
Perjuangan para mahasiswa perserta Campus social Resonsibilty (CSR) akhirnya membuahkan hasil. Beberapa diantara mereka mendapat apresiasi dari pemkot. — GALIH ADI PRASETYO
EKSPRESI bahagia tergambar jelas di wajah 18 mahasiswa peraih penghargaan program CSR dinas sosial (dinsos). Mereka berhasil menyisihkan puluhan mahasiswa lain yang tergabung dalam program itu. Perjuangan dan usaha keras mereka selama ini tidak sisa – sia.
Pemberian penghargaan dilakuakn di convention Hall Pemkot Surabaya kemarin. Penghargaan dibagi dalam tiga kategori. Yakni, peduli, produktivitas tinggi, dan inovator. Masing – masing kategor terpilih enam mahasiswa yang akan meraih predikat juara I –III dan juara harapan I – III.
Kategori peduli, juara 1 diraih Sayuningsih, mahasiswa Universitas dr Soetomo. Juara II didapat Luluk Wulandari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel. Sementara itu, juara III dicapai Elizabeth Cresentiani Trinitas dari Universitas Ciputra.
Juara I mendapat uang pembinaan Rp. 5 juta, juara II menerima Rp 4 juta, dan juara III memperoleh Rp 3 juta. Selain itu, juara harapan I mendapat Rp 1,5 juta, harapan III Rp 1 juta, dan harapan II Rp 1 juta, dan harapan III Rp 750 ribu.
Tiga perguruan tinggi juga menerima predikat sebagai kampus peduli. Unitomo meeraih juara 1 kampus peduli. Kemudian, UIN Sunan Ampel menjadi juara II dan Universitas Muhammadiyah Surabaya mendapat peringkat ketiga. Mereka menyisikan 20 perguruan tinggi lainnya yang ikut berpartisipasi falam program CSR. Selain penganugrahan juara, dinsos menyediakan 30 sepeda pancal untuk para adik asuh. Sepeda itu diberikan kepada adik asuh yang jarak rumah dan sekolahnya jauh.
Penghargaan yang diraih para mahasiswa tesebut memang sebandign dengan perjuangan mereka. Misalnya Sayu, sapaan akrab Sayuningsih, yang konsisten selama 10 bulan mendapingi adik asuhnya. Lia, Sapaan adika asuhnya, memiliki keterbatasan mental.
Lia putus sekolah sejak kelas 2 SD pada 2013. Mentalnya tidak nutut jika harus belajar setara dengan anak sebayanya. Dia merasa tertekan di sekolah. Lia juga selalu ketinggalan pelajaran. Saking tertekannya Lia sampai terbaring sakit. Hingga akhirnya, orang tuanya memutuskan untuk menyudahi pendidikan Lia.
“saat saya lakukan tes, kemampuannya nol. Akhirnya saya bawa ke rumah sakit jiwa (RSI) menur untuk tes IQ.” ujar Sayu. Akhirnya lia diketahui memiliki kebutuhan khusus. Dia harus didampingi guru inklusi atau dokter psikologi. Namun, dengan berbagai kendala yang dihadapi, Sayu harus memberikan pendidikan sendiri kepadan Lia.
Seminggu tiga kali mahasiswa semester lima itu mendampingi Lia. Tidak hanya membimbing. Sayu juga mencarikan alternative lain bagi lia. Akhirnya Lia ikut program kejar paket A. Terkadang, Sayu harus keluar uang pribadi untuk lia. “Pas ngurus akta dan KK, tiba – tiba disodori kuintansi.” Tutur mahasiswa jurusan managemen itu.
Kendati demikian, Sayu tidak menyesal. Dia justru semakin bersemangat memperjuangkan masa depan Lia. Meski program CSR tahun ini berakhir gadis kelahiran Banyuwangi tersebut tetap menjadi kakak asuh Lia. “Ingin saya belika vitamin biar tambah pinter.” Imbuhnya.
Memang berakhirnya program CSR tahun ini tidak berarti menyudahi pendampingan para mahasiswa. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Soepomo membebaskan para mahasiswa itu untuk tetap mendapingi adik asuh masing – masing. “Jika perlu, bisa dilakukan estadet hingga program CSR 2018 berjalan.” Katanya
Sumber: Jawa-Pos.13-Desember-2017
