Jakpus – Indonesia mempunyai banyak designer hebat. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dalam dari karya-karya yang terpampang dalam pameran Wastra Kulit Kayu. Pameran tersebut dibuka dan diselenggarakan di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, kemarin (2/10). Di ruang pameran, terlihat beragam karya busana dari material kulit kayu yang mengingatkan kita terhadap cara lama berpakaian nenek moyang.
Misalnya, salah satu karya fashion dan textile designer dari Bandung, yaitu Intan Prisasti. Designer muda sekaligus mahasiswi semester akhir Institut Teknologi Bandung itu menampilkan karya Wastra kulit daluang yang sudah sangat langka. Karya Intan berupa busana dan tas yang dinamakan Skinecics. Termasuk busana untuk yang dipenuhi detail kupu-kupu nan cantik.
“Saya sebagai salah satu perwakilan desainer yang berpartisipasi di pameran ini ingin mengenalkan material busana dari kuit kayu. Unik dan mengingatkan kita pada Wastra jaman dulu,” ujar Intan. Perempuan 23 tahun tersebut menyatakan, bahan dasar material kulit kayu juga bisa menghasilkan karya seni, bahkan karya fashion yang bernilai jual tinggi.
Selain karya Intan, ada karya busana pengantin kubu dari Suku Anak Dalam Jambi, Baju Lantung, Bengkulu, Batu Ike, dari Sulawesi Tengah, yang merupakan alat untuk menumbuk kayu menjadi kain sebagai bahan dasar membuat busana atau item fashion lainnya.
Selain busana, ada berbagai peralatan dan hiasan dari kulit kayu dalam pameran yang akan diakan hingga 30 November 2016 tersebut. Misalnya, lukisan, hiasan dinding, keranjang, dan masih banyak lagi karya wastra dari material kayu yang dipajang di setiap ruangan museum.
Mungkin terbersit pertanyaan, bagaimana bisa kayu dijadikan bahan dasar sebuah busana? Mujidi, salah seorang pengrajin bahan kain kulit kayu daluang dari Bandung, menyatakan bahwa kulit kayu sebagai bahan utama direndam dalam air selam satu hingga dua hari sampai benar benar lunak. Selanjutnya, kulit kayu itu dipukuli seharian hingga benar-benar lunak menyerupai kain. Kian lama, busana dari kulit kayu itu menjadi semakin lembut.
Tidak banyak diketahui bahwa wastra kulit kayu tidak hanya digunakan sebagai pakaian. Selama berabad-abad, wastra tersebut juga telah digunakan sebagai media melukis di Kamasan, Bali, dan lukisan wayang beber di Ponorogo dan Pacitan di daerah Jawa. Bahkan, untuk naskah-naskah yang ditulis dalam berbagai tulisan. (wik/c5/ano)
Sumber: Jawa-Pos.3-November-2016.Hal_.9

