Simulasikan Cara Mencoblos Lewat Game Pemilu

Jawa Pos.13 Februari 2024. Hal.15

EDUKATIF: Dari kiri, Tania, Stefanus, dan Andy, tim dari Information and Communication Technology Universitas Ciputra, membuat inovasi sosialisasi memilih dalam pemilu yang berbentuk game di kampus UC kemarin (12/2).

SURABAYA – Memiliki mahasiswa yang 100 persen adalah Gen Z membuat Universitas Ciputra (UC) terus berinovasi untuk mengajak anak didiknya menggunakan hak pilih. Salah satunya lewat game pemilu. Game itu dibuat seperti simulasi coblosan secara langsung.

Rektor UC Ir Yohannes Somawiharja MSc menyatakan, di masa pesta demokrasi ini pihaknya sadar bahwa tidak semua orang paham akan politik. Terutama Gen Z yang memang baru berkesempatan memilih presiden tahun ini. “Jadi, kami yang ada di universitas inilah yang bertugas untuk mengedukasi,” terangnya kemarin (12/2).

Namun, menurut Yohannes, GenZ saatinitidak akan tertarik jika diedukasi dengan cara yang konvensional. “Mereka itu sangat dekat dengan digital. Jadi, kami coba lewat game,” tambahnya. Dari sana, tercipta lah game garapan departemen ICT (information and commu- nication technology) universitas tersebut. Gameyang bisa diak- ses secara gratis lewat pemilu. uc.ac.id itu dibuat sederhana, tapi dekat dengan Gen Z.

“Di sini yang paling utama adalah kami menyesuaikan game yang style-nya dekat dengan mereka. Kayak game-game dari Among Us, Minecraft, atau yang model-model minimalis pakai konsep 8-bit atau pixel,” jelas Tania, UI/UX desainer tim ICT tersebut. Setelah konsep terpilih, barulah jalan cerita di game dibuat.

Begitu memasuki website tersebut, pemain langsung bisa mengisi nama untuk mengantre. “Antre inimaksud- nya kayak ke TPS, ngisi nama buat dipanggil untuk ambil kertasnya. Tapi tenang, di game ini data nggak disimpan. Karena kita tetap menjunjung tinggi asas bebas dan rahasia” tambah Andy, application development tim tersebut.

Selayaknya sedang berada di TPS, game tersebut juga menunjukkan hal-hal apa saja yang harus dibawa. Mulai KTP hingga surat undangan untuk memilih. “Nah, saat nama sudah dipanggil, nanti juga dikasih surat suara yang tampilannya kurang lebih mirip dengan yangasli,” sambungnya. Yang menarik, saat seseorang akan golput atau mencoblos tidak sesuai ketentuan, game tersebut memberikan peringatan dan pemberitahuan. Sampai di tahap terakhir, pemain akan mencelupkan jari kelingkingnya ke tinta seperti halnya selesai mencoblos. “Dengan game ini, kami bisa tetap mengedukasi, menambahkan sesuatu yang relevan dan menyenangkan,” tambah Stefanus, head ICT. (ama/c6/may)