PERUSAHAAN jasa transportasi online raksasa Gojek dikabarkan bakal merger dengan e-commerce Tokopedia. Bloomberg-lah yang rnengabarkan hal tersebut. Nilai merger tersebut mencapai USD 18 miliar. Itu setara dengan Rp 250,2 triliun (kurs USD 1 Rp 13.900). Bukan tidak mungkin itu satu Iangkah menuju initial public offering (IP0).

Lalu, bagaimana potensi merger dua perusahaan tersebut? Prof Christina Whidya Utami, dekan Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra, mengatakan bthwa konsumen akan diuntungkan dari merger itu. Sebab, bakal lahir sebuth entitas bisnis baru. Yakni, varian layanan transportasi dan e-commerce.

Menurutnya, dua perusahaan itu bakal bisa saling mengisi ruang. Gojek mampu mengisi pembayaran online dengan Gopay. Sedangkan Tokopedia bisa memberikan Pelayanan berupa pelapak yang cukup luas. Pada 2019 saja setidaknya ada 200 ribu pelapak 14  yang terdaftar di e-commerce itu.

Selain itu, merger tersebut bakal menguntungkan sektor UMKM. Apalagi, selama ini Tokopedia bermitra dengan para pelaku UMKM. “Dengan demikian, customer akan diuntungkan dengan layanan yang lengkap dan komprehensif,” ujarnya.

Namun, isu mergemya dua perusahaan itu dikhawatirkan akan menciptakan monopoli pasar baru. Sebab, Grab sebagai pesaing Gojek bakal kewalahan bersaing. Pun dengan Shoppe yang menjadi rival Tokopedia. Meski demikian, Whidya yakin bahwa kedua pesaing sudah merniliki target pangsa pasar masing-masing.

Menurut Whidya, Grab harus mulai memikirkan jurus baru. Agar bisa bersaing dengan Gojek. Sebelumnya Gojek pernah menjajaki merger dengan Grab. Namun, tidak tidak ada titik temu. Sebab itu, Gojek berpindah pandangan dengan merangkul Tokopedia.

Soal kemungkinan Gojek-Tokopedia melantai di pasar mocial setelah merger, menurut Widhya, peluangnya sangat besar. Dia juga telah mendengar kabar bahwa dua perusahaan itu sudah ancang-ancang IPO. Bthkan juga di Wall Street. Dengan begitu, mereka memiliki keleluasaan untuk mendapatkan lebih banyak modal.

Saat ini valuasi Gojek mencapai USD 10 miliar. Karena itu, Gojek menjadi perusahaan start-up pertama Indonesia yang menjadl decacorn. Sedangkan Tokopedia memiliki valuasi USD 7,5 miliar dan masuk sebagai unicorn. Penjajakan merger sudah dilakukan selama 10 tahun.

Pengamat saham Riska Afriani mengatakan, jika dua perusahaan hasil merger itu melakukan IPO, investor bakal berabut. Bahkan, diperkirakan angkanya bisa mengalahkan saham dari Bank Syariah Indonesia (BRIS). Apalagi, stham dength teknologi sedang diincar para investor. Terutama investor dalam negeri.

BRIS sendiri mengalami lonjakan. Bahkan mencapai 579 persen dalam setahun. Isu yang dipakai juga rnerger perusahaan. Saat perusahaan belum diresmikan, harga saham sudah mencapai Rp 2.350.

Namun, kata Riska, dua perusahaan itu sudah harus memikirkan mekanisrne produk dari perusahaan merger. Dia mencontohkan, produk yang dijual Tokopedia bisa diantarkan pihak Gojek. Selain itu, perusthaan tersebut harus memiliki terobosan baru. Terutama membuat produk yang bisa menjadi ciri khas dari perusahaan baru itu. Pihak Gojek dan Tokopedia belum memberikan keterangan resmi terkait isu merger tersebut. (Tomy C. Gutomo-Andre Bakhtiar)

Sumber: Harian Di’sWay. 7 Januari 2021. Hal. 14-15