Dynand Fariz, pendiri Jember Fashion Carnaval (JFC), meninggal dunia pada Rabu dini hari (17/4). Kematian insan kreatif yang membesarkan nama Jember dalam pentas fashion dan event karnaval di tingkat Internasional ini menjadi kehilangan besar, tak hanya bagi warga Jember, Jawa Timur, tetapi juga bangsa Indonesia.

KINI, hal penting yang layak di kenang dari almarhum adalah totalitas dalam mencintai profesi dan tanah air Buah karya Dynand Fariz menjadi berkah bagi Jember, Jawa Timur, dan bangsa Indonesia.

JFC digelar kali pertama tahun 2003, dan rutin digelar setiap tahun hingga saat ini. Event karnaval dengan catwalk di jalan ini menempati urutan ke-4 karnaval dunia setelah Mardi Grass New Orleans USA, Rio De Janeiro, dan Fastnatch Koin, Jerman. JFC sekali lagi membuka kesadaran publik bahwa daerah-daerah di Indonesia memiliki potensi besar yang tersimpan dalam talenta-talenta kaum muda.

Sebelum pemerintahan saat ini mendirikan Badan Ekonomi Kreatif, kepemimpinan SBY telah merintis peta jalan industri kreatif yang waktu itu disatukan dengan pariwisata. Bahkan, tahun 2012 menjadi tema dagangan pariwisata nasional saat itu, green and creative tourism. Green tourism berkaitan dengan pariwisata berbasis lingkungan, sedangkan creative tourism berkaitan erat dengan ekonomi kreatif seperti kuliner, film, tentu saja event dan fashion yang dijadikan satu dalam JFC.

SBY saat mengenalkan industri kreatif yang terintegrasi dengan pariwisata berjanji membawa kepariwisataan tidak sebagai business as usual, tetapi mengembangkan bisnis berbasis kreativitas dan budaya, karena pariwisata sangat erat dengan kreativitas. Melalui Dynand Fariz dengan JFC nya, hal itu menjadi contoh nyata yang mudah dikenali.

Pariwisata yang digerakkan oleh ekonomi kreatif diharapkan mendobrak kesulitan akses bagi masyarakat dengan kemampuan modal minim untuk ikut berpartisipasi dalam dunia usaha. Khususnya yang terkait dengan industri pariwisata. Karena ekonomi kreatif lebih ramah dan fleksibel dengan keterbatasan modal, ekonomi kreatif juga identik dengan spirit kaum muda.

Melalui moda ini, banyak anak muda kreatif yang mencuat popularitasnya dengan karir musik, desain, fashion, perupa, dan banyak lagi. Industri kreatif seolah menyatu dengan darah dan hidup kaum muda yang haus kebebasan, ekspresif, imajinatif, dan tentu saja menggairahkan. Produk industri kreatif selalu menghibur, menyenangkan, dan karena itu, bernilai dan berdampak.

Berdasar klasifikasi di atas, industri kreatif juga termasuk dalam produk pariwisata. Di antaranya, industri seni rupa, seni pertunjukan, event, arsitektur, kerajinan, dan mode. Klasifikasi ini terkait dengan seni, dan karena itu amat berperan bagi pariwisata di tanah air. Dengan kata lain, mengembangkan industri kreatif juga berarti mengembangkan pariwisata.

Event-event pariwisata di berbagai daerah di tanah air memberikan ruang bagi penampilan produk-produk industri kreatif. Seperti seni rupa, desain, seni pertunjukan, kerajinan, dan mode. JFC juga menumbuhkan event karnaval berbasis fashion di banyak daerah di Indonesia. Perlu sosok-sosok seperti Dynand Fariz yang konstruktif di setiap daerah, yang berkarya mencipta suatu produk yang diterima oleh masyarakat luas sebagai jawaban atas suatu kebutuhan peradaban aktual.

Inilah gagasan ideal manusia-manusia Indonesia masa depan yang mampu memadukan dua kekuatan otak sekaligus: kanan dan kiri. Dengan kekuatan otak kanan, dilanjutkan perpaduan otak kanan dan otak kiri, insan yang kreatif akan menjadi keniscayaan. Berbeda dengan orang yang lebih dominan menggunakan otak kiri, orang dengan kecenderungan yang tinggi pada otak kanan lebih kreatif dan memiliki imajinasi yang tinggi pula.

Seniman, artis, desainer, dan inventor biasanya lebih banyak menggunakan bagian otak sebelah kanan. Namun, dua otak tersebut sama pentingnya. Orang yang selama hidupnya menggunakan otak kiri akan sulit untuk berkembang. Dia terbelenggu oleh rutinitas, aturan, prosedur, dan kebiasaan yang dia lihat dan kerjakan sehari-hari, sehingga dia tidak akan mampu membuat dan mengembangkan sesuatu yang baru.

Begitu juga dengan orang yang selama hidupnya hanya mau menggunakan otak kanan. Dia memang bisa kreatif, tetapi kreativitas tanpa kemampuan analisis dan logika hanya akan menghasilkan sesuatu yang tanpa makna (Sebastian, 2010).

Dynand Fariz menjadi contoh yang melegenda dan role model bagi penyelenggaraan event berbasis kreativitas. Event-event pariwisata di berbagai daerah di tanah air memberikan ruang bagi penampilan produk-produk industri kreatif seperti seni rupa, desain, seni pertunjukan, kerajinan, dan mode. Selain JFC, di Bali ada Pekan Kesenian Bali. Bukan semata-mata tontonan yang dipentaskan dalam kurun waktu terbatas, tetapi merupakan wujud kreativitas yang terasah dari waktu ke waktu seiring dengan keyakinan diri untuk memantapkan masa depan lewat karya seni.

JFC membanggakan tidak hanya bagi warga Jember, tetapi juga Jawa Timur umumnya. Begitu hebat dan kreatifnya rancangan desainer yang ditampilkan pada momen JFC, begitu memesonanya pula peraga busana yang memperagakan busana-busana yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang itu membawakan karya-karya bercita rasa seni tinggi. Selamat jalan Dynand Fariz. (*)