BANJARMASIN, BPOST – Lima tokoh pengisi kemerdekaan Indonesia telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2022. Mereka adalah Dr dr HR Soeharto, KGPAA Paku Alam VIII. dr R Rubini Natawisastra, H Salahuddin bin Talabuddin, dan KH Ahmad Sanusi.

Di Kalimantan Selatan (Kalsel) juga telah ada empat pejuang yang diakui sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Pangeran Antasari. Brigjen Hasan Basri, Dr KH Idham Chalid. dan Ir Pangeran H. Mohammad Noor.

Selain itu Kalsel hingga saat ini juga telah mengusulkan Pangeran Hidayatul lah dan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Di luar kedua nama yang masih terus diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional, ternyata ada juga sosok yang belum banyak dikenal, namun memiliki kiprah terlibat dalam perjuangan kemerdekaaan. Dia adalah Liem Koen Hian, tokoh Tionghoa kelahiran Banjarmasin pada 3 November 1896.

Anak dari pengusaha Liem Ke An yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, namun tak selesai ini dikenal sebagai seorang jurnalis peranakan yang nasionalis. Di sela kariernya sebagai wartawanlah, Liem Swie meninggalkan nasionalisme Tionghoa dan mengadopsi nasionalisme Indonesia sejak era 1920-an.

Pada masa mencapai kemerdekaan Jem bahkan di tunjuk oleh Soekarno-Hatta sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha usaha Kemerdekaan Indone sia (BPUPKI). Termasuk juga dalam perundingan Renville, Liem mewakili delegasi Indo nesia pada 1947.

Dalam sebuah webinar kuliah umum Universitas Ciputra yang dilaksanakan Kamis (3/11) lalu, ada be berapa hal menarik terung kap. Mengangkat tema Tra gedi Sejarah Indonesia atau Bapak Bangsa? Dua nara sumber yang juga sejarawan seperti Didi Kwartanada dan Guru Besar Sejarah di UGM, Prof Bambang Purwanto membeberkan balrwa sebe lum Sumpah Pemuda, Liem sudah gencar menyuarakan agar orang Tionghoa mendukung apa yang kemudian di namakan Indonesia. “Pada hal, saat itu Indonesia ada lah entitas yang belum jelas, Pilihan orang (Tionghoa red) saat itu hanya ada dua yakni pro-Tiongkok atau Belanda, Saat Indonesia masih samar, orang ini sejak 1925 sudah menyuarakan supaya orang Tionghoa mendukung kemerdekaan.” ujar Didi.

Kecintaan Liem Koen Hian kepada Indonesia ini. lanjutnya, dibuktikan dengan adanya ucapan dari Dr Tjiptomangunkusumo. “Dr Tjiptomangunkusumo me nyebut beliau sebagai orang Indonesia tanpa pect. Dan itu tentunya menunjukkan pengakuan beliau kepada sosok ini,” katanya.

Sementara Prof Bambang membeberkan balres Liem Koen Hian memiliki peran sentral saat bergulirnya sidang BPUPKI Pasalnya di antara Anggota BPUPKI yang jumlahnya mencapai 60 orang nama Liem Koen Han yang mewakili penduduk Tionghoa menjadi satu satunya yang narnya diselaut berkali-kali oleh Sockarna dalam pidatonya I Juni 1945 “Pasti ada rekam je jak penting yang ditorehkan olehnya sebelum dia men jadi anggota BPUPKI dan aktivitasnya selama sidang berlangsung hingga menja di salah satu figur sentral dalam salah satu tonggak penting proses menuju Indonesia merdeka. Ada yang mengatakan 4 sampai 5 kali namanya disebut,” katanya Dibeberkan Prof Bambang, Liem Koen Hian pada masa mudanya pernah be kerja di perusahaan minyak di Balikpapan, kemudian dia meniti karier jurnalistik baik sebagai wartawan maupun penulis.

Kemudian pada usia sekitar 21 tahun. Liem Koen Hian menjadi redaktur di Sinar Sumatra di Padang hingga akhir 1921. dan di percaya menjadi Pimpinan Redaksi di Pewarta Soera baia yang merupakan koran lain milik kelompok pera nakan yang juga mendu- kung gerakan nasionalisme Selanjutnya Liem Koen Hian menangani Soera Republik sampai 1929.

Nama Liem Koen Hian pun disebut-sebut sebagai mentor dari Abdul Rahman (AR) Baswedan ketika bertemu di media bernama Sin Tit Po. AR Baswedan (1908-1986) dikenal mendirikan Persatu an Arab Indonesia kemudian berubah menjadi Partai Arab Indonesia (PAI) pada 1936.

Liem Koen Hian sendiri diketahui meninggal 4 November 1952 di Medan, dan kuburannya pun tidak bisa ditemukan lagi. Pasalnya ka wasan yang dahulunya merupakan menjadi area pemakaman jasad Liem Koen Hian sudah berubah menjadi ruko.

Mengenai sosok Liem Koen Hian. Kasi Kepahlawanan dan Kesetiakawanan Dinas Sosial Provinsi Kalsel, Teddy menyebutkan masih cukup asing di kalangan Dinas Sosial Kalsel karena memang penggodokan calon pahlawan ada di DHD 45. “Jadi DHD 45 yang menggodok, kita hanya memberi rekomendasi ke kementerian,” ujarnya.

Pahlawan nasional sendiri jelas Teddy adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia (WNI) atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi NKRI yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara. atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Terkait sejumlah syarat. dan bukti sejarah yang pernah dimiliki Liem Koen Hian, ujar Teddy, mereka juga masih belum memiliki. (rii/ran)