SRENGGANAN juga menjadi pusat perniagaan. Tampak depan, tepat di pinggir jalan besar bangunan bertipe besar dan bertingkat digunakan untuk perniagaan.
Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, kawasan Srengganan memiliki model bangunan yang lebih cenderung untuk perniagaan. Terutama yang ada di tepi jalan. “Iya jarang yang murni untuk tempat tinggal. Aty Jadi melihat model bangunan di tepi jalan lebih cenderung dijadikan ruko dan rumah kantor (perniagaan),” katanya kepada Radar Surabaya.
Digunakan sebagai kawasan perniagaan terlebih dahulu ditegaskan dengan tumbuhnya. cabang-cabang perusahaan dagang dan bank-bank di Surabaya akibat dari Undang Undang gula dan undang Undang Agraria sejakntahun 1870.
“Maka pertumbuhan ini terutama terasa sekali pada penduduk Eropa. Karena penduduk Eropa sebagai penguasa dan penentu kebijakan kota,” jelasnya.
Selain itu, menurut Pusta kawan asal Universitas Ciputra dalam buku perkembangan kota Surabaya ditahun 1870 hingga 1940, banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko. Mereka berlomba lomba membeli tanah baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat persimpangan jalan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa.
Dari pertumbuhan itulah banyak sekali urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagai nya. “Disamping orang Eropa dan pribumi, orang-orang asal Tiongkok juga golongan ketiga yang penting di Surabaya saat itu. Jika merujuk pada referensi buku perkembangan Kota Surabaya,” jelasnya.
Sumber: Radar Surabaya. 28 Juli 2021. Hal. 3

