Sosialisasi Digitalisasi UMKM dengan Universitas

Jawa Pos. 8 Februari 2024

Di setiap kecamatan, kami punya pendampingan. Mereka yang lebih dekat dengan UMKM menjaring untuk mengetahui para pelaku butuhnya apa. Salah satunya digitalisasi. Lalu keluhannya seperti apa.

Kemampuan digital dalam mengolah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) oleh para pelaku UMKM di Surabaya dianggap masih sangat rendah. Meski pada era pandemi banyak pihak yang beralih dari penjualan offline ke online, kini saat pendemi berakhir, para pelaku usaha kembali ke kebiasaan lalu mereka.

Hal itu dijelaskan Aria Ganna Heryanto, salah seorang speaker dalam diskusi publik Membangun Kemampuan Digital UMK yang Berdaya Saing dan Inklusif di Daerah yang digelar di Universitas Ciputra (UC) kemarin (7/2). Diskusi itu merupakan salah satu agenda setelah pihaknya bersama berbagai lembaga melakukan studi pertumbuhan UMKM. Khususnya kemampuan digitalisasi dalam mengembangkan UMKM.

“Hasil yang kami temukan setelah survei hingga pelatihan digital marketing, orientasi orang-orang untuk melakukan kegiatan UMKM secara offline itu kembali lagi setelah keadaan normal pasca pandemi,” ungkapnya.

Hal itu karena para pelaku UMKM di Surabaya dirasa cepat puas dengan hasil. Selain itu, kultur masyarakat Surabaya lebih suka melakukan transaksi dengan konsep tatap muka jadi salah satu faktor menurunnya minat di dunia digital.

“Padahal harapan kami, mereka bisa lebih open minded, terus berjuang, dan mengikuti perkembangan zaman agar bisa terus maju,” sambung Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro Dinkopdag Kota Surabaya Farida Fitrianing Arum. Dari sana, Pemkot Surabaya terus bertekad memberi pendampingan bagi para pelaku UMKM. Pihaknya pun menggandeng teman-teman kampus untuk membantu. (ama/c18/may)