Rezeki dari Sampah Daun Kering. Kompas.15 Agustus 2015.Hal.16

Penulis : Agnes Swetta Pandia

Sudah 19 tahun usaha kerajinan tangan memanfaatkan sampah daun kering digelutinya. Setiap bulan, tak kurang dari 2.000 produk, terutama kotak abu jenazah berbagai model dan ukuran, bahkan meti mati, meluncur rutin ke inggris dan Belanda setelah dihiasi dengan lukisan dari beragam jenis daun kering.

Kebutuhan akan daun kering berbatang kayu, kata Siti Retnani (57), perajin sekaligus pemilik Bengkel Kriya Daun 9996 Surabaya, makin banyak. Tak kurang dari empat karung daun kering setiap hari dipasok dari pengepul di Surabaya, Sidoarjo, hingga Jember. Produk yang dilapisi daun kering antara lain lukisan, vas bunga, kap lampu, tempat tisu, tempat perhiasan, kipas, bros kotak tempat abu jenazah, dan peti mati.

Menurut Nanik, begitu sapaan ibu tiga anak ini, usaha kerajinan daun kering dirintis almarhum suaminya, Heri Dasar, pada September 1996. “Awalnya, ketika suami sibuk mengolah daun kering, saya sempat urin-uringan, rumah berantakan karena dipenuhi daun kering dan peralatan. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya malah lebih serius menekuni usaha yang melibatkan ibu rumah tangga dan mahasiswa ini karena pesanan dari luar negeri makin rutin,” katanya.

Kini, di tengah kerepotannya mengawasi 40 perajin untuk menggarap pesanan, Nanik masih menyempatkan waktu memberikan pelatihan bagi pelaku usaha kecil, dan melayani rombongan dari sejumlah daerah di Nusantara yang datang ke bengkel usahanya di Jalan Ngagel Mulyo.

Peraih penghargaan Pahlawan Ekonomi di Surabaya dan Ibu Kreatif dari Asosiasi Pengusaha Daerah dan UMKM ini memang gencar ikut pameran untuk mempromosikan hasil karya mengolah sampah jadi uang. Promosi juga dilakukan melalui situs internet sejak 2004.

Sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Surabaya, dia pun tak bisa hanya sibuk mengurus usaha, tetapi juga membagi ilmu kepada calon pelaku usaha bari hingga luar kota. “Saya senang, apa yang dibagikan kepada peserta pelatihan bisa diserap dan menghasilkan produk berkualitas,” kata Nanik yang menjalankan bisnis dengan mengedepankan kualitas produk terjamin dan tepat waktu.

 Bukan pesaing

Kini, banyak perajin daun kering membuat berbagai produk yang sama. “Mereka bukan pesaing karena setiap orang pasti memiliki keunggulan dan kekhasan. Justru kehadiran pemain baru itu menjadi kekuatan karena berapa pun pesanan, siap digarap bersama dengan saling berbagi tugas,” ucap Nanik saat ditemui sedang menjadi juri pahlawan ekonomi Surabaya di Taman Jangkar Surabaya.

Sekarang, tidak hanya perajin daun kering yang tumbuh, pencari daun kering pun berlomba memasok bahan baku. Dia pun menjalin kerja sama denga pasukan kuning Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya. Mereka rutin mengirimkan daun kering dan dihargai Rp 1.000 per kilogram.

Produk yang dibuat pun makin bermacam-macam, seperti pensil, pulpen, dan tempat gawai. Kian beragam produk yang muncul di pasaran ternyata menumbuhkan kreativitas perajin. Apalagi beberapa perusahaan memesan kotak untuk tempat kopi, the, atau untuk suvenir, termasuk untuk acara pernikahan, sunata, dan ritual lain.

Beberapa hotel juga rutin memesan kerajinan daun kering, seperti untuk wadah tempat menu, tatakan gelas, tempat tisu, dan kebutuhan interior lain.

“Pekerjaan membuat berbagai produk menggunakan daun kering butuh ketelatenan, apalagi tidak semua jenis daun bisa diolah menjadi kerajinan berkualitas ekspor,” kata Nanik yang membuat produk perdana berupa kartu ucapan dari daun kering. Produknya dihargai Rp 5.000 hingga lukisan daun kering seharga Rp 5 juta.

Kegigihan Nanik mengembangkan usaha kerajinan tangan ini tak pernah surut, terutama setelah suaminya meninggal pada 2005. “Pesanan kotak untuk tempat abu jenazah manusia dan hewan makin banyak, terutama dari Inggris. Paling tidak 1.500 kotak per bulan,” katanya.

Untuk menjalankan usahanya, Nanik juga dibantu ketiga anaknya dengan tugas masing-masing terkait manajemen, pemasaran, dan pengawasan mutu produk.

Usahanya memang tidak selalu berjalan mulus. Beberapa peristiwa dunia sempat mengguncang usahanya, yaitu rentetan penabrakan pesawat terbang ke World Trade Center, New York, pada 2001; ledakan bom Bali Oktober 2002; serangan Amerika Serikat ke Irak; dan mewabahnya sindrom pernapasan akut parah pada 2003.

Ketika itu, omzet usaha Nanik turun drastis hingga 70 persen dari rata-rata 3.000-4.000 kotak yang diproduksi setiap dua bulan. Namun, sekarang dia sering kesulitan memenuhi order, terutama dari dalam negeri untuk suvenir pernikahan karena minimnya tenaga perajin. Pesanan dari Inggris dan Belanda pun makin beragam model serta bertambah jumlahnya.

Kendati usaha berkembang, Nanik tetap menjadikan rumah tinggalnya sekaligus sebagai bengkel kerja. Di situ juga menjadi tempat pelatihan berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, terutama menyangkut pemrosesan daun kering menjadi kerajinan tangan. Kehadiran mahasiswa, pelajar, pejabat, ataupun rombongan ibu-ibu PKK dari sejumlah daerah di Nusantara seperti dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, telah memaksa Nanik menjadi instruktur.

Hampir setiap hari ada saja rombongan dari luar daerah yang datang. Agar tamu nyaman, Nanik pun memasang tenda di depan rumah untuk memeragakan proses pengolahan daun kering. “Saya terbuka dalam membagi keterampilan agar daun tak dibuang begitu saja, tetapi bisa mendatangkan uang,” katanya.

Peminatnya, kata perempuan berkerudung ini, bertambah karena usaha mengolah daun kering menjadi produk bernilai mudah dijalankan. Tanpa bahan impor dan paling penting tidak merusak lingkungan karena yang digunakan limbah daun kering.

Bahan bakunya mudah didapat dan tidak butuh biaya besar untuk mengolah, harus telaten dan kreatif agar produk bisa mengikuti selera pasar. Menggeluti usaha kerajina daun kering mudah dan murah, tetapi hasilnya berlimpah. Hasilnya pun tak hanya dinikmati perajin, tetapi juga pemungut sampah.

Sumber : Kompas Sabtu 15 Agustus 2015