Social Network dalam Investasi di Pasar Modal. Kontan. 19 September 2017. Hal.16 001-page-001

Oleh Wellson Lo.

(Anggota Asosiasi FinTech Indonesia , CEO dan Co-Founder of Stockbit)

 

Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara , namun memiliki tingkat hibernasi keuangan yang masih rendah . Hanya 32% dari jumlah penduduk dewasa di Indonesia yang melek finansial , bahkan dari negara-negara di Afrika seperti Zimbabwe atau Uganda .

Tingkat literasi keuangan yang rendah ini juga tercermin dari rendahnya partisipasi penduduk  Indonesia yang berinvestasi di pasar modal . Saat ini jumlah investor di pasar modal Indonesia hanya sekitar 500.000 orang atau kurang dari 0,3% penduduk dewasa .

Sementara di satu sisi , investasi merupakan salah satu faktor utama yang dapat menunjang masyarakat mencapai tujuan keuangan , khususnya dalam milestones penting kehidupan mereka . Misal mempersiapkan pernikahan , membeli rumah pertama , mencadangkan dana untuk hal-hal yang tak terduga seperti sakit atau perawatan , pensiun hingga berinvestasi untuk mencukupi kebutuhan anak di masa depan , baik untuk pendidikan maupun untuk kesehatan anak-anak mereka . Perencanaan keuangan yang bijak , didukung informasi  yang memadai untuk membuat keputusan keuangan , sangat esensial demi tercapainya tujuan keuangan keluarga dan masyarakat secara lebih luas .

Pemerintah , melalui Otoritas Jasa Keuangan  , Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia telah mencanangkan dan memulai program edukasi dan sosialisasi “Yuk Nabung Saham” yang bertujuan menggalakkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal .

Berinvestasi di pasar modal merupakan pilihan terbaik jika dibandingkan dengan produk investasi lain , jika dilihat dari resiko potensi  keuntungan dan likuiditas . Sebagai contoh , ketika berinvestasi di bidang properti , dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menjual property senilai Rp 800 juta , sedangkan menjual saham blue chip dengan nilai sama di pasar modal dapat dilakukan dengan hitungan menit .

Dengan potensi keuntungan investasi yang jauh lebih baik dibandingkan deposito atau emas dengan ketersediaan likuiditas yang jauh lebih tinggi dibandingkan investasi property, seharusnya berinvestasi di pasar modal menjadi pilihan utama bagi semua orang. Namun mengapa kita tidak melihat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal secara signifikan ?

 

 

Ketersediaan Informasi

Pertanyaan yang selalu timbul setelah mendengar ajakan berinvestasi di pasar saham adalah “saham yang mana?” . Sebelum memilih saham suatu perusahaan untuk dibeli , seseorang akan mengumpulkan informasi yang terkait dengan saham tersebut dan informasi mengenai keadaan ekonomi negara pada umumnya . Sayangnya , akses mendapatkan informasi ini tidak tersedia secara merata bagi semua orang . Hal ini membuat masyarakat menjadi ragu berinvestasi di pasar saham , dengan persepsi bahwa berinvestasi saham di pasar modal hanya sesuai untuk sekelompok orang  dengan pengetahuan dan akses memadai terhadap informasi tersebut , yang umumnya disediakan oleh pialang saham.

Layanan teknologi di industry keuangan hadir untuk memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan transaksi keuangan , termasuk untuk membuka akses politik terhadap potensi pasar modal. Melalui teknologi social network seperti yang disediakan Stockbit , akses terhadap informasi pasar modal menjadi merata dan terbuka untuk siapa saja . Para pengguna memiliki kesempatan memperoleh informasi lengkap seperti berita , data financial dan laporan keterbukaan informasi oleh perusahaan ke bursa efek .

Selain itu investor dapat terhubung dan berinteraksi satu sama lain dengan mudah dan gratis layaknya media social pada umumnya . Para investor pun dapat berbagi informasi , pengalaman dan tips-tips berinvestasi melalui platform social network semacam ini . Investor pun dapat berkomunikasi dengan investor relations dari perusahaan terbuka yang telah bergabung yang telah bergabung dalam platform social network tersebut untuk mendapatkan informasi langsung terkait saham dari perusahaan terkait .

Lebih jauh , investor dapat melakukan analisa fundamental dan teknikal dengan menggunakan peralatan yang tersedia . Pada stockbit , terdapat pula screener saham dimana investor dapat melakukan penyaringan (filtering) sesuai dengan kriteria masing-masing , atau mengikuti cara investor ternama dunia seperti Warren Buffett , Peter Lynch , Greenblatt Magic Formula , dan lainnya , disamping mengambil manfaat dari berbagai hasil analisis broker dari seluruh dunia yang turut bergabung dalam platform ini.

Tersedianya teknologi social netwok dapat membantu calon investor dalam perjalanan berinvestasi mereka dari awal hingga seterusnya . Inovasi ini juga diharapkan mendukung program pemerintah untuk meningkatkan jumlah investor pasar modal , sehingga pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara berkelanjutan .

 

Sumber : Kontan , 19 September 2017 . Hal 16