KAWASAN Srengganan memiliki model bangunan yang lebih cocok untuk perniaagaan. Terutama yang ada ditepi jalan, karena lokasinya berdekatan dengan sungai. Sehingga sangat dimungkinkan menjadi lalu lintas perdagangan.
Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika menuturkan, sungai tersebut menjadi lalu lintas kapal kapal dari Eropa untuk mengirim dagangannya ke Surabaya. “Kalau yang Kalimas itu kapal-kapal dari Eropa, selain dari itu juga untuk jalur kapal pribumi (lokal) ke Pecinan,” katanya.
Lanjut Chrisyandi, pengaruh dagang tersebut karena di kawasan tersebut juga terdapat kawasan Srengganan, sehingga mengikuti perkembangan yang ada di wilayah tersebut. Kawasan itu menjadi ramai karena banyak kapal yang bersandar dari sungai Kalimas, termasuk orang-orang Eropa dulu banyak bermukim dikawasan tersebut sehingga suku dan etnis bercampur menjadi satu.
Chrisyandi menjelaskan, tanah-tanah di masa kolonial hukumnya masih berat sebelah, karena banyaknya suku etnis yang bermukim di kawasan tersebut sehingga lambat laun warga Eropa berpindah ke arah timur. “Jadi mereka warga Eropa akhirnya kedesak pindah di sisi timur, yakni di Pegirian hingga Srengganan,” jelasnya.
Lanjut Chrisyandi, warga Eropa juga berpindah ke kawasan Kapasan dan Srengganan. Karena semakin banyaknya pendatang dari bangsa Arab, sehingga kam pung-kampung di sana terkelompokkan. “Kalau melihat dari kampung disana, ada kampung Arab karena mereka awalnya menyiarkan agama Islam di kawasan Ampel dan juga berdagang lambat laun bermukim di situ (Srengganan),” pungkasnya. (bersambung/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 2 Agustus 2021. Hal. 3

