinas harus bertanggung jawab pada perawatan alat dan juga pelatihan pemadam pribumi,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 Sumber: Radar Surabaya. 11 Septembeer 2020. Hal 3