Surabaya, Bhirawa – Tantangan Ilmu Komunikasi dalam era new normal dan dampak perkembangan teknologi metaverse jadi kajian bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Media Bisnis Universitas Ciputra (FIKOM UC). Melalui Konferensi Nasional yang bertajuk Transformation of Communication During Covid-19 Pandemic ini, kajian itu dipaparkan secara hybrid dihadapan 200 peserta yang berasal dari Jatim, Jabar, Jakarta dan Bali.
Menurut Pakar Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Prof Burhan Bungin, ada banyak perdebatan dalam kajian-kajian komunikasi dalam kesiapannya terkait perkembangan teknologi metaverse dan era new normal. Bidang-bidang komunikasi yang ada di dunia terbelah menjadi dua Satu pandangan tentang komunikasi tradisional, diantaranya meliputi jumalism, dan publik realism.
Pandangan kedua, yakni post disiplin yang dikemukakan dalam buku Waisbord. Saat ini, menurut Prof Burhan masyarakat berada di kajian kedua. Di mana komunikasi dimasuki oleh berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sehingga lahir komunikasi pariwisata, komunikasi pendidikan, dan komunikasi hukum.
“Dua pandangan ini yang kemudian membuat komunikasi semakin ramai Semua disiplin ilmu dekat dengan komunikasi. Karena komunikasi selalu dilirik oleh disiplin ilmu lain seperti remaja berusia 17 tahun. Di lain sisi jika terlena dengan komunikasi tradisional masyarakat tidak akan mampu beradaptasi di era teknologi metaverse,” jabarnya.
Pasalnya, lanjut dia, komunikasi tradisional akan meninggalkan kehidupan. Karena dianggap terlalu kuno. Tetapi komunikasi post disiplin menjadi sesuatu tantangan karena tidak hanya satu disiplin ilmu yang pasti.
“Kedepan akademisi harus punya sikap. Kita harus mempelihara dua bidang ini. Agar komunikasi menjadi satu ilmu yg dikembangkan di Indonesia,” katanya. Dijabarkan Prof Burhan, berdasarkan hasil riset, calon maha siswa ingin ilmu komunikasi yang lebih spesifik. Karenanya, ia berharap acara ini bisa mengakomodasi pemikiran ilmu komunikasi kedepan. Paling tidak FIKOM UC ini menjadi gerbong komu nikasi di Indonesia.
Sementara itu, Head of Business Development at PT Arytala Digital Inovasi Prevan, Dimas yang membahas Be adaptive and Creative menuturkan pada tantangan kedepan, media komunikasi seperti sosmed akan tergeser di era metaverse. Sosmed akan lebih spesifik pada penggunaan dan fungsinya.
“Awal 90-an ada radio sampe powerfull, muncul tv. Hingga saat ini radio masih ada dan bertranformasi juga berubah. Dari tv muncul internet. Kalau ada metaverse, sosmed akan tergeser. Jadi akan lebih spesifik fungsi sosmednya. Akan tebagi per segmennya. Menjadi lebih spesifik dan berganti akan seperti itu,” katanya.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UC, Dr Ismojo Herdono menjelas kan, kegiatan konferensi penelitian dan seminar nasional ini merupakan event tahunan FIKOM dimana tahun 2022 ini adalah tahun kedua pelaksanaan Konaikom dalam rangka Dies Natalis ke-5 FIKOM Universitas Ciputra.
“Melalui acara KONAIKOM, mahasiswa dapat menuangkan hasil penelitiannya baik melalui topik yang menyangkut literasi dan kajian media, komunikasi digital, broadcasting media serta etika komunikasi,” ucapnya.
Ditambahkan Ismojo, kegiatan ini juga merupakan wadah bagi anak- anak muda untuk menunjukan prestasinya dalam dunia akademik maupun kreatifitas dalam dunia non akademik. [ina.fen]

