Vaksinasi memang bukan senjata pemungkas umtuk mengatasi penularan Covid-19. Namun, cara ini patut diupayakan agar tingkat kesakitan dan kematian akibat virus SARS-CoV-2 bisa ditekan. Banyak Negara pun berebut untuk bisa mengamankan kuantitas vaksin yang dibutujkan bagi warga nya.
Indosenia mulai menjajaki kerjasama dengan beberapa produsen vaksin Covid-19 di tingkat global sejak tahun lalu. Kerjasama baik secara bilateral maupun multilateral pun telah menunjukkan hasil. Hingga kini, sekitan 130 negara bahkan belum bisa mengakses 1 dosis pun vaksin Covid-19.
Setidaknya sebanya 329 juta dosis vaksin berhasil diamankann dengan potensi tambahan lagi sebanyak 334 juta dosis. Diharapkan Indonesia mendapatkan vaksin sampai 663 juta dosis agar target sasarann vaksinasi terpenuhi.
Untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) dari virus penyebab Covid-19, sedikitnya 70 persen penduduk harus mendapatkan vaksin. Artinya, lebih dari 180 juta penduduk harus divaksinasi.
Dengan kondisi produksi vaksin terbatas dan dari berbagai sumber yang pengirimannya bertahap, vaksinasu Covid-19 diperkirakan baru bisa tuntas selama 15 bulan atau sampai kuartal pertama 2022. Namun, Presiden menargetkan vaksinasi ini bisa selesai selama 12 bulan.
Vaksinasi massal
Juru bicara Kementrian Kesehatan untuk vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi, Sabtu (27/2/2021), menyampaikan, selain mengamankan kebutukan vaksin di Indonesia, pelaksanaan vaksinasi juga harus dipastikan berjalan dengan lancar. Semakin cepat pula kekebalan yang bisa terbentuk.
Itupun harus menyasar masyarakat luas dengan segala tantangan data dan pendistribusiannya. Kendala ini harus segera diatasi karena jika rata-rata cakupan vaksinasi 100.000 orang perhari, jumlah orang yang sudah divaksinasi selama satu bulan hanya sekitar 3 juta orang atau 36 juta dalam setahun. Padahal, pemerintah memiliki target ambisius bisa memvaksin 180 juta orang dalam setahun.
Target ambisius ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Cakupan vaksinasi secara luas harus cepat dilaksanakan karena sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan lama efektifitas vaksin dalam menciptakan kekebalan komunitas dari virus SARS-CoV-2.
Ini juga menjadi salah satu alasan Indonesia membuka peluang vaksinasi mandiri atau gotong royong meski sejumlah kritik menyertai kebijakan itu.
Apabila kekebalan komunitas tak segera terbentuk, kondisi yang dikhawatirkan adalah tingkat imunitas yang divaksin sudah menurun, sementara masih banyak penduduk belum divaksinasi.
Belum lagi apabila dikaitkan dengan mutasi virus corona tipe baru yang telah ditemukan di Indonesia. Varian baru dari proses mutasi seperti ini bisa mempengaruhi kemanjuran vaksin.
Meski bukan satu satunya cara mengendalikan pandemim percepatan dan perluasan sasaran vaksinasi perlu menjadi perhatian. Kepastian mengamankan pasokan vaksin sesuai target sasaran dalam waktu yang singkat juga penting.
Selain itu, kesadaran dan upaya mendasar untuk mencegah penularan melalui protocol kesehatan serta deteksi kasus dengan pelacakan dan pemeriksaan kasus, yang dilanjutkan dengan isolasi ketat, jangan ditinggalkan. (DEONISA ARLINTA)
Sumber: Kompas. 3 Maret 2021.Hal.5

