Oleh Dewa Gde Satrya
Serangan terorisme yang mematikan di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/1) pagi, menyerupai serangan teror di Paris 13 November 2015. Semua unsur pemerintahan, mulai presiden Jokowi hingga Gubernur DKI Basuki T. Purnama menyerukan agar masyarakat tidak takut dengan serangan teror. Hal serupa terjadi di Paris, dalam keadaan mencekam, trauma, dan ketakutan, pertandingan sepak bola tetap berlangsung.
Dilihat dari lokasi atau target serangan, perilaku keji itu merupakan kejahatan sistemik terhadap bisnis leisure Dalil utama leisure adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang. Aktivitasnya bisa dilakukan di dalam maupun di luar rumah.
Maraknya bisnis leisure yang tumbuh di Indonesia, semisal, mal atau pusat perbelanjaan (terbukti di serangan di area Sarinah), yoga, gym, bioskop, cafe dan restoran, rumah bernyanyi (karaoke), hingga pertunjukan konser, menjadi sinyal betapa kebutuhan untuk refreshing di waktu luang tak hanya cukup dipenuhi di dalam rumah. Fakta itu sangat eksplisit dalam serangan di Jakarta maupun di Paris.
Horner dan Swarbrooke (2005) dalam bukunya berjudul Leisure Marketing in Global Perspektive telah mengidentifikasi bisnis leisure sebagai bisnis masa depan, khusunya di negara-negara maju. Dalam praktiknya, bisnis ini juga kerap diidentikan dengan produk turisme. Maka lengkaplah sudah, karakteristik produk dan jasa serta konsumen di area bisnis ini adalah untuk kesenangan, di lakukan untuk mengisi waktu luang, dan tentu saja akan menghadirkan kebahagiaan bagi yang mengonsumsi (happy appealing).
Di ranah ini dapat dipahami mengapa Sarinah menjadi lokasi serangan, lebih-lebih di waktu padat menjelang jam istirahat kantor. Hal serupa juga bisa dideteksi di lokasi serangan paris yang dikenal dengan Horor Friday 13th itu, di station, restoran dan tempat konser.
Pesannya jelas, mereka ingin mengincar pusat perhatian dunia, kerumunan massa yang sedang bersenang-senang, yang memiliki perbedaan nilai yang dihidupi. Kehidupan yang menyenangkan adalah tawaran produk bisnis leisure, seperti restoran, stadion, dan tempat konser yang menjadi lokasi serangan teror.
Mengkonsumsi produk dan jasa leisure menjadi momen yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga memberi kesegaran pada jiwa. Rutinitas hidup dan tekanan pekerjaan seakan terobati dengan aktivitas makan diluar, nonton konser, atau nonton pertandingan sepak bola. Pandangan yang umum berlaku dan diyakini kalangan konsumen leisure adalah ada keterkaitan antara leisure dengan ketahanan (kesehatan) jiwa. Dalam konteks itulah teror di area Sarinah, Jakarta, dalam bingkai tragedi kemanusiaan.
Sedikit mengaitkan konteks leisure dengan kebutuhan umat manusia modern untuk pemenuhan kesegaran jiwa atau keseimbangan hidup tereflesikan pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa sedunia 10 Oktober 2012 yang mengangkat tema/isu Depression: A Global Crisis. Menurut WHO, ganguan depresi mengenai lebih dari 350 juta orang setiap tahunnya. Dibeberapa negara maju seperti Amerika Serikat, deteksi dini depresi dilakukan pada setiap layanan primer kepada setiap pasien yang datang mencari pertolongan medis. Pada 2014, Federasi Dunia untuk kesehatan Jiwa (World Federation of Mental Health) menetapkan tema “Mental Healt in Older Adults”.
Leisure, juga pariwisata, sebagai bagian penting dari kehidupan seharusnya difungsikan sebagai salah satu tools untuk mengobati jiwa umat manusia. Potensi munculnya stres yang kian sporadis, mulai dari rumah, di jalan, komunitas tempat kerja/sekolah, hingga lingkungan sekitar, berpotensi merapuhkan ketahanan jiwa. Fenomena empirik ini kerap dijumpai di negara-negara maju, termasuk di Indonesia.
Dengan mudahnya umat manusia mengalami stres dan menderita depresi terkait dengan rendahnya waktu luang untuk leisure. Oleh karena problem/pemicu stress, khususnya tekanan hidup yang kian berat tak dapat dielakkan lagi, maka fenomena empiris relasi dua aspek tersebut seharusnya semakin menumbuhkan ruang dan kebutuhan untuk mengisi waktu luang dengan bersenang-senang.
Dalam hal ini, hierarki kebutuhan manusia yang menurut teori klasik Maslow digambarkan paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri, tampaknya semakin tidak relavan di peradaban kekinian. Khususnya ketika fakta menunjukkan stress dan depresi itu juga menyerang siapa saja, termasuk golongan sosial ekonomi menengah ke atas.
Abraham Maslow (1908 – 1970) telah mengamati perilaku manusia modern, yang menurutnya perilaku manusia dimotivasi oleh sesuatu yang mendasar. Secara berurutan dari bawah hingga ke level yang lebih tinggi yaitu kebutuhan fisiologi (makan, minum, seks), rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktulisasi diri. Puncak tertingginya adalah aktualitas diri.
KESEIMBANGAN HIDUP
Leisure semakin menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia di samping kebutuhan pokok yang lainnya. Kebutuhan leisure menjadi sangat dibutuhkan dalam rangka live balancing dari rutinitas keseharian manusia dan tentu saja untuk meningkatkan ‘antibodi’, berupa ketahanan jiwa dari pemicu stress dan depresi. Maka timbulah usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan berwisata dan leisure seperti shopping, tour package, outdoor yoga, konser, pertandingan olahraga, dan sebagainya.
Sedikit bukti bahwa leisure, dan bahkan destinasi wisata, menjadi obat alami bagi jiwa-jiwa manusia modern dapat ditemui di Ubud, misalnya, salah satu kawasan di kabupaten Gianyar itu memiliki sejarah penamaan hingga sekarang dikenal dengan nama Ubud.
Rsi Markandya, seorang yang suci yang hidup pada masa Majapahit, menemukan obat alami yang menyembuhkan berbagai penyakit di sebuah sungai di desa yang kini bernama Ubud. Di Ubud, terasa kuat sikap tuan rumah yang baik bagi setiap pendatang, memperlakukan tamu secara dan membangun sebuah ‘rumah’ yang nyaman bagi turis. Seperti asal kata Ubud yaitu obat, Ubud seperti obat kehidupan bagi siapapun yang berada.
Sumber : Bisnis Indonesia. 15 Januari 2016.

