Lewat Youtube, Siswanto (37) yang tenar dengan nama Siboen berhasil menyebarkan pengetahuan perbengkelan dan membuat nama desanya terkenal. Ia selanjutnya menjadi guru bagi sejumlah orang desa yang ingin menjadi youtuber.
Di jagat youtuber dengan konten terkait reparasi dan modifikasi sepeda motor, nama Siboen cukup populer. Laki-laki tamatan sekolah dasar itu mampu menyedot 1,2 juta lebih subscriber untuk akun Youtube pertamanya yang ia buat pada 2016.
Video-video tutorialnya ditonton belasan ribu hingga jutaan orang. Belakangan, ia membuat sembilan akun lainnya yang juga menarik banyak subscriber dan penonton.
Dengan 10 akun Youtubenya, Siboen yang awalnya miskin kini hidup makmur. Hebatnya, ia tidak mau hidup makmur sendirian di desanya, Kasegeran, yang termasuk desa termiskin di Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah.
Pada 2018, saya mengajak saudadara, tetangga, dan kawan-kawannya belajar membuat konten. “Saya dulu orang susah. Ketika diberi kemudahan, apa salahnya memudahkan orang lain,” kata Siboen, April lalu, di Kasegeran..
Ratusan warga Kasegeran menyambut tawaran kursus gratis dari Siboen. Belakangan, orang-orang dari luar kota, mulai dari Malang, Semarang, Banjarnegara, hingga Pasaman Barat (Sumatera Barat), menemui Siboen untuk belajar membuat konten.
Dari ratusan murid di desanya, ada sekitar 30 orang yang telah. mentas menjadi youtuber. Mereka terdiri dari pedagang motor bekas, pekerja kantoran, mahasiswa, pekerja serabutan, mantan pekerja migran, dan pedagang cilok. Mereka bisa hidup jauh lebih sejahtera berkat produksi konten tutorial dan seputar kehidupan di desa. Bukan konten prank.
Jatuh bangun
Perjalanan Siboen hingga ke titik sekarang dilalui dengan susah payah. Siboen yang hanya tamatan SD dan tidak punya keterampilan sulit mendapatkan pekerjaan. Orangtuanya yang cemas meminta Saifuddin, Kepala Desa Kasegeran saat itu, mencarikan solusi.
Kebetulan tahun 2000 ada program pelatihan di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Antasena di Magelang, Jawa Tengah. “Siboen bukan anak nakal, melainkan karena adanya program itu, ya saya ikutkan dia kepelatihan,” ujar Saifuddin yang ditemui Kompas secara terpisah.
Singkat cerita, Siboen belajar mekanik (perbengkelan). Dalam pelatihan itu, ia meraih peringkat pertama dari 335 siswa sehingga ditawari pekerjaan di sebuah pabrik sepeda motor asal Jepang. Namun, ia menolak tawaran itu karena ingin membuka bengkel.
Ia memilih pergi ke Yogyakarta untuk magang ke sejumlah montir terbaik. “Waktu itu montir sepeda motor terbaik ada di Yogyakarta. Saya belajar di bengkel mereka. Tidak dibayar. Diberi makan sekali saja pada siang hari,” katanya.
Oleh karena belum punya penghasilan, ia tidur di terminal dan ikut-ikutan menjadi pengamen agar bisa makan. Setelah setahun menimba ilmu, dia pulang ke desa membuka bengkel pada 2004. Namun, bengkelnya sepi pengunjung. “Dalam empat bulan, hanya beberapa kali ada orang yang menambal ban. Yang servis motor hanya satu orang.” katanya.
Ia berupaya mencari uang dengan menjadi mekanik pengatur mesin motor balap pada aksi balapan liar di desanya. Namun, ia segera berhenti setelah jokinya tewas di atas motor yang ia setel karena menabrak truk.
“Baru mulai, terdengar suara braak!, lalu sepi sekali. Orang lari. Saya pangku joki saya, lalu jenazahnya saya bawa pulang ke rumahnya,” kata Siboen sambil mengusap air matanya. Wajahnya muram mengenang peristiwa itu.
Setelah itu, hidup Siboen ma kin terpuruk. Ia melamar kerja ke mana-mana tidak ada hasil. Ia coba menjadi buruh tani dan kuli bangunan, tetapi tidak selalu ada pekerjaan. Dalam keadaan bingung, nekat ke Jakarta menjadi tukang las. Baru tiga pekan bekerja, nyawanya nyaris melayang karena tersengat listrik. Ia akhirnya pulang kampung.
Bermodal pinjaman uang dari bank dengan jaminan surat tanah mertua, Siboen membuka bengkel lagi pada 2007. Usahanya berjalan baik di awal, tetapi kemudian kalah bersaing. Saat nyaris putus asa, ia melihat di televisi tentang youtuber berpendapatan ratusan juta rupiah. Ia lantas berpikir mengapa tidak mencoba menjadi youtuber?
Dengan telepon bekas bermemori kecil, ia belajar menjadi youtuber secara otodidak. Konten awalnya soal humor dalam bahasa Banyumas tidak laku. Ia beralih membuat konten tutorial reparasi sepeda motor. Ternyata konten ini banyak penggemarnya. Dalam empat bulan pertama mencapai 11.000 subscriber.
Lantas ia mendapat kabar dari Youtube soal pembayaran atas kontennya. Hati Siboen berbunga-bunga. Hampir setiap hari ia mengecek rekeningnya di ATM. Bahkan, ia sampai tidur di dekat mesin ATM di Cilongok. Akhirnya, “gaji” pertama itu cair juga pada September 2017 sebesar Rp 1,8 juta. “Saya senang sekali,” katanya.
Seiring waktu penghasilannya meroket menembus angka ratusan juta rupiah. Ia mulai memikirkan cara membantu warga desa Kasegeran yang merupakan desa termiskin di Cilongok. Bersama youtuber lain di desanya, ia menyalurkan sejumlah bahan pokok kepada keluarga tak mampu, mengisi kebutuhan rumah ibadah, dan merehabilitasi rumah yang tak layak huni.
Ia membangun tempat wisata bernama K-Boen agar ada lapang an kerja untuk warga desa. Siboen yang kini menjadi Ketua Badan Usaha Milik Wiragemi Desa Kasegeran berencana mengembangkan K-Boen dengan membuat kolam ciblon (main air) dan tempat memancing.
Ia juga berupaya memperluas cakupan internet desanya. Ia menargetkan tiap rumah warga ada Wi-Fi. “Saya ingin memperkuat mutu sumber daya manusia Desa Kasegeran,” kata Siboen.
Bagi dia, hal itu penting agar kehidupan warga Kasegeran bisa segera sejajar dengan warga di desa lain.
Sumber: Kompas. 3 Juni 2021. Hal.16

