24 Januari 2016.Hal .Martha Tilaar tentang Bisnis Berbasis Kearifan Budaya_Manfaatkan Pengakuan Global atas Produk Herbal. Jawa Pos. 24 Januari 2016.Hal. 1,11

Membicarakan bisnis kecantikan tanah air menjadi tidak lengkap bila tidak menyebut sosok Martha Tilaar. Founder Martha Tilaar grup itu bicara tentang mimpi besar serta keunggulan produk lokal di pasar global.

DARI garasi berukuran 4×6 meter di rumahnya, menteng Jakarta. Martha Tilaar mengawali mimpinya pada awal 1970. Ketika itu dia baru kembali dari mendampingi suami bersekolah di AS

Jangan Jealous pada Kemampuan Orang Lain

Bagian rumah yang di gunakan untuk salon tersebut menjadi awal cita cita besar yang kini mewujud.

“Mimpi besar saya adalah mempercantik perempuan Indonesia dan Asia dengan menggunakan kearifan budaya dan kekayaan alam Indonesia.” Ucapnya ketika di temui di kantor sekaligus pabriknya di kawasan Pulogadung, jakarta , selasa (12/1).

Hari itu istimewa. Sebab merupakan anniversary ke-52 pernikahan Martha dan suami tercinta Prof Dr H.A.R tillar atau yang di kenal dengan sapaan Alex Tilaar, lima tahun mendampingi suami di AS membuat pemikiran Martha terbuka. Mereka sangat kreatif dan melek teknologi. Semua dikerjakan berdasarkan riset. “ nah, saya berfikir, kekayaan alam kita luar biasa. Tanaman herbal kita banyak sekali jenis dan menfaatnya. Kalau dipadukan dengan high technology akan sangat kuat” tutur perempuan kelahiran Kebumen, jawa tengah 4 September 1937.

Dari salon kecil di garasi, bisnis kecantikan Martha mekar tahap demi tahap. Pada tahun 1977 dia mendirikan PT Martina Berto bersama dua mitra usaha. Hingga kemudian , membangun pabrik sendiri di Pulaugadung pada 1981. Produk-produk kosmetik dalam negeri berkualitas tinggi lahir dari kreativitas dan keuletannya.

Ibu empat anak serta nenek delapan cucu itu ingin fokus pada bidang kecantikan. Rantai bisnisnya mulai salon dan spa pabrik kosmetik, sekolah kecantikan hingga distribusi dan packaging. “dari hulu ke hilir tapi semuanya berkaitan dengan kecantikan “ ucapnya.

Perempuan yang tetap ayu pada usia 78 tahun tersebut membeberkan filosofinya dalam berbisnis yaitu, filosofi DJITU. Disiplin , jujur, iman, tekun, dan ulet. “sekarang  “I – nya juga bisa berarti inovasi. Kita harus terus kreatif melahirkan inovasi-inovasi baru agar mampu bersaing, “ucapnya”.

Di tengah-tengah serbuan brand kosmetik luar negeri yang terlihat eksklusif, martha optimis sektor industri kosmetik lokal tak kalah saing. Kuncinya, masyarakat kita harus bangga dengan identitas bangsa, yaitu kearifan budaya dan kekayaan alam sendiri. Tidak semua hal yang berasal dari barat lebih baik daripada hasil tanah air.

Dia menuturkan , justru sebenarnya pembisnis global sudah mengakui keunggulan produk herbal indonesia. Martha mencontohkan ,bahan jenis temu-temuan seperti temulawak,temugiring, dan curcuma (kunyit) diminati belanda,prancis,dan jerman.

Namun, yang sering terjadi , bahan asli indonesia di ekspor dalam bentuk raw material, kemudian di kembangkan di luar negeri sehingga nilai ekonomis nya kecil. “beda apabila sudah di ekstrak, apalagi di proses sesuai good manufacturing practices (GMP), nilainya pasti lebih mahal, petani bisa lebih makmur. Papar Martha. Sebagai negara agraris, lanjut Martha Indonesia seharsunya bisa menjadikan sektor pertanian sebagai kekuatan ekonomi.

Martha juga berbicara tentang masalah standarisasi yang masih menjadi kelemahan produk-produk dalam negeri. Agar mampu bersaing di pasar global, produk harus memiliki standarisasi pengendalian mutu. Pada 1996 pabriknya mendapatkan sertifikat mutu ISO 9001, kemudian pada 2000 meraih           ISO 14001.

Menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA), tantangan yang di hadapi Indonesia makin besar. Terutama kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya MEA, puluhan ribu tenaga kerja terlatih dari luar negeri bisa datang ke tanah air . Kalau tidak siap, SDM akan kalah bersaing. Orang orang asing yang jadi pemimpin pun akan banyak. “ kalau saya jelas tidak rela “ tegasnya.

Martha  menuturkan, potensi SDM Indonesia sangat besar dan harus di motivasi untuk terus belajar. Jangan mudah puas dengan apa yang sudah di capai. Harus terus berfikir what’s next. “ Apa lagi yang bisa kita kerjakan . Jangan jealous pada kemapuan orang lain, tapi what can we do, terus engga boleh berhenti biar tidak ketinggalan , lanjutnya.

Kreativitas pula yang menjadi pasangannya untuk melewati pegangannya untuk melewati krisis. Dia mengingatkan moment krisis ekonomi 1998. Semua sektor bisnis mengalami penurunan . puluhan pabrik di kawasan Pulau Gadung guklung tikar. Bukan martha namanya bila cengeng dan menyerah. Ketika itu dia pergi ke Ranah Minang dan bertanya kepada nenek-nenek penenun. “ warna apa yan paling dominan disini?” Jawabannya merah dan kuning.

“Sepulang dari sana , saya bilang ke insinyur saya untuk membikin cetakan lipstick merah dan gold dalam satu produk,” kenang Martha. Produk yang terinspirasi dari obrolannya dengan perempuan Minang itu mencatat kenaikan penjualan hingga 400 persen. “Jadi saya enggak sampai pihak PHK karyawan, malah banyak yang lembur,”ucapnya. Kini dengan total karyawan sekitar 5 ribu orang , omzet martha tilaar group lebih dari 2 triliun.

Dengan karyawan yang 70 persennya perempuan, martha turut berupaya memberdayakan perempuan Indonesia. Dia membuat martha Tilaar Training Center untuk menghasilkan terapis terapis spa berkualitas. Pelatihan gratis , bahkan peserta mendapatkan uang saku rp.800 ribu per bulan. Nanti , setelah menuntaskan pelatihan mereka mendapatkan tiap cabang Martha Tilaar Salon dan Day Spa.

Sejak beberapa tahun belakangan ini martha mulai menyerahkan bisnis kepada anak anaknya sebagai penerus . Brayn pingkan, wulan, dan kilala. Meski begitu perjuangan martha belum selesai. Dia terus berusaha melestarikan produk herbal tanah air. Kegigihan martha berubah. Pada 2010 Martha berubah. Pada 2010 Martha Tilaar Group menjalin kerja sama untuk membuka progam magister ilmu herbal di universitas indonesia. Sembilan orang dari tim research dan development Martha Tilaar menjadi dosen. Martha pun sesekali memberi kan kelas.

 

JAWA POS 24 JANUARI 2016