Menikmati ketupat sayur berpadu bumbu kacang di Lapau Bukittinggi-Minangkabau.

Hujan gerimis masih membasahi wilayah Jakarta Rabu (27/9), malam. Hujan yang berlangsung seharian itu membuat hawa udara terasa dingin. Namun, hawa dingin itu tidak lagi merasuk begitu saya memasuki Lapau Bukittinggi-Minangkabau.

Sedapnya aroma masakan khas Minang memberikan sensasi hangat dan wangi. Suasana resto juga cukup nyaman buat pengunjung. Tempat makan yang berlokasi di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini tampak biasa dari sisi depan.

Namun, begitu masuk ke dalam, pengunjung disambut suguhan murai yang minimalis dan elegan. Dengan desain yang menggambarkan landscape jam gadang khas Kota Bukittinggi, membuat suasana resto terasa nyaman dan santi.

Selain untuk menambah keindahan interior, di dalam mural tersebut diselipkan aneka pantun khas Minang. Untuk konsep ruangan makannya sendiri ada yang dilengkapi meja kursi dan ada yang lesehan.

Selain tempatnya asyik, ternyata resto ini menawarkan aneka makanan khas Minang yang menggugah selera. Seperti nasi goreng, soto padang, pisang panggang kuah santan, dan katupek gulai paku.

Ada juga aneka olahan mi, seperti MieNas khas Minangkabau, mi tahu dan martabak mi. Dari ragam menu tersebut, Lapau ini punya sajian istimewa, yaitu katupek pical. Makan ini merupakan gabungan dari ketupat sayur dan kuah pecel.

Yang menjadikannya spesial, ketupat sayur nangka ini dilengkapi aneka toping sayuran di atasnya, seperti kol, daun singkong, rebus, pakis, dan mi kuning. Toping sayuran ini lalu disiram bumbu kacang. Sentuhan terakhir ada taburan kerupuk merah yang menjadi ciri khas kerupuk Minang.

Kala disantap, benar-benar menimbulkan sensasi yang berbeda dari makanan Sumatra Barat lainnya. Sensasi pedas sudah pasti ditemukan seperti umumnya citarasa masakan Padang. Yang membuatnya agak berbeda saat lidah bertemu dengan bumbu kacang.

Digiling menggunakan gula aren, membuat ada rasa manis di kuah sayur nangka yang bercita rasa pedas. Mi kuning yang bertekstur tebal dan kenyal pun enak disantap.

“makanan ini kuat di bumbunya yang dibuat secara turun temurun dari keluarga dan otentik dari Bukittinggi,” kata Putrasio Berlianda, pemilik Lapau Bukittinggi-Minangkabau.

Katupek pical ini biasanya dipadu padankan dengan teh talua. Teh tersebut kerap diminum orang Minang selepas bekerja maupun salat. Bagi orang Minang, teh ini merupakan minuman penambah stamina.

“Ini yang sering diminum pas magrib. Bahan-bahannya itu kuning telur ayam dan bumbu khusus dari Minang. Kemudian disiram dengan teh yang mendidih yang dipanaskan di atas kompor,” jelas pria yang akrab disapa Rian ini.

Teh talua merupakan minuman favorit karena meningkatkan energi yang diperoleh dari kuning telur tersebut. Supaya teh tidak meninggalkan aroma amis telur, Rian menggunakan bumbu “rahasia” dari teh tarik yang dijajakan di pusat perbelanjaan. Dengan bantuan sugesti, teh ini memberikan rangsangan energi mantap. “Kalau saya sering minumnya itu sebelum main futsal. Mungkin sugesti juga berpengaruh jika percaya. Tapi secara logika memang kuning telur memiliki protein yang tinggi dan membuat semangat setelah letih bekerja seharian,” jelas Rian.

