Selamatkan Sumber Daya Air Melalui Pariwisata. Jawa Pos.21 Maret 2015.Hal.2

Catatan Hari Air Sedunia 2015

Oleh : I DEWA GDE SATRYA

HARI Air Sedunia (World Water Day) diperingati setiap 22 Maret. Inisiatif peringatan ini diumumkan pada Sidang Umum Ke-47 PBB pada 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro,Brasil. Hari Air Sedunia adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha-usaha utuk menarik perhatian public akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengolahan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Tema Peringatan Hari Air Sedunia 2015 adalah Water and Sustainable Development atau Air dan Pembangunan Berkelanjutan yang menyoroti pentingnya air dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

Dalam sebuah himne kuno Rig Veda, Water of Life, yang dikutip dari buku Water Wars: Privatization, Pollution, and Profit karya Vandhana Shiva, Fungsi air sangat sentral sehingga umat Hindu sejak dulu menyakralkannya. Dituliskan di sana, “water, you are the one that brings us the life force. Help us to find nourishment, so that we may look upon great joy… rulers over all peoples, the waters are ones I beg for cure waters yield your cure as an armor for my body.” Masaru Emoto dalam The True Power of Water bereksperimen, air yang dimasukkan di dua botol –yang satu diberi ungkapan-ungkapan positif dan satu lagi diberi ungkapan-ungkapan negatif- menghasilkan wujud Kristal yang berbeda.

Di ranah pariwisata, pada 2013 United Nation World Tourism Organitazation menetapkan isu yang terkait dengan air, Tourism & Water: Protecting Our Common Future. Dalam konteks untuk melindungi masa depan, isu air perlu disinergikan dalam konteks pariwisata.

Sinergi isu air dan pariwisata dapat diterapkan ke dalam tiga aspek. Pertama, di perairan Indonesia tergores catatan emas para pendahulu bangsa ini yang dari situlah bangsa Indonesia dirintis dan dibesarkan.

Terkait dengan hal tersebut, misalnya, rute perjalanan nenek moyang bangsa Indonesia (orang-orang Bajo, Bugis, Makssar, dan Mandar) yang dikenal sebagai pelaut andal dan hantu-hantu penjelajah samudra sejak abad ke-5 jauh sebelum Cheng  Hood an Colombus perlu dikemas sebagai produk wisata. Arti penting rute itu dalam komoditas pariwisata adalah destinasi wisata napak tilas sejarah bahari.

Trail of Indonesia Civilization mungkin merupakan istilah popular yang sesuai dengan paket perjalanan tersebut. Dalam paket wisata itu, ditonjolkan unsur-unsur sejarah yang berada di daerah Indonesia. Misalnya, pelabuhan tempat dulu pelaut kita memulai pelayaran, kapal seperti apa yag dulu dipakai, serta tentu saja peradaban-peradaban lain yang dikemas dalam suatu narasi yang memikat wisatawan.

Senada dengan paket wisata tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya baru-baru ini mengenalkan program wisata baru dengan nama Jalur Samudra Cheng Hoo (JSC) yang meliputi wilayah Banda Aceh, Batam, Tanjung Pandan, Belitung, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, hingga Denpasar, Bali. Tentu saja thematic tour itu mengenang kedatangan Laksamana Cheng Hoo.

Di samping itu, sumber-sumber perairan seperti sungai harus dijaga bersama. Di perkotaan, area perairan di tengah kota (sungai) atau di batas pinggiran kota perlu semakin ditata serta dikelola secara serius untuk meningkatkan daya tarik kota. Makau, misalnya. Daerah yang memiliki otonomi khusus dari RRT itu berhasil membangun daya tarik wisata sungai yang ditata sedemikian rupa sehingga berkesan seperti kawasan Eropa. Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menyatakan, selain kekayaan air di laut, potensi wisata berbasis air di Indonesia terdapat di daratan atau yang disebut dengan in-land water atau air diluar laut seperti danau, sungai, serta empang. Pemahaman tersebut memperkuat positioning turisme Indonesia sebagai multidestination country dalam persaingan turisme global. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai Negara maritime dengan kekayaan bawah laut yang melimpah dan pantai yang indah. Kedua, dalam pariwisata, selalu diperlukan koordinasi lintas sektoral. Dalam pembangunan wisata bahari, tentu saja Kementrian Pariwisata berkoordinasi dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Perhubungan, Polri (Kepolisian Air Udara), serta TNI-AL

Green Tourism

Ketiga, konsep green tourism yang salah satu fokusnya adalah penyelamatan dan konservasi sumber daya air utuk memastikan ketersediaan air yang berkualitas. Secara harafiah, green tourism dapat diejawantahkan melalui ekowisata.

Konsep ekowisata telah dikembangkan pada era 80-an sebagai pencarian jawaban dari upaya meminimalkan dampak negative bagi kelestarian keanekaragaman hayati karena kegiatan pariwisata. Konsep ekowisata sebenarnya bermaksud menyatukan dan menyeimbangkan beberapa konflik secara objektif: dengan menetapkan ketentuan dalam berwisata, melindungi sumber daya alam dan budaya, serta menghasilkan keuntungan dalam bidang ekonomi untuk masyarakat lokal.

Perkembangan tren ekowisata di tanah air berdampak pada industry perhotelan. Yakni, hotel berwawasan lingkungan (green hotel) kini menjadi nilai tambah tersendiri.

Leluhur bangsa Indonesia telah meneladankan kehidupan yang selaras dengan alam, khususnya terkait dengan pergerakan, distribusi, dan kualitas air. Para ahli hidrologi dan sejarawan yang menyatakan, teknik hidrologi sebenarnya sudah dikembangkan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada di negeri ini. Hal itu terlihat dari adanya situs kanalisasi dan bendungan kuno peninggalan Raja Airlangga. Juga, candi pertirtaan yang dibangun pada masa Kerajaan Jenggala, Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit seperti Jolotundo dan Candi Belahan di lereng Guung Penanggungan serta petirtaan dikompleks Candi Penataran di Blitar. Melalui sinergi dengan turisme, diharapkan semakin tumbuh kesadaran akan penghormatan terhadap sumber daya air.

Selamat Hari Air Sedunia 2015.

Sumber: Jawa Pos.21 Maret 2015.Hal.2