PRESIDEN Jokowi pada Senin (24/4) mengimbau aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI/Polri, karyawan BUMN, dan pegawai swastra untuk mengundur atau menunda jadwal perjalanan balik ke Jakarta menjadi seteah 26 April. Imbauan itu untuk memecah kemacetan lalu lintas arus balik di tol trans-Jawa maupun tol Jakarta. Secara teknis dapat dilakukan melalui cuti tambahan, cuti lainnya, work from home, atau work from anywhere.
Momentum penundaan harus balik ke Jakarta juga terkait dengan target pergerakan 1,4 miliar wisatawan Nusantara selama 2023 yang dikemas dalam tema Bangga Berwisata di Indonesia” Country branding. “Wonderful Indonesia” memiliki atribut wonderful people wonderful culture, wonderful destination, dan wonderful investment. Pada momentum liburan Lebaran, branding tersebut memberikan inspirasi, motivasi, dan daya ungkit bagi warga bangsa untuk ikut memiliki dan menjadikan pilihan berwisata di dalam negeri sebagai priortas utama.
Liburan Lebaran menjadi momentum ke bangkitan pariwisata danperan wisatawan domestik bagi kesejahteraan masyarakat. Berbagai destinasi wisata berlomba menarik kunjungan wisatawan. Mereka menawarkan aneka daya tankdan memperpanjang jam operasional, banyak hotel yang full book, berbagai produk makanan dan suvenir pun terjual sold-out. Di antara meningkatnya transaksi dan peredaran uang, momentum liburan menumbuhkan idealisme kemanusiaan yang melekat pada matarantai industri pariwisata.
Deklarasi Manila atahun 1980 salah satunya menyatakan bahwa pariwisata tidak boleh lagi mengabaikan permasalahan sosial. Tak berhenti di situ, desakan kepariwisataan yang beretika diikuti Deklarasi Rio de Janeiro tahun 1992. Akhirnya pada 1992, PBB menelurkan KodeEtik Pariwisata Dunia. Sejak itu konsep dasar berwisata tidak lagi sekadar mengisi waktu luang dan membuang uang, Kode etik mengarahkan pengeluaran(spend of money) dan lama tinggal (length of stay)agartdak hanya mengorientasikan kegiatan berwisata pada ranah leisure and pleasure. Sebaliknya, jika diterjemahkan sederhana, wisatawan diarahkan untuk berinteraksi dengan kebudayaan lokal di tanah air, baik itu melalui kunjungan ke museum, ke desa-desa wisata, merasakan sensasi bersentuhan langsung dengan kesenian dan kebudayaan lokaldi Indonesia, menikmati lezatnya kuliner Indonesia, heritage.
Wisatawan Kawan bagi Sesama
Interaksi antara wisatawan dan penduduk lokal menjadi ruang untuk berempati dan berbagi. Di antara pekerja pariwisata level terbawah adalah pengayuh becak wisata. Di beberapa daerah wisata, kehadiran mereka menjadi daya tarik, yangsepadan dengan moda transportasi lokal/tradisional lain seperti andong.
Buku berjudul Waton Urip karangan GP Sindhunata, SJ (2005), meninggalkan pesan tukang becak di Jogja bukan berarti “asal hidup”, tetapi” hidup tanpa memberontak terhadap hidup”. Di tengah kehidupan keras dan berkekurangan, ternyata tukang becak Jogja mampu mentransendensikan kesulitan hidup dan meloloskan diri dari kekejaman dunia. Para tukang becak itu berani hidup tanpa memberontak pada kehidupan. Strateginya adalah memaksimalkan kekuatan-kekuatan unik seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, pengendalian diri, dan rendah hati Inilah hrupanya yang mampu membuat tukang becak Jogja meloloskan diri dari kekejaman dunia. Refleksi filosofis itu memiliki relevansi dengan realitas saat ini.
Kita bisa menduga, meski hidup secukupaya dan tak mengelakkan dari biaya hidup yang melambung tinggi, tukang becak Jogja mensyukuri hidup dengan mengapresiasi seni. Kerap kali apresiasi seni diidentikkan hanya bisa dilakukan oleh elite. Namun, di Jogja tidak demikian. Becak-becak disana, seperti divisualisasikan dalam bulu Waton Urip, tampak artistik. Banyak lukisan atau gambar yang mempercantik bodi becak, merupakan refleksi dari empunya
Tak hanya tampak superfisial, apresiasi seni juga mewarnai laku hidup mereka. Kita tentu lebih appreciate dengan orang yang tidak mengeluh dan tampak ceria meski memendam banyak masalah. Sebab, orang tersebut menyebarkan energi positif. Dbandingkan orang yang menggerutu, mudah marah, dan mudah tersinggung. Persis seperti itulah, dasarseni yange cukup kuat mendarat di kalangan tukang becak di Jogja membuat wisatawan senang mendapat layanan yangramah, jujur, dan helpfull dari mereka.
Andaikan tukang becak itu punya filsafat,itu adalah banyu mili, Rezcki tukang becak seperti mbanyu mili. Kendati tidak beser, rezeki mereka selalu mengalir. Memang mili sendiri berarti terus mengalir, walau tidak deras, seperti sungai kecil, yang kendati sedikit, airnya tiada henti mengali. Berdampingan dengan mbanyu mili, adalah ilmu waton urip. Jangan disalah sangka, seakan waton urip adalah asal hidup atau hidup semaunya. Waton urip adalah berani hidup tanpa memberontak terhadap hidup. Apa yang diberikan hidup, diterima. Apa yang tidak diberikan hidup, jangan diminta (hal 25). Dengan semangat mbanyu mili, sekiranya rezeki mengalir pada momentum liburan Lebaran dari wisatawan domestik.
Pergerakan wisatawan domestik di dalam negeri juga meniscayakan perjumpaan di tengah keberagaman. Pariwisata merupakan sarana atau katalisator untuk membangun pemahaman, mendorong inklusi sosial, dan meningkatkan kelayakan standar hidup. Karena itu,dalam setiap perjalanan wisata, wisatawan membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.
Dalam bahasan filsafat, aktivitas berwisata menerapkan kaidah eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: manusia adalah kawan bagi sesamanya, kawan yang membantu menjadi makin manusiawi, kawan yang saling mendukung dan menumbuhkan kehidupan.Sosialitas manusia wisatawan ini sebagai koreksi dan krtik terhadap sosialitas yang saling memakan, yang saling membenci, sebuah sosialitas homo horini lupus: manusia adalah serigala bagi sesamanya.Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah.(“)
*)Dosen Hotel & Tourism
Business Fakultas Parwisata
Universitas Ciputra
Surabaya

