Mengajak Berguru pada Bumi. Kompas 28 April 2015. Hal.16

Sesuai namanya, Eco Learning Camp atau Rumah Belajar Lingkungan Hidup urusannya berkait dengan lingkunganm pembelajaranm dan ruang belajar. Itu masih ditegaskan dengan slogan “Manusia Berkualitas, Merawat Bumi, Berguru pada Bumi”. Pembelajaran butuh proses, hasilnya baru kelihatan setidaknya satu dekade kemudian.

Oleh St Sularto

            Kricikan jadi grojokan, kecil jadi besar. Itulah tujuan sekaligus target turunan kegiatan yang ditangai St Ferry Sutrisna Wijaya (53) bersama sejumlah keryawan dan tenaga sukarela di Jalan Dago Pakar Barat 3, Bandung.

Berimpitan dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Dago, di lagan dengan kontur miring, dikelilingi berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur, rumah belajar seluas sekitar 6.000 meter persegi itu menciptakan rasa kerasan berlama – lama. Suasana kembali ke alam dan belajar mencintainya di dalam terbuka, tidak hanya tercipta oleh lingkungan sekeliling, tetapi segala sesuatu diarahkan untuk berguru dan berterima kasih pada alam.

Di lokasi ini sejak tahun 2002, dengan Spirit Camp di dalam Tahura, secara bergelombang diselenggarakan pendidikan (pelatihan) secara berkelompok selama beberapa hari. Mereka adalah anak – anak dan remaja dari sejumlah kota. Lokasi ini bebas rokok. Perokok akan dikenai kompensasi 500.000. Bangunan rumah dan ruangan serba hemat energi dan pemanfaatan sinar matahari yang maksimal, penataan taman dan kebun yang menyatu dengan alam. Semua karyawan dan peserta pelatihan hanya disediakan masakan vegertarian.

Suasana hening terasa, apalagi tiap hari pada pukul 12.00 dan 15.00 semua kegiatan, termasuk presentasi dan berbicara dengan tamu, dihentikan, kecuali bernapas. “Sepuluh menit semua kegiatan stop. Kami semua diam, membiarkan suara alam masuk dalam telingan dan perasaan kita,” kata Ferry.

Diilhami Spirit Camp

Eco Learning Camp atau Ecocamp, kata Ferry, diilhami Spirit Camp yang digagas dan dijalankan Shierly Megawati dan kawan –kawan, antara lain Victor Tatuah dan Janto Sulungbudhi, di Ledeng, Bandung, tahun 2002. Shierly–bersama suaminya, Alexander AP Iskandar, dan kedua anak mereka: Maria dan Benedict–adalah pencinta fanatik dunia anak – anak.

Spirit Campt mengusahakan lahan untuk menampung 1.500 anak – anak bermain. Lokasinya berpindah ke lingkungan Tahura, kemudian dilebur–menurut Ferry. Spirit Camp embrio Ecocamp–harus keluar dari hutan Tahura, jadilah Ecocamp sekarang.

Ferry menemukan kegembiraan dengan anak – anak. Selama 10 tahun lebih, Spirit Camp mengusahakan dan menyediakan aktivitas dan fasilitas untuk anak – anak dan remaja. Tujuannya agar mereka dapat bermain di alam terbuka, dan sekarang dilanjutkan Ecocamp.

Pengalamannya bersama Spirit Camp selama 10 tahun dia angkat sebagai bahan penelitian disetasi doktornya di Universitas Pendidikan Bandung. Gelar doktor ilmu pendidikan diraih tahun 2-12 tentang model pendidikan nilai.

“Gagasan rumah belajar ini pun saya peroleh dari pengalaman bersama Spirit Camp,” ujar Ferry.

Pernyataannya diiyakan Shierly Megawati yang sehari – hari sebagai ketua pengurus, sementara Ferry sebagai ketua yayasan pada Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, yayasan yang menaungu kegiatan Ecocamp saat ini. Pendiri yayasan antara lain Popong Otje Djundjunan dan Martha Tilaar.

Di atas lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi itu–terdiri dari 2.500 meter persegi lahan untuk lokasi insfrastruktur dan sarana pendidikan serta 3.500 meter persegi untuk lahan pertanian–sejak masih bernama Spirit Camp sampai April 2015 ini sudah lebih dari 3.000 remaja dan anak – anak belajar. Lahan itu merupakan lahan pinjaman gratis dari seorang dermawan selama 20tahun, serta lahan milik pemerintah yang diizinkan sebagai kegiatan bertani.

Resmi berdiri sejak Januari 2015, kehadiran Ecocamp menancapkan berbagai alternatif segar. Tidak saja pembelajran tentang pendidikan nilai, tetapi juga kehidupan bersama merajut berbagai keragaman msyarakat Indonesia. Rajutan yang menciptakan harmoni dan kebersamaan itu tidak hanya tercermin dalam struktur yayasan, tetapi juga dalam berbagai bentuk kegiatannya.

Alam, budaya, iptek

Ecocamp memperkenalkan model pembelajaran ekologi di luar ruang kelas. Dengan program edukasi, ketika rasa cemas krisis nilai dan lingkungan hidup mendominasi perasaan umum, peserta selama beberapa hari diajak mengembangkan sikap bahwa lingkungan hidup seharusnya didekati dengan harapan yang aktif. Mereka yang pernah belajar di sini, ketika kembali akan menularkan pengalaman dan pengetahuannya dalam lingkungannya. “Menularkan virus positif,” kata Ferry.

Selama beberapa hari, tergantung kelompok usia, peserta anak dan remaja tinggal bersama di asrama. Mereka bermain dan melakukan kegiatan bersama, pembelajaran di ruang terbuka, dimotivasi keyakinan bahwa alam semesta dan bumi dengan segala isinya harus dijaga dan dirawat.

Tujuan akhirnya pengembangan manusia yang berkualitas, yakni yang mampu merawat dan berguru pada bumi. Tiga serangkai dipadukan sebagai tiga pilar pembelajaran: alam, budaya, dan ilmu pengetahuan. Keyakinan perintis Spirit Camp, di antaranya suami –istri Alexander-Shierly, “bermain adalah hak anak – anak”, jadi keyakinan Ferry. Obsesinya, mengajak berguru pada bumi.

Kegiatannya di Ecocamp saat ini adalah tugas perutusannya sebagai pastor. Ditabiskan sebagai romo projo (romo diosesan) atau reverendus dominus (RD–tuan yang terhormat). Keuskupan Bandung tanggal 2 Februaru 1990, setelah berpindah – pindah tugas kegembalaan di sejumlah lembaga pelayanan, kini di Ecocamp Romo Ferrymerasa kembali ke habitat.

Disertasinya di bawah promotor utama Prof Dr A Chaedra Alwaisyah (alm) menyimpulkan bahwa lewat banyak kegiatan permaianan, pendidikan nilai menyimpulkan bahwa lewat banyak kegiatan permainan, pendidikan nilai semakn ideal diberikan sejak usia anak dan remaja.

Ferry, bersama teman – teman dan para ahli di bidang masing – masing yang beragam latar belakang dalam Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, merasa yang meraka lakukan saat ini hanya kricikan. Tetapi meraka yakin akan menjadi grojokan.

Sumber: Kompas. Selasa 28 April 2015. Halaman 16