Indra Utami Tamsir (41) menggelar konser untuk kedua kalinya di Gedung Kesenian Jakarta pada 18 Februari 2015 lalu dengan tajuk “Langgam untuk Dunia.” Melalui konsernya, perempuan menyanyi ini ingin menerobos kelembutan dan keagungan langgam berbasis seni tradisi Jawa agar bisa lebih diterima “Dunia.”
OLEH NAWA TUNGGAL
Sejak kecil saya memiliki impian ingin menjadi penyanyi langgam Jawa. Ini selalu ada di pikiran saya, bukan untuk popularitas, tetapi demi melestarikan langgam yang menjadi bagian dari seni tradisi di Jawa,” kata Utami ketika ditemui di rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta, akhir Februari 2015 lalu.
Utami tumbuh dalam komunitas seni tradisi di Blora, Jawa Tengah. Ayahnya, Harjo Tamsir (1927-2001), yang mengajar music gamelan dan tembang (lagu, langgam) Jawa, juga menjadi sutradara sandiwara ketoprak terkenal di Jawa Tengah bagian utara. Utami pun lekat dengan dunia sandiwara ketoptak, seni tari, dan tembang-tembang Jawa.
Pernah saat kelas II SD, Utami spontan ingin tampil dalam pementasan ketoprak tanpa sepengetahuan bapaknya sebagai sutradara. Remaja itu meminta salah satu pemain perempuan untuk mendandaninya, kemudian membujuk salah satu pemeran perang-perang untuk berpasangan pentas dengannya. Kisah ketoprak, Aryo penangsang.
“Bapak waktu itu kaget melihat saya ikut main ketoprak. Penontonnya juga ada yang nyeletuk, kok, ada anak kecil ikutan main,” katanya.
Keseharian masa kecil Utami juga akrab mendengarkan ibunya yang selalu mendongeng untuknnya menjelang tidur. Paling kerap, dongeng si Kancil.
Dalam kesehariannya itu pula, Utami sering menyimak bapaknya, terutama pada saat ia mengajar seni gamelan dan tembang Jawa. Impian bocah perempuan itu mulai terbangun. Kelak, ia ingin menjadi penyanyi tembang Jawa.
Kini, ia sudah mewujudkan impian itu meski bukan sebagai pelantun tembang Jawa dengan iringan music gamelan. Utami menjadi penyanyi ber-genre langgam Jawa music keroncong.
Penghargaan
Pada 19 Agustus 2013, dia memperoleh Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award 2013 untuk kategori penyanyi keroncong terbaik. Di tengah keinginannya untuk meninggalkan profesi sebagai penyanyi, justru penghargaan dunia music Tanah Air menghampirinya.
Utami menempuh studi di Blora. Kemudian pada tahun 1992, sang ibu menganjurkan perempuan itu untuk menempuh studi di Akademi Gizi di Yogyakarta. Namun, ia hanya menjalani kuliah itu selama satu semester, kemudian pindah ke Jakarta dan menumpang di rumah salah satu pamannya. Di Jakarta, Utami menyalurkan minat dan bakatnya untuk menyanyi di berbagai acara. Paling sering ia diundang untuk menyanyi pada acara resmi di Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
INDRA UTAMI TAMSIR
Lahir : Blora, Jawa Tengah, 16 Juli 1974
Pendidikan :
- 1980-1986 : SD Negeri 2 Kunduran, Blora
- 1986-1989 : SMP Negeri Ngaringan, Blora
- 1989-1992 : SMA Katolik Wijaya Kusuma, Blora
- 1992 : Akademi Gizi Yogyakarta, tidak menyelesaikan studi, hanya menempuh satu semester, kemudian pindah ke Jakarta dan memulai Karier menyanyi.
Anak-anak :
- Tara Adia Parwidaninggar (20)
- Wihelmina Sistianing Galuh (15)
- Intan Nirmaya (10)
Penghargaan :
- 2013 : Anugerah Musik Indonesia (AMI)
“Pada tahun 2009, saya sebenarnya memutuskan mundur dari dunia hiburan untuk berbisnis barang kebutuhan pokok. Tetapi, terlebih dahulu saya ingin membuat kenangan rekaman langgam Jawa karya Manthous yang ingin saya nyanyikan,” kata Utami.
