SURABAYA, Jawa Pos – Berlari, berenang, dan bersepeda secara berurutan bagi sebagian orang mungkin terdengar “menyeramkan”. Stigma itulah yang coba dihapus Nadia Soewandito. “Tapi kalau mulai pelan-pelan, sebenarnya triatlon ini olahraga untuk siapa saja,” ucap perempuan yang menekuni triatlon sejak 2017 itu.

Melalui Surabaya Triathlon 2020, Nadia dan tim penyelenggara ingin mengenalkan apa itu triatlon bagi warga Surabaya. “Di sini komunitas kebanyakan ya pelari pesepeda. Yang triatlon sedikit sekali,” ucap alumnus Universitas Ciputra itu.

Nadia menjelaskan tantangan utama menghadapi triatlon sebenarnya adalah membagi waktu untuk berlatih ketiga cabang. Apalagi, masing-masing orang punya keleihan dan kekurangan. “Ada yang jagonya di sepeda atau di lari. Beda-beda.” Jelas event director Surabaya Triathlon 2020 itu.

Saat berlatih, Nadia menegaskan pentingnya warming up, stretching, dan cooling down. Sebab, banyak pemula yang sering melewatkannya. “Terus saat lari, maunya langsung cepat. Memaksa badan,” ucapnya saat ditemui pada konferensi pers Surabaya Triathlon 2020 di Ciputra World Surabaya kemarin (6/3).

Sebenarnya, tak ada waktu pasti seberapa lama warming-up dilakukan. Tiap orang memiliki standar sendiri, bergantung pada kondisi tubuh mereka. Masih kaku atau tidak. “Saya sendiri kalau mau lari, warming up 10 menit. Tapi, renang dan sepeda cukup 5 menit,” paparnya.

Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari cedera saat berlatih. “Banyak cedera yang mungkin terjadi,” sambungnya. Yang paling banyak terjadi biasanya ITB (iliotibial band), hamstring, dan shin splint.

Selain itu, Nadia menekankan pentingnya menambah porsi latihan secara bertahap. Jangan sampai memaksa tubuh dengan jarak yang langsung jauh. Saat mengikuti Surabaya Triathlon 2020 pada Minggu (8/3), peserta akan ditantang menyelesaikan renang sejauh 500 meter, bersepeda 20 kilometer, dan berlari 5 kilometer. (dya/c6/nor)