
“Pembukaan Stasiun Surabaya Kota sekaligus peresmian jalur kereta api pertama rute Surabaya-PasuruanMalang digelar dengan upacara besar yang cukup mewah. Pada bagian peron dan seluruh ruangan stasiun dihias dengan sangat mewah,” Mus Purmadani
PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisvandi Tri Kartika mengatakan, masa itu, pembukaan Stasiun Surabaya Kota atau dikenal dengan Stasiun Semut sudah banyak ditunggu berbagai kalangan. Semua undangan pun menerima cindera mata berupa lukisan kereta api dari Jawatan Perusahaan Kereta Api Negara, Staatspoor-weg (SS). “Pada lukisan itu terdapat tulisan “Ambachten, Welvaart en Handel” atau kerajinan, kesejahteraan dan perdagangan,” ujarnya.
Bahkan dalam buku Oud Soerabaia terbitan Gementee Soerabaia karya sejarawan Belanda, Godfried Hariowald (GH) Von Faber terbitan tahun 1931, disebutkan bahwa sambutan pejabat insinyur kepala jalur Surabaya-Pasuruan Malang yakni HG Derx ditanggapi Gubernur Jenderal Van Langsberge dengan penuh sukacita.
Menurut Chris, gubernur jenderal tersebut menilai pembukaan jalur kereta api tersebut akan membawa Hindia Belanda pada perkembangan masa kejayaan lebih lanjut. Yakni, masa depan Hindia Belanda atau nusantara setelah tersedianya jalur kereta api. “Kami sangat berterima kasih dengan tokoh kereta api negara yang telah membangun perkeretaapian,” kata Chris menirukan sambutan Gubernur Van Langsberge.
Lebih jauh, sejarawan dari Universitas Ciputra Surabaya ini mengatakan bahwa keberadaan jalur kereta api ini tidak lepas dari pengaruh Herman Willem Daendels. Gubernur Jenderal termasyhur yang memerintah Hindia Belanda selama tiga tahun antara 1808-1811 atas penugasan dari Kaisar Napoleon Bonaparte dari Kerajaan Prancis yang menguasai Belanda saat itu.
Daendels ditugaskan oleh Napoleon untuk melindungi tanah jajahan di Hindia, terutama pulau Jawa, sebagai koloni Belanda, dari serbuan tentara Inggris. Daendels lah yang kemudian merintis sejarah pembangunan jaringan jalan di pulau Jawa antara Anyer (Kabupaten Serang, Banten) hingga Panarukan (Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Jaringan jalan yang kemudian dinamakan jalan pos ini mampu menyingkat perjalanan darat dari Batavia ke Soerabia yang semula 40 hari menjadi hanya 7 hari.
“Namun sebelum kedatangan Daendels, sebenarnya sudah ada sebuah jalan dalam kondisi baik yakni jalur Surabaya-Pasuruan yang dibangun oleh Kapten Haselaar,” tuturnya. (bersambung/jay)
Sumber: Radar Surabaya. 22 November 2020. Hal. 3,7