Namun, rekaman itu malah mengantarkannya mendapatkan penghargaan. Rekaman utami terwujud berkat bantuan rekannya yang juga pencipta lenggam Jawa, Koko Thole. Dari situlah, dia kemudian ditawari menyanyikan beberapa langgam Jawa karya Koko Thole untuk album pengantin Agung.
Tak tahunya, album itu masuk nominasi AMI Award 2012 untuk kategori music keroncong. Utami harus bersaing dengan Waldjinag, Sundari Soekotjo, dan Tuti Maryati. Sundari Soekotjo kemudia ditetapkan sebagai pemenang AMI Award 2012.
“Ketika itu saya panas, mengapa Sundari Soekotjo yang menang, bukan saya? Sundari menyanyikan keroncong, sedangkan saya langgam,” kata Utami.
Utami tertantang untuk membuat album langgam berikutnya untuk disertakan dalam AMI Award 2013. Album kedua Utami berjudul Nggayuh Katresnan. Dan, menang.
Dari sinilah perempuan itu menemukan jalah hidupnya. Ia kembali menekuni dunia Tarik suara, sekaligus mengemban misi melestarikan langgam Jawa yang mulai ditinggalkan generasi muda.
Konser “Langgam untuk Dunia” awal tahun 2015 ini diharapkan berlanjut. Konser disejumlah kota, termasuk di kota kelahirannya, Blora, sedang ia rancang. Bahkan, Utami berkeinginan untuk mementaskan di luar negeri.
Pada pementasan itu, Utami membawakan beberapa langgam Jawa meliputi “Yen ing Tawang,” “Enthit”, “Caping Gunung”, dan “Pengantin Agung”. Beberapa lagu keroncong juga dibawakan, antara lain lagu “Segenggam Harapan”. Keroncong Tanah Air”, “Roda Dunia”, dan “Stambul Baju Biru”.
Menurut Utami, langgam dan keroncong memiliki sedikit perbedaan soal tempo lagu. Keroncong memiliki 28 bar, sedangkan langgam 32 bar. Keroncong dinyanyikan dua kali diawali voorspel, yaitu intro dengan gitar, biola, dan seruling yang bergantian. Adapun langgam terdiri atas 32 bar dan dinyanyikan satu kali di selingi interlude, masuk lagu kembali pada refrain.
Langgam Jenaka
Bagi Utami, menyanyikan langgam Jawa bukanlah sekadar menyanyikan lagu berkarakter khas, tetapi juga melestarikan kisah sejarah tradisi. Seperti langgam “Enthit”, langgam jenaka yang menuturkan kisah Panji Asmara Bangun dan Ragil Kuning, bagian dari cerita klasik asli Jawa yaitu “Cerita Panji”.
“Cerita Panji” merupakan kumpulan cerita bermula pada periode klasik Jawa Abad ke-12 sampai 14 Masehi dari area Kerajaan Jenggala dan Kediri. Kemudian berkembang pada masa keemasan kerajaan Majapahit selain di Jawa, hingga Sumatera, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.
Kumpulan “Cerita Panji” diperkirakan mencapai 300 versi yang menyesuaikan situasi daerah yang mengadopsi menjadi cerita rakyat. “Cerita Panji” menyuguhkan kisah kepahlawanan dan cinta antara Raden Inu kertapati atau Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana.
“Si Enthit itu Panji Asmara Bangun yang menyamar sebagai petani. Ragil kuning itu Galuh Candrakirana, yang curiga kepada si Enthit bukanlah sebagai petani sembarangan karena hasil taninya luar biasa, tidak seperti petani biasanya,” kata Utami.
Langgam “Enthit” menuturkan dialog kejenekaan di antara keduanya. Seperti film-film Holywood. “Cerita Panji” biasanya berakhir gembira. Dengan berbagai konser langgam Jawa yang merobos kelembutan serta keagungan, Utami pun ingin berbagai suatu akhir cerita manusia yang gembira.
Sumber : Kompas, Kamis 19 Maret 2015