Satu porsi katupek pical di banderol Rp 15.000. Adapun teh talua di harganya Rp 9.000 per gelas. Sementara, menu makanan lain dihargai mulai Rp 13.000 sampai Rp 20.000 per porsi. Ada minuman mulai Rp 5.000 sampai 12.000 per gelas.

Menurut Rian, ragam makanan yang dijual di lapau (warung) miliknya bisa memberikan kesan rindu akan kampung halaman. Guna menumbuhkan ingatan akan kampung halaman itu pula, Lapau yang berdiri 1 April 2016 ini sengaja tidak mengubah nama asli makanan daerahnya meskipun dijual di Jakarta.

Lestarikan rasa

Dengan konsep tersebut, tak heran bila kebanyakan pengunjung resto ini orang asli Minang. “sekitar 85% pengunjung kami adalah orang Minang, sedangkan 15%-nya adalah yang kebetulan lewat. Orang Minang target pasar kami,” ujar Rian.

Sebagai tempat berkumpulnya orang Minang, Rian pun sangat menjaga cita rasa makanannya. Untuk mendapatkan cita rasa khas daerahnya, ia pun konsisten menggunakan cara tradisional dalam mengolah masakan. “ Selain menjaga cita rasa, ini juga misi pribadi kami lestarikan budaya Minang dengan kuliner,” ujarnya.

Penyajian makanan juga ada yang menggunakan cara tradisional, seperti menyajikan minuman degan batok kelapa. Untuk urusan  meracik menu, Rian mengajak tantenya yang sangat paham kuliner khas Kota Gadang tersebut.

Bahkan terkadang, ibunya juga turut membantu demi mempertajam cita rasa makanan. Rian mengaku, keluarga besarnya memang memiliki keahlian di bidang kuliner dan suka masak-masak.

Demi mempertahankan cita rasa itu pula, sebagian besar bahan makanan dan rempah juga didatangkan langsung dari Sumatra Barat. “Sekitar 80% bahan makanan dan rempah didapatkan langsung dari Bukittinggi,” ujarnya. Contohnya nasi goreng, menggunakan beras asli Padang yang dinamakan bareh kuriak kusuik. Beras ini memang sudah sangat populer di lidah orang Minang.

Tempat Berkumpul Orang Minang.

Selain cita rasa makanan, Rian sangat memperhatikan kenyamanan resto miliknya dalam hal desain interior, ia sengaja menambahkan mural dinding yang diselipi aneka pantun khas Minang.

Menurut Rian, orang Minang memang akrab dengan berbagai pantun yang kaya makna di dalamnya. “Ada pantunnya, biar jadi lebih hidup dan menarik pengunjung. Pantun-pantun itu memiliki makna atau pelajaran yang bisa diambil,” katanya.

Ia mencontohkan, ada pantun yang berbunyi “Mari kita ramaikan surau atau mesjid, tempat kita mengaji dan sembahyang”. Selain itu, ada juga pantun candaan, seperti “Tong Parui kosong litak rasanya”.

Dengan desain resto yang dipenuhi mural pantun, ditambah citarasa makanan yang enak di lidah, membuat banyak orang betah nongkrong lama di kedai ini. Sebagian besar pengunjung juga orang asli Minang.

Bahkan, banyak komunitas orang Minangkabau menjadikan tempat ini sebagai lokasi berkumpul. Beberapa di antaranya adalah kelompok anak rantau Minang, komunitas vespa Minang, dan sebagainya. Mereka kerap datang ke Lapau pada akhir pekan. “biasanya mereka datang sambil ngobrol dan kulineran seperti kampung,” ujar Rian.

Ia bersyukur hingga sekarang respons pengunjung cukup positif. Bahkan, banyak pengunjung yang kerap mengajak teman-teman mereka yang bukan orang Minang untuk datang dan bersantap di Lapau. Sayangnya, lahan parkir di tempat ini tidak terlalu luas.

 Sumber: Kontan, 2-8-Oktober-2017.Hal_.-40