Siaga Menolong yang Kena Musibah. Kompas. 5 November 2015.Hal.16

Untung Noor (61) langsung beranjak dari kursi plastic yang diduduki dan naik ke mobil tuanya begitu mendengar kabar ada musibah kebakaran, Senin (14/9) sekitar pukul 10.00. Tiga anaknya bergegas keluar rumah, lalu mendorong mobil untuk menghidupkan mesinnya. Mereka pun meloncat masuk mobil begitu suara mesin meraung-raung.

OLEH JUMARATO YULIANUS

Untung yang memegang kemudian segera memacu kendaraannya sambil menyembunyikan sirene menuju lokasi kebakaran. Tak sampai 10 menit. Untung bersama ketiga anaknya tiba di lokasi kebakaran yang berjalan 4-5 kilometer dari rumahnya.

Mobil  pemadam musibah kebakaran (PMK) milik mereka menjadi yang pertama tiba di lokasi dan segera melakukan penyemprotan untuk memadamkan api yang melalap sebuah rumah warga. Dengan bantuan beberapa kendaraan PMK lainnya, mereka berhasil memadamkan api dalam waktu sekitar 30 menit.

Di kalangan PMK ataupun Barusan Pemadam Kebakaran (BPK) Banjarmasin yang berjumlah 450 menit. Untung yang akrab dipanggil Kai atau Kakek terbilang menonjol. Walau usianya tidak lagu muda serta rambut, kumis, dan jenggot tipisnya sudah memutih, ia selalu menjadi orang yang terdepan dalam menolong orang yang terkena musibah kebakaran dan kecelakaan.

“Niat saya hanya ingin membantu orang yang kena musibah. Saya berusaha secepat mungkin sampai ke lokasi supaya tidak ada korban jiwa dan tidak besar kerugian materialnya, “kata kakek yang memiliki lima cucu ini.

Hasil berjualan

Lebih dari 30 tahun Untung bergelut dengan tugas kemanusiaan untuk menangani berbagai musibah, terutama kebakaran. Ia terjun jadi relawan pemadam kebakaran karena tersebut merengut korban jiwa.

            “Pada 1980-an, ketika saya menjadi tukang ojek, saya menyaksikan kebakaran besar di Jalan Gatot Subroto. Saya merasa  kasihan melihat orang-orang yang rumahnya terbakar dan ingin sekali bisa menolong mereka. Pada waktu itu, unit pemadam kebakaran milik perorangan dan swasta masih sedikit. Dari situlah timbul tekad saya untuk memiliki kendaraan pemadam pemadam kebakaran sendiri, “tuturnya.

Untuk mewujudkan mimpinya memiliki kendaraan pemadam kebakaran, Untung harus menyisihkan sebagian dari penghasilannya bersama istri yang berjualan rokok dan bensin eceran di pinggir jalan, depan kompleks rumah mereka. Seraya menabung untuk itu bapak dari lima putra dan tiga putri ini juga langsung terlibat aktif sebagai anggota pemadam kebakaran.

Akhirnya, pada 2004, untung bisa membeli sebuah sedan tua buatan 1976 seharga Rp. 2,5 juta. Mobil sedan tua itu dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa berjalan, lalu dilengkapi dengan mesin dan peralatan pemadam kebakaran. Mimpi Untung untuk memiliki kendaraan pemadam kebakaran sendiri pun terwujud.

“Tahun 2005, saya mulai ‘perang’ memadamkan api. Saya turun ke lokasi kebakaran bersama anak-anak. Jika ada musibah, jam berapa pun kejadiaannya, kami tetap berangkat,” tuturnya.

Setelah setengah tahun bertempur melawan api yang ganas dengan kendaraan PMK miliknya sendiri, Untung kembali mewujudkan mimpinya memiliki ambulans. Ia kemudian membeli sebuah mobil tua jenis colt diesel untuk dijadikan ambulans ang digunakan khusus untuk mengevakuasi korban jiwa dalam musibah kebarkaran.

Menurut dia, saat terjadi musibah kebakaran, tidak jarang jatuh korban jiwa. “Membawa korban (manusia) dengan menggunakan mobio PMK, saya rasa sangat tidak pantas. Karena itu, saya pun menyiapkan ambulans. Semuanya dibeli dari hasil berjualan,” ucapnya.

Sukarela

            Seiring perjalanan waktu, ambulans miliknya tidak hanya untuk mengevakuasi  korban musibah kebakaran. Saat ini, kendaraan itu juga digunakan untuk membawa orang sakit, ibu yang hendak melahirkan, dan mengevakuasi korban jiwa dalam berbagai musibah, seperti kecelakaan lalu lintas, tanggal tenggelam, dan pembunuhan.

Untuk membawa orang sakit, mengevakuasi korban musibah, dan mengantar jenazah, Untung tidak pernah mematok tarif sewa ambulans. Bahkan, ia kerap meyediakan ambulansnya untuk bebagai keperluan itu secara gratis.

“Tarifnya sukarela saja. Berapa pun diberi, saya terima,” katanya.

Untung menyatakan, jangan ragu untuk menghubunginya jika memerlukan ambulans karena ia siap mengantar ke seluruh wilayah Kalimantan.

“Ambulans saya setidaknya 15 kali mengantar jenazah ke Pontianak, Kalimantan Barat. Kalua ke Palangkaraya, Sampit, dan Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah) serta Balikpapan dan Samarinda (Kalimantan Timur) sudah tidak terhitung lagi,” tuturnya.

Menurut Untung, kendaraan PMK dan ambulans yang dimiliknya memang untuk kegiatan kemanusiaan yang dilakukan dengan sukarela. Untung operasional dan perawatan kendaraan, ia menyisihkan sebagian dari hasilnya berjualan. Selain itu, ia juga kerap menerima bantuan dari para tetangga dan donator, terutama ketika kendaraaannya harus masuk bengkel, “Berkat membantu orang lain, awal 2015, kami mendapat bantuan satu ambulans dari seorang donator di Pangkalan Bun seingga kami pun mempunyai dua ambulan siap pakai, tuturnya.

Kini, kelompok relawan PMK Penjelajh yang dibentuk oleh Untung mempunyai satu mobil pemadam kebakaran dan du ambulans. Anggotanya berjumlah 40 orang.

“Nama PMK Penjelajah diberikan oleh Bapak Yuliansyah, coordinator PMK dan BPK Kota Banjarmasin. Saya dikuluki Kai Penjelajah karena selalu ada di setiap musibah.” Katanya

Bersama anggotanya, akek penjelajah ini memang selalu siap membantu orang yang terkena musibah, termasuk memadamkan kebakaran lahan yang marak terjadi pada musim kemarau.

“Berkat dua orang banyak, sampai sekarang saya masih sehat dan kuat,” kata Untung yang masih bermimpi memiliki mobil tangka untuk memperkuat pasukan PMK-nya.

KOMPAS, KAMIS 5 NOVEMBER 2015