Sisi Melankolis Harry Halim dalam Nevermore.

Karya Puitis yang Personal

Jawa Pos. 28 April 2024. Hal. 19

JAKARTA – Desainer Harry Halim menunjukkan sisi dirinya yang lebih kalem dan tenang. Tentu saja, sambil mempertahankan ciri khas desainnya yang nirgender. Beberapa waktu lalu, desainer pendiri House of Harry Halim itu merilis koleksi terbarunya untuk Fall/Winter 2024, Nevermore.

Alih-alih mengadakan fashion show seperti koleksi sebelumnya, Harry memilih konsep pemotretan dan video dalam ruang. Dia menggandeng sejumlah selebriti, influencer, dan penata gaya sebagai modelnya. Saat diwawancarai Jawa Pos Rabu (24/4) sore, Harry mengatakan bahwa waktu yang terbatas dan alasan personal membuatnya tidak menggelar fashion show.

Harry menambahkan, alasan personal itu juga menjadi idenya dalam membuat koleksi Nevermore. “Awal tahun ini benar-benar momen yang cukup complicated buat saya. Ada masalah yang saya alami,” ujar desainer asal Pontianak itu, mengenang kesedihannya.

Di tengah perasaan sedih, Harry lantas membaca puisi The Raven karya Edgar Allan Poe, penyair yang karyanya kerap menjadi inspirasi Harry. Puisi itu menggambarkan rasa sedih dan kehilangan. “Ada kata ‘nevermore‘ dalam puisi itu. Artinya kurang lebih, kita tidak bisa selamanya memiliki orang atau sesuatu yang kita sayangi,” papar Harry.

Kesedihan dan kemurungan yang dirasakan Harry lantas tertuang dalam koleksi serbahitam, warna simbol emosi muram dan berjarak. Hitam juga merupakan warna burung gagak atau raven dalam bahasa Inggris, sesuai dengan judul puisi yang dibaca Harry.

Bahkan, dalam salah satu look, Harrybenar-benar memunculkan burung gagak yang bisa bicara seperti dalam puisi The Raven. Yakni, dalam koleksiyang dipakai aktris Asmara Abigail Gaun itu memiliki dua sisip yang menjulang ke atas bak sayap. Bahan bulu sintetis memberi efek dramatis, namun tetap subtle.

Koleksi Nevermore juga tidak banyak memiliki aksen atau embellishment seperti karya Harry sebelumnya. Tidak adaaksen rumbaiatau bahan berkilau. Harry lebih memilih bahan leather yang polos dan tidak sedramatis koleksinya yang lain.

“Saya kali ini nggak mau terlalu dramatis. Main aman saja dan menekankan pada siluet,” terang alumnus LASALLE Singapore itu, menegaskan bagaimana kesedihan membuatnya enggan membuat koleksi yang ramai.

Harry juga mengolah bahan tweed untuk kali pertama. Ujung bahan itu ditarik sehingga benang-benangnya terlihat. Benang kemudian dipilin sehingga membentuk jalinan utuh mirip tassel. Jalinan itulah yang menjadi aksen di beberapa koleksi. (c18/len)

Kemewahan Subtil dalam Karya Ernesto Abram.

Manipulasi Material untuk Nuansa Angkasa Luar

JAKARTA-Hitam menjadi warna yang paling aman ketika seseorang ingin tampilsimpel namun berkelas. Warna itu tak hanya cocok dipadukan dengan wama apa saja, tapi juga cocok dikenakan hampir diberbagai acara maupun latar. Desainer Ernesto Abram pun memanfaatkan karakteristikwama hitam untuk membuat koleksi berkonsep back to black.

Beberapa waktu lalu, Ernesto berkolaborasi dengan brand perhiasan Passion Jewelry. Agar koleksi perhiasan tampak kontras dan total look terlihat elegan, desainer asal Jakarta itu membuat koleksi serba hitam. “Kebetulan temanya futuristis, terus nama shownya The Extraterrestrial,” ujar Ernesto saat dihubungi Jumat (26/4) siang.

Nuansa angkasa luar atau extraterrestrial sebenarnya cukup terlihat dari dominasi warna hitam. Angkasa Juaryang gelap, misterius, namun indah berkat bintang dan planet tecermin darigaun-gaun hitam karya Ernesto Jika disorot lampu, permukaan busana-busana ready-to-wear itu cukup shiny dan bertekstur berkat pengolahan serta pemilihan bahan yang cermat.

Ernesto enggan menampilkan sesuatu yangklise terkait tema futuristis. Baginya, gaya futuristis tak melulu berkutat dengan wamametalik atau logam. Dia yakin, wama hitam juga bisa sesuai dengan gaya futuristis. “Saya ingin tetap menonjolkan ciri desain Ernesto Abram, yaitu manipulasi fabric atau material,” tambahnya.

Sejumlah material dipilih Ernesto untuk merancang gaun, jumpsuit, serta busana laki-laki. Yakni, organza, jacquard, satin, scuba, tulle, dansutra Semuanya diolah tanpa menambahkan banyak embellishment, melainkan dengan aplikasi teknik Misalnya, lipit, anyaman, laser cut, quilting, dan origami.

Dengan mengandalkan teknik manipulasi material, koleksi ser- bahitam karya Ernesto tidak terlihat datar. Kesan chic sekaligus artsy muncul. Teknik draping pada bagian atas gaun juga membuat busana jadi lebih menarik dan feminin.

Ernesto cenderung menggunakan siluet klasikpada koleksi kali ini. Mirip seperti koleksi-koleksi sebelumnya Namun, justru di situ daya tariknya. Perpaduan siluet klasik dan warna hitam yang timeless memberi kemewahan dan keanggunan yang subtil. Sekaligus mengimbangi koleksi perhiasan Passion Jewelry.

Obi atau sabuk beraksen lasercut juga menjadi bukti keterampilan Ernesto menciptakan fashion item dengan teknologi mutakhir. Obi itu dibuat dari biji plastik. Bahan tersebut diolah secara khusus sehingga bersifat lentur dan bisa pas di pinggang pemakai tanpa membatasi gerakan- nya. Jadi, walaupundikerja- kan dengan teknologi, tampilannya tetap mem- bumi dan nyaman,” jelas Emesto. (c18/len)