KETIKA pemerintah Belanda masih berkuasa zaman sebelum perang dunia kedun. Pendidikan diarahkan guna memelihara kelangsungan hidup pemerintah jajahan.
Belanda ketika itu membagi beberapa strata pendidikan, yakni pendi dikan rendahan (SD), pendidikan lanjutan pertama (SMP), pendidikan lanjutan tingkat atas (SMA/SMK) dan pendidikan universitas (kuliah).
Bahkan, Belanda dahulu juga sudah membuat sekolah khusus atau keahlian, kalau saat ini jenjang SMK. Menurut pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika, dahulu di Surabaya ada sekolah pertukangan, sekolah yang mirip dengan SMK.
Ketika itu Tuan Van Lakerveld, seorang arsitek yang mendorong para pemuda untuk lebih menekuni dunia pertukangan. Sehingga tahun 28 Oktober 1852 Van Lakerveld meminta kepada pemerintah untuk membuka kesempatan untuk menerima pendidikan pertukangan.
“Pemerintah ketika itu mengabulkan permintaan tersebut. Muncullah keputu san 9 Januari 1852 Nomor 5. Dan tanggal 12 Maret 1853 pengurus sekolah dibentuk,” kata Chrisyandi.
Chrisyandi menjelaskan, tujuan dibentuk sekolah pertukangan untuk membentuk suatu kelas tukang dari kelompok penduduk Indo-Eropa yang ketika itu dalam kondisi miskin dan terabaikan. Sekolah tersebut didirikan di Kalisosok. Jumlah siswa antara usia 13 sampai 22 tahun. Pada 1 Januari 1854 jumlah siswa mencapai 66 siswa dan pada akhir tahun itu naik sampai 81 siswa.
“Jadi sekolahnya dari pukul 6 sampai pukul 8. Pelajaran yang diberikan bidang pembangunan, peralatan dan ukur tanah. Kemudian ada kelas yangdidirikan untuk para pemula,” terangnya.
Sekolah tukang ini dianggap sebagai perintis dari Burger Avondschioo dan HBS. Mereka dibentuk di bawah pengawasan direktur PU dan selanjutnya di bawah pengawasan residen.
“Pada akhirnya sekolah pertukangan ini berkahir sekitar tahun 1857. Karena kurangnya perhatian. Dan para siswa tidak terdidik sejak awal ke arah pekerjaan lebih lanjut,” pungkasnya. (rmt/nur)

