Sidoarjo, Jawa pos – menatap kabupaten Sidoarjo dengan optimisme. Anak-anak muda adalah figure yang tepat untuk memimpin kota Delta dimasa depan. “anak-anak muda tidak punya pengalaman masa lalu, tetapi memiliki kemampuan melihat masa depan,” ungkap Prof Dr Burhan Bungin BSc SSos MSi PhD.

Guru besar Untag Surabaya asal Waru itu berpendapat, figure yang tepat untuk calon bupati mendatang adalah para anak muda. Sosok inovatif dan berjiwa kepemimpinan menjadi syarat utamanya. Tentu, dengan latar belakang pendidikan yang baik dan akhlak religius.

“kaum milenial itu memiliki keterampilan yang sangat unik,” kata akademikus yang juga dekan Fakultas Ilmu komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra tersebut.

Apa terbosoan yang tepat untuk sidoarjo? Burhan menyatakan, sidoarjo wajib punya branding city yang jelas. Agar pola pembangunan semakin terarah dan berjalan cepat.

Banyak warga sidoarjo yang berharap kota mereka semolek Kota Surabaya. Atau, semolek kabupaten Banyuwangi bekembang pesat. Sukses mengeksplorasi keindahan alamnya.

Burhan yakin kabupaten sidoarjo memiliki semia potensi tersebut. Sangat mungkin kota berpenduduk 2,3 juta jiwa itu mampu menjadi ikon korta tingkat nasional. Sebagai kota satelit, sidoarjo tidak jauh berbeda dari Surabaya. “namun, fakta dilapangan tidak demikian,” ungkap pria 60 tahun itu.

Seharusnya, lanjut penulis buku Komunikasi Pariwisata: Tourism Communication, pemasaran, dan brand destinasi tersebut, semua hal di Sidoarjo mendapatkan perhatian serius. Tentu, menggunakan riset dan kajian yang mendalam. “agar kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran. Tidak justru menyebabkan permasalahan lain,” ungkapnya.

Contoh paling sederhana adalah bagaimana wisatawan mencari oleh-oleh khas Sidoarjo. Padahal, lokasi Kota bandeng itu sangat strategis. “memang ada, namun terpisah. Tidak terkoordinasi dengan baik,” tambah penasihan Aspikom (Asosiasi Pendidikan Komunikasi) Jawa Timur tersebut.

Banyak hal yang luput dari perhatian pemerintah. Sesungguhnya, potensi itu bisa dimaksimalkan untuk kemajuan Kota Delta. Satu hal saja bisa dimaksimalkan akan berdampak pada hal lain. “sector ekonomi mikro akan meningkat, pengunjung akan bertambah, hingga berdampak pada nama besar Sidoarjo,” terangnya.

Fenomena seperti itu pernah terjadi. Saat pembangunan GOR Delta Sidoarjo pada era 2000-an. Pembangunan infrastruktur yang baik diiringi tata kelola ruang dan system pemerintahan. “saat pembangunan GOR Delta, banyak sector lain yang terangkat,” ungkap akademikus yang tinggal di Perumahan Pondok Mutiara sejak 1986 tersebut.

Sumber: Jawa Pos.30 Juli 2019